xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Ijazah Itu Milik Banyak Orang: Ketika Perjuangan Kuliah Seorang Disabilitas Menjadi Perjuangan Sebuah Keluarga

waktu baca 6 menit
Kamis, 3 Sep 2026 19:33 6 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Makassar —FusilatNews, Sebuah ijazah sering kali hanya mencantumkan satu nama. Satu nama yang kemudian ditulis dengan gelar di belakangnya. Namun, di balik selembar ijazah, hampir selalu ada cerita panjang tentang orang-orang yang namanya tidak pernah tercetak di sana.

Begitulah kisah Firdaus.

Pada Kamis, 26 Rajab 1447 Hijriah atau 15 Januari 2026, Firdaus dinyatakan sarjana oleh Dekan FKIPS Universitas Islam Makassar (UIM). Ia merupakan mahasiswa disabilitas netra dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Sastra UIM.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Bagi Firdaus, pencapaian itu tentu merupakan sebuah kebanggaan. Tetapi, keberhasilan tersebut sesungguhnya bukan hanya milik seorang sarjana. Di baliknya terdapat perjalanan panjang sebuah keluarga yang sejak Firdaus masih berusia enam tahun telah mempertaruhkan tenaga, pikiran, waktu, perasaan, bahkan sebagian hidup mereka agar seorang anak tunanetra tetap mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Sebab, terkadang yang paling berat dari sebuah perjuangan bukanlah mencapai garis akhir, melainkan memastikan seseorang tidak berhenti di tengah jalan.

Pada 2002, ketika Firdaus masih berusia enam tahun, ibunya meninggal dunia. Ayahnya kemudian menikah lagi. Dalam situasi tersebut, saudara-saudara Firdaus mengambil keputusan penting: membawa Firdaus ke Makassar.

Keputusan itu bukan perkara sederhana.

Mereka harus memikirkan bagaimana seorang anak dengan disabilitas netra dapat memperoleh pendidikan yang layak. Mereka harus mencari sekolah, mendampingi proses belajar, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa fasilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas tidak selalu tersedia sebagaimana yang dibutuhkan.

Husniati, salah seorang saudara Firdaus, bersama suaminya kemudian berjuang mencarikan sekolah bagi sang adik.

Saat itu saya dan suami saya berjuang di Makassar untuk mencarikan sekolah luar biasa Firdaus,” tuturnya.

Sekolah akhirnya ditemukan di kawasan Perumnas Sudiang, Makassar. Tetapi persoalan belum selesai. Di sekolah tersebut, siswa dengan berbagai jenis disabilitas belajar bersama, mulai dari disabilitas netra, daksa, grahita dan lainnya.

Di tengah keterbatasan itu, muncul persoalan sekaligus peluang baru.

Mardiana, salah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut, melihat ada potensi dalam diri Firdaus. Ia kemudian menyarankan agar Firdaus dipindahkan ke SLB A YAPTI.

Semoga dengan pindahnya Firdaus di SLB A YAPTI bisa mengasah potensi dan bakatnya kelak,” ujar Mardiana.

Nasihat seorang guru akhirnya menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pendidikan Firdaus.

Namun perjuangan keluarga kembali diuji.

Pada 2008, ketika Firdaus berusia sembilan tahun, ia harus melanjutkan pendidikan di sekolah lain yang mewajibkan siswanya tinggal di asrama. Bagi Husniati, keputusan itu tidak mudah.

Ia seorang kakak. Firdaus adalah adiknya. Dan bagi seorang kakak, melepas seorang anak yang masih kecil untuk tinggal jauh dari keluarga bukan perkara administratif semata. Ada kecemasan, ada rasa takut, dan ada pertanyaan yang terus berputar: apakah adiknya mampu bertahan dan mengurus dirinya sendiri?

Saya tidak tega kalau adikku tinggal di SLB, apalagi dia masih kecil. Dia juga belum bisa mandiri,” kata Husniati.

Tetapi hidup kadang memaksa keluarga mengambil keputusan yang tidak ingin mereka ambil.

Dengan berbagai pertimbangan dan dorongan dari Mardiana, akhirnya Husniati membawa Firdaus ke SLB A YAPTI.

Dari sinilah perjalanan panjang itu berlanjut.

Hari demi hari, tahun demi tahun, Firdaus tumbuh. Ia belajar bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga belajar menjadi manusia yang mandiri. Dari sekolah ia melangkah ke perguruan tinggi. Dari seorang anak yang dahulu bahkan membuat kakaknya berat hati untuk melepasnya ke asrama, Firdaus kemudian menjadi seorang mahasiswa dan akhirnya seorang sarjana.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, dalam acara wisuda Universitas Islam Makassar di Hotel Dalton Makassar, Firdaus secara resmi mengenakan gelar sarjana.

Gelar itu akhirnya tiba. Tetapi sesungguhnya perjuangan tidak berakhir bersama wisuda.

