SERANG – FusilatNews Di tengah pandangan sebagian kalangan yang menganggap Syarikat Islam (SI) sebagai organisasi yang telah mengecil, fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Organisasi yang berakar dari Sarekat Dagang Islam yang lahir pada 16 Oktober 1905 itu dinilai sebagai pelopor kebangkitan organisasi keislaman dan nasionalisme yang mengantarkan bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Kursus Kilat Pemahaman Nilai-Nilai Juang Syarikat Islam yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Syarikat Islam Provinsi Banten pada 31 Mei 2026.
Tokoh Syarikat Islam, Barna Soemantri, menegaskan bahwa peran SI dalam sejarah bangsa tidak dapat dilepaskan dari perjuangan politik rakyat Indonesia sebelum kemerdekaan.
Menurutnya, jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, Syarikat Islam telah menyuarakan tuntutan agar rakyat Nusantara memiliki pemerintahan sendiri atau Zelfbestuur. Tuntutan tersebut disampaikan dalam Kongres Nasional Pertama Syarikat Islam (Natico I) yang berlangsung pada 17–24 Juni 1916 di Gedung Concordia, Bandung, yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka.
“Kongres yang dipimpin HOS Tjokroaminoto itu menuntut kepada Pemerintah Kolonial Belanda agar rakyat Nusantara diberikan hak untuk membentuk pemerintahan sendiri. Tuntutan Zelfbestuur itulah yang menjadi fondasi lahirnya pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan,” ujar Barna.
Ia menjelaskan, para pendiri dan penggerak Syarikat Islam meyakini bahwa cita-cita pemerintahan sendiri pada akhirnya akan terwujud atas izin Allah SWT. Karena itu, pada Kongres Nasional Kedua (Natico II) yang berlangsung di Jakarta pada 20–27 Oktober 1917, SI menetapkan Beginsel Program atau Minhajul Asas serta Program Tandhim sebagai pedoman perjuangan organisasi.
Program tersebut menjadi arah gerak perjuangan Syarikat Islam dalam menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Landasan perjuangannya bertumpu pada tiga prinsip utama, yakni sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan siyasah yang berlandaskan akhlakul karimah.
Adapun Beginsel Program atau Minhajul Asas Syarikat Islam meliputi enam pokok perjuangan, yaitu Persatuan Umat (Ittihadul Ummah), Kemerdekaan Umat (Istiqlalul Ummah), Pemerintahan Kerakyatan (Hukumatur Ra’awiyah), Penghidupan Ekonomi (Iradatul Iqtishad), Persamaan Derajat (Musawatud Darajat), dan Kemerdekaan Sejati (Istiqlalul Haqiqi).
Barna menilai perjuangan bangsa Indonesia pasca-Proklamasi belum sepenuhnya mencapai cita-cita yang dimaksud dalam Program Asas Syarikat Islam.
“Menurut pandangan Syarikat Islam, kemerdekaan yang diraih pada 17 Agustus 1945 baru sampai pada tahap kemerdekaan kebangsaan. Sementara cita-cita menuju kemerdekaan sejati masih menjadi pekerjaan perjuangan yang harus diteruskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Atas dasar itulah DPW Syarikat Islam Banten terus melakukan konsolidasi pemikiran dan kaderisasi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pengkajian sejarah perjuangan SI. Kursus Kilat yang dilaksanakan pada 31 Mei 2026 merupakan kegiatan kedua yang digelar oleh DPW SI Banten dan direncanakan berlangsung secara berkala setiap minggu kelima dalam kalender bulanan.
Kegiatan tersebut dibimbing oleh para senior Syarikat Islam dari tingkat pusat, wilayah, maupun cabang. Melalui forum itu, peserta diajak memahami kembali nilai-nilai dasar perjuangan organisasi yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah kebangkitan bangsa Indonesia.
Bagi Syarikat Islam, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan amanat perjuangan yang harus terus diwariskan agar cita-cita kemerdekaan sejati dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tidak ada komentar