Hikarigaoka, Jepang.Pagi ini saya berkunjung ke rumah seorang sahabat, Shigen Ogasawara, di Hikarigaoka, Tokyo. Seperti biasa, obrolan kami mengalir dari satu topik ke topik lain. Dari urusan keluarga, budaya, hingga pengalaman hidup yang telah dilalui selama puluhan tahun. Namun di tengah percakapan itu, saya mendapatkan sebuah kisah yang membuat hati saya terenyuh sekaligus sedih.
Sahabat saya bercerita bahwa sekitar 30 tahun lalu, ia pernah datang ke Jakarta sebagai salah seorang peserta kegiatan bakti penanaman mangrove di kawasan Belahan Kapuk. Saat itu, bersama sejumlah relawan lainnya, ia ikut menanam pohon bakau untuk membantu menjaga ekosistem pesisir Jakarta. Tujuannya sederhana namun mulia: menyelamatkan lingkungan, mencegah abrasi, dan menjaga habitat berbagai biota laut, termasuk udang yang menjadi bagian penting dari rantai kehidupan di kawasan tersebut.
Saya terdiam mendengarnya.
Betapa ironis. Tiga puluh tahun lalu, seorang warga Jepang rela menempuh ribuan kilometer untuk membantu menyelamatkan hutan bakau di negeri kita. Mereka memahami bahwa alam bukan sekadar sumber keuntungan ekonomi, melainkan titipan yang harus dirawat demi generasi mendatang. Mereka datang tanpa kepentingan politik, tanpa ambisi bisnis, tanpa harapan memperoleh keuntungan pribadi. Mereka datang karena sadar bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Namun apa yang terjadi hari ini?
Kawasan mangrove yang dahulu ditanam dengan penuh harapan justru menghadapi ancaman serius. Lahan-lahan pesisir yang seharusnya menjadi benteng alami Jakarta perlahan berubah fungsi. Hