Oleh : Iwan Setiawan, Alumni HI UMY, Aktivis Mapala
Ada satu kesalahan yang sering terjadi dalam memahami politik. Banyak orang berpikir politik adalah tentang menyerang lawan tanpa henti, menghasilkan kritik setiap hari, atau memenangkan perdebatan di media sosial dan grup WhatsApp. Faktanya, politik sesungguhnya lebih mirip dengan permainan sepak bola dibandingkan arena perdebatan.
Dalam sepak bola, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak berteriak, siapa yang paling banyak menggiring bola, atau siapa yang paling banyak menyerang. Kemenangan ditentukan oleh strategi, kedisiplinan, efektivitas dan kemampuan membaca situasi pertandingan.
Simak perjalanan juara Persib Bandung di bawah asuhan pelatih Bojan Hodak. Banyak pengamat menilai permainan Persib tak selalu menyuguhkan sepakbola terindah. Tidak selalu dominan dalam menguasai bola. Tidak selalu menyerang sepanjang pertandingan. Namun, Persib mampu mencapai tujuan terpenting dalam kompetisi tersebut: menjadi juara.
Dalam dunia sepak bola profesional, tidak ada trofi untuk tim yang bermain paling indah. Trofi diberikan kepada tim yang mampu mengumpulkan poin terbanyak dan memenangkan pertandingan.
Politik bekerja dengan logika yang hampir sama.
Banyak orang memahami politik sebagai aktivitas menyerang lawan. Padahal, hakikat politik adalah mencapai tujuan tertentu melalui strategi yang terukur.
Tujuan politik dapat berupa memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, memperjuangkan kebijakan, memenangkan pemilu, atau membangun pengaruh dalam masyarakat.
Oleh karena itu, politik memerlukan perencanaan yang matang.
Politisi yang baik harus tahu kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, kapan harus membangun koalisi, kapan harus diam, dan kapan harus mengambil risiko. Semua keputusan harus diperhitungkan secara rasional.
Dalam sepak bola, tim yang menyerang terus menerus tanpa memperhatikan pertahanan seringkali kalah melalui serangan balik lawan. Begitu pula dalam bidang politik.
Mereka yang menyerang tanpa henti setiap hari seringkali lupa bahwa lawannya juga punya strategi. Lawan juga memiliki sumber daya. Lawan juga membaca setiap gerakan yang dilakukan.
Akibatnya energi terkuras habis sebelum tujuan tercapai.
Pelatih sepak bola profesional tidak pernah mempersiapkan strategi tanpa mempelajari lawannya.
Mereka menganalisis kekuatan dan kelemahan lawan, pola bermain, pemain kunci, dan kebiasaan dalam situasi tertentu.
Politik juga demikian.
Tokoh politik yang sukses selalu mempunyai kemampuan membaca peta kekuasaan. Mereka paham siapa kawan, siapa musuh, siapa yang bisa diajak bekerja sama, dan siapa yang harus dihadapi dengan cara yang berbeda-beda.
Kesalahan yang sering terjadi adalah berasumsi bahwa setiap orang harus diserang.
Namun dalam politik, tidak semua lawan harus dihancurkan. Ada lawan yang suatu saat bisa menjadi mitra. Ada pesaing yang suatu saat bisa menjadi bagian dari koalisi. Ada kelompok yang saat ini mempunyai pandangan yang berbeda namun esok hari dapat menemukan titik temu.
Itu sebabnya politik memerlukan kecerdasan strategis, bukan sekedar keberanian berbicara.
Sepak bola modern bukan hanya tentang pemain yang berlari di lapangan.
Di belakang sebuah tim terdapat sistem logistik yang besar. Ada manajemen, fasilitas pelatihan, nutrisi, kesehatan pemain, transportasi, dan dukungan finansial.
Tanpa logistik yang kuat, sulit bagi sebuah tim untuk bersaing dalam kompetisi yang panjang.
Politik juga memiliki logika yang sama.
Aktivitas politik memerlukan sumber daya. Membangun jaringan memerlukan biaya. Memindahkan suatu organisasi memerlukan dukungan. Menjalankan kampanye memerlukan usaha dan waktu.
Oleh karena itu, politisi yang sukses biasanya memahami pentingnya membangun landasan ekonomi dan organisasi yang kuat.
Mereka menyadari bahwa semangat tanpa sumber daya hanya akan bertahan sesaat.
Di era digital, banyak masyarakat yang sangat aktif mengikuti perkembangan politik.
Setiap hari mereka membaca berita politik, membagikan link berita, berkomentar panjang lebar dan berdebat di grup WhatsApp dari pagi hingga malam.
Tidak ada salahnya mengikuti politik. Padahal, masyarakat yang peduli terhadap politik merupakan tanda demokrasi yang hidup.
Namun permasalahan muncul ketika kegiatan tersebut tidak memiliki tujuan yang jelas.
Berjam-jam dihabiskan untuk berdebat. Puluhan pesan dikirim setiap hari. Terkuras secara emosional. Persahabatan menjadi tegang. Waktu produktif berkurang.
Pada akhirnya tidak ada hasil nyata yang didapat. Tidak ada organisasi yang dibangun. Tidak ada bisnis yang berkembang. Tidak ada peningkatan kesejahteraan keluarga. Tidak ada keterampilan baru yang dikuasai.
Yang tersisa hanyalah kepuasan sesaat karena merasa menang dalam perdebatan tersebut.
Namun, menang dalam suatu diskusi tidak serta merta mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
Bagi masyarakat awam, kehidupan sehari-hari harus tetap berjalan. Anak-anak memerlukan biaya sekolah. Keluarga membutuhkan penghidupan. Bisnis memerlukan perhatian. Pekerjaan itu memerlukan profesionalisme.
Oleh karena itu, energi yang Anda miliki harus dikelola dengan bijak.
Mengikuti politik tidak masalah.
Memiliki pandangan politik juga penting.
Namun jangan sampai seluruh energi Anda terbuang untuk berjuang yang tidak memberikan manfaat langsung bagi kehidupan.
Banyak orang yang terjebak sebagai “pemain cadangan” dalam konflik politik orang lain. Mereka berjuang mati-matian untuk mempertahankan karakter tertentu, sedangkan karakter yang mereka bela tetap nyaman dengan kehidupannya.
Ketika perdebatan selesai, para elite politik bisa berdamai dan bekerja sama. Namun pendukung di bawah masih memendam kemarahan dan permusuhan.
Situasi seperti ini sering terjadi dalam kehidupan politik modern.
Ada kelompok lain yang sebenarnya berkecimpung di dunia politik. Mereka adalah politisi senior, mantan pejabat, atau tokoh ekonomi mapan.
Bagi mereka, politik adalah bagian dari aktivitas sehari-hari.
Mereka mempunyai waktu, jaringan, pengalaman dan sumber daya untuk terus terlibat dalam berbagai dinamika politik.
Ketika mereka setiap hari mengkritik, menyerang, atau mengomentari isu politik, itu adalah bagian dari posisi dan peran yang mereka emban.
Namun masyarakat awam perlu memahami konteks ini.
Tidak semua orang mempunyai kepentingan politik yang sama.
Tidak semua orang mendapat manfaat langsung dari pertarungan politik yang terjadi setiap hari.
Oleh karena itu, diperlukan kearifan untuk membedakan mana keterlibatan politik yang produktif dan mana yang hanya menguras energi.
Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan datang dari strategi, bukan emosi.
Politik juga demikian.
Mereka yang sukses dalam politik bukanlah mereka yang paling banyak berteriak atau paling sering menyerang lawannya. Mereka adalah orang-orang yang memahami tujuan, menyusun strategi, mengelola sumber daya, membaca situasi, dan memilih momentum yang tepat.
Masyarakat juga dapat mengambil pelajaran yang sama.
Ikuti politik dengan akal sehat. Memahami informasi secara kritis. Jangan mudah terbawa emosi.
Jangan menghabiskan seluruh waktu Anda pada argumen yang tidak mengarah pada apa pun.
Karena pada akhirnya, politik adalah alat untuk mencapai tujuan. Sebagaimana sepak bola bertujuan untuk memenangkan pertandingan, politik bertujuan untuk menghasilkan pengaruh dan kekuasaan untuk mewujudkan agenda tertentu.
Jika tenaga, waktu, dan pikiran hanya dihabiskan untuk menyerang tanpa arah, maka hasilnya seperti tim yang terus menekan lawan namun lupa mencetak gol.
Permainan telah usai, energinya habis, namun papan skor tidak berubah. Dan dalam politik dan sepak bola, yang diingat sejarah bukanlah siapa yang paling banyak berteriak, melainkan siapa yang berhasil mencapai tujuan.
Tidak ada komentar