Ada api yang menyala terang dan mudah dilihat. Tetapi ada pula api yang tidak banyak terlihat—ia membara perlahan di dalam tanah, menyusup melalui akar dan lapisan gambut, lalu mengeluarkan asap beracun ke udara.
Api semacam itulah yang kini menjadi salah satu wajah paling mengkhawatirkan dari musim kemarau Indonesia.
Indonesia sedang menghadapi musim kering yang tidak biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño pada 2026 berada pada intensitas sangat kuat. Sejumlah wilayah juga menghadapi kekeringan meteorologis dan risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat. (BMKG)
Di atas peta, semua itu mungkin hanya terlihat sebagai titik-titik merah.
Tetapi bagi manusia yang tinggal di sekitarnya, titik merah itu bisa berarti rumah yang terbakar, udara yang tidak lagi layak dihirup, anak-anak yang batuk, sekolah yang ditutup, lahan pertanian yang kehilangan produktivitas, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Karhutla sering kali dibicarakan sebagai persoalan lingkungan.
Padahal, ketika api mendekati permukiman, ia berubah menjadi persoalan kemanusiaan.
Rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran menghadapi ancaman langsung. Angin dapat membawa api dari semak dan lahan terbuka menuju permukiman. Dalam kondisi sangat kering, api menjadi jauh lebih mudah menyebar dan lebih sulit dikendalikan. BNPB sendiri mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan karena dalam kondisi kering api dapat dengan mudah meluas. (BNPB)
Dan ketika rumah terbakar, persoalannya bukan sekadar kehilangan bangunan.
Di dalam sebuah rumah terdapat kehidupan: pakaian, dokumen, buku sekolah anak, perabot, kenangan keluarga, bahkan mungkin seluruh tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.
Kebakaran hutan pada akhirnya dapat berubah menjadi kebakaran kehidupan.
Namun ada bahaya lain yang sering kali lebih sunyi.
Asap.
Ia tidak perlu membakar rumah untuk menghancurkan kehidupan. Cukup dengan masuk melalui jendela, ventilasi, ruang kelas, pasar, kendaraan, dan setiap tarikan napas manusia.
Inilah yang membuat kebakaran gambut sangat berbahaya. Gambut dapat terbakar dan terus membara di bawah permukaan, sehingga api sulit dipadamkan dan asap dapat bertahan dalam waktu lama. Reuters melaporkan kebakaran di Indonesia pada 2026 telah menghasilkan lonjakan emisi dan kawasan gambut menjadi salah satu titik paling sulit dalam pengendalian api. (Reuters)
Dampaknya terhadap kesehatan tidak abstrak.
Di Aceh Barat, misalnya, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Samatiga meningkat dari 60 kasus pada Juni menjadi 99 kasus pada Juli dan 125 kasus pada Agustus 2026, di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan.
Di sini kita melihat hubungan yang sangat jelas:
hutan terbakar → udara memburuk → manusia menghirup asap → kesehatan terganggu.
Tetapi yang paling rentan biasanya bukan mereka yang memiliki banyak pilihan untuk menghindari asap. Anak-anak, lansia, pekerja lapangan, masyarakat berpenghasilan rendah, dan mereka yang tinggal dekat dengan kawasan kebakaran justru harus menghadapi udara buruk sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Krisis asap juga mengambil sesuatu yang sering tidak dihitung sebagai kerugian ekonomi: masa depan anak-anak.
Kualitas udara yang buruk dapat memaksa sekolah menghentikan kegiatan tatap muka. Dalam perkembangan terbaru, kualitas udara akibat karhutla bahkan dilaporkan membuat sekitar 1,43 juta siswa di enam provinsi beralih ke pembelajaran daring selama 31 Agustus–4 September 2026.
Anak-anak yang seharusnya berangkat membawa tas sekolah justru harus belajar dari rumah.
Mereka tidak melihat hutan sebagai persoalan statistik.
Mereka melihatnya sebagai langit yang berubah kelabu.
Sebagai bau asap yang masuk ke kamar.
Sebagai sekolah yang tiba-tiba ditutup.
Sebagai orang tua yang mulai khawatir ketika mereka batuk.
Yang membuat keadaan semakin serius adalah hubungan antara kekeringan dan kebakaran.
Tanah yang kehilangan kelembapan menjadi bahan bakar. Vegetasi mengering. Lahan gambut kehilangan kandungan airnya. Api menjadi lebih mudah menyebar. Pada saat yang sama, air untuk pemadaman justru semakin sulit diperoleh.
Krisis kemudian membentuk sebuah lingkaran:
kekeringan → lahan mengering → kebakaran meningkat → asap menyebar → kesehatan terganggu → aktivitas masyarakat terganggu → kerugian ekonomi meningkat.
Dan lingkaran itu tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.
Hutan membutuhkan waktu untuk pulih. Gambut yang rusak membutuhkan waktu lebih panjang. Masyarakat membutuhkan waktu untuk kembali membangun rumah dan kehidupan. Tubuh manusia pun tidak serta-merta pulih dari paparan polusi.
Karhutla tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai persoalan pemadaman.
Ketika api sudah besar, sebenarnya kita telah terlambat.
Yang diperlukan adalah pencegahan sejak tanah masih basah, kanal dan lahan gambut masih dapat dikelola, titik api masih kecil, dan masyarakat masih dapat bergerak sebelum api mencapai permukiman.
Pemerintah memang telah menjalankan berbagai operasi modifikasi cuaca, termasuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla di sejumlah provinsi. (BMKG) Namun skala persoalannya membutuhkan pendekatan yang lebih luas: pengawasan lahan, pencegahan pembakaran, restorasi gambut, kesiapan pemadam di tingkat desa, perlindungan kesehatan masyarakat, serta sistem peringatan dini yang benar-benar sampai kepada warga.
Sebab kebakaran bukan hanya urusan pemadam kebakaran.
Ia adalah urusan kesehatan, pendidikan, ekonomi, perumahan, lingkungan, dan keselamatan manusia.
Indonesia tidak boleh membiasakan diri melihat asap sebagai pemandangan musiman.
Kita juga tidak boleh menganggap ISPA sebagai konsekuensi biasa dari kemarau.
Dan kita tidak boleh menunggu rumah penduduk terbakar untuk menyadari bahwa kebakaran hutan telah menjadi bencana sosial.
Di balik setiap titik panas pada citra satelit, ada kemungkinan sebuah ekosistem sedang kehilangan kehidupan.
Di balik setiap kepulan asap, ada paru-paru manusia yang sedang dipaksa bekerja lebih keras.
Dan di balik setiap rumah yang terbakar, ada sebuah keluarga yang mungkin kehilangan tempat untuk pulang.
Hutan mungkin terbakar jauh dari kota. Tetapi akibatnya tidak pernah benar-benar jauh dari manusia.
Karena itu, persoalan karhutla Indonesia hari ini bukan sekadar bagaimana memadamkan api.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
mengapa kita terus membiarkan kondisi yang memungkinkan api itu lahir?
Sebab sebuah bangsa yang serius menjaga masa depannya tidak hanya memadamkan kebakaran ketika api sudah membesar.
Ia belajar mencegah bara sebelum menjadi bencana.
Tidak ada komentar