Justru wisuda adalah pintu masuk menuju kehidupan yang jauh lebih luas: dunia kerja, masyarakat, kompetisi, dan tuntutan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Firdaus sendiri telah menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk berkarya.

Ia aktif sebagai humas Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Makassar sejak 2025 hingga sekarang. Ia juga aktif sebagai humas Persatuan Tunanetra Indonesia sejak 2023 hingga sekarang. Selain itu, ia pernah menjalankan tugas di Divisi Kekaryaan FLP Ranting UNM pada 2023–2024 dan menjadi jurnalis di salah satu media online sejak 2023 hingga sekarang.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bagi penyandang disabilitas bukan sekadar persoalan mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah jalan untuk membangun kepercayaan diri, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.

Di titik ini, kisah Firdaus menjadi lebih besar daripada kisah seorang mahasiswa disabilitas yang berhasil menyelesaikan kuliah.

Ini adalah kisah tentang keluarga yang memilih untuk tidak menyerah.

Keluarga yang tidak menjadikan disabilitas sebagai alasan untuk menghentikan masa depan seorang anak.

Keluarga yang memilih mencari sekolah ketika sekolah sulit ditemukan. Keluarga yang bersedia mendampingi ketika keadaan tidak mudah. Keluarga yang harus belajar memahami bahwa membantu seseorang bukan berarti selamanya memegang tangannya, tetapi juga mempersiapkannya agar suatu hari mampu berjalan sendiri.

Husniati mengatakan, keluarganya terdiri dari sepuluh bersaudara dan Firdaus merupakan anak terakhir.

Namun, dalam keluarga tersebut, Firdaus tidak diperlakukan sebagai seseorang yang harus dikasihani karena disabilitasnya.

Kami bersaudara 10 orang dan Firdaus anak terakhir. Dia juga disabilitas netra, namun kami tidak memandang kedisabilitasannya. Yang penting Firdaus mau sekolah dan belajar. Rezeki itu kita tidak tahu. Yang penting kita usaha, berikhtiar, tawakal, berserah diri kepada Allah,” jelas Husniati.

Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung filosofi pendidikan yang sangat dalam.

Jangan wariskan rasa kasihan kepada anak. Wariskan kesempatan.

Sebab rasa kasihan hanya membuat seseorang merasa berbeda. Sementara kesempatan membuat seseorang merasa dipercaya.

Firdaus tidak sampai pada hari wisudanya seorang diri. Ada keluarga yang membuka jalan. Ada guru yang melihat potensinya. Ada relawan yang memberikan dukungan. Ada organisasi disabilitas yang menjadi ruang perjuangan. Ada rekan-rekan jurnalis yang mengabadikan perjalanan hidupnya.

Dan tentu saja ada Firdaus sendiri—yang memilih terus berjalan.

Karena itu, ketika toga dikenakan dan nama Firdaus dipanggil sebagai sarjana, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya keberhasilan seorang mahasiswa.

Yang sedang dirayakan adalah kemenangan sebuah keluarga atas keadaan.

Kemenangan atas keterbatasan ekonomi, fasilitas, rasa takut, keraguan dan stigma.

Sebab sering kali masyarakat hanya melihat seseorang ketika ia telah berdiri di atas podium menerima ijazah. Kita melihat toga, tetapi tidak melihat air mata. Kita melihat gelar, tetapi tidak melihat perjalanan. Kita melihat keberhasilan, tetapi lupa bertanya siapa saja yang ikut berkorban agar keberhasilan itu menjadi kenyataan.

Firdaus kini telah sampai di satu titik.

Namun bagi keluarganya, perjalanan belum selesai.

Husniati berharap Firdaus dapat menjadi pribadi yang lebih baik, semakin mandiri, dan mampu bersaing dengan teman-teman non-disabilitas.

Harapan itu bukan tuntutan agar Firdaus menjadi sama dengan orang lain.

Harapan itu adalah agar masyarakat memberikan ruang yang sama kepadanya.

Karena pada akhirnya, ukuran seseorang bukan terletak pada apakah ia dapat melihat dengan mata, berjalan dengan kaki, atau mendengar dengan telinga.

Ukuran manusia adalah seberapa jauh ia mampu menggunakan apa yang diberikan Tuhan kepadanya untuk memberi arti bagi kehidupan.

Dan di balik gelar sarjana Firdaus, ada sepuluh saudara yang pernah memilih untuk tidak menyerah kepada keadaan.

Mungkin nama mereka tidak tertulis di ijazah.

Tetapi tanpa perjuangan mereka, mungkin ijazah itu tidak pernah ada.

Maka, ijazah Firdaus bukan hanya selembar kertas yang menandai berakhirnya masa kuliah. Ia adalah arsip perjuangan sebuah keluarga—tentang cinta yang bekerja dalam diam, tentang pengorbanan yang tidak meminta tepuk tangan, dan tentang keyakinan bahwa setiap anak, bagaimanapun keadaannya, berhak mempunyai masa depan.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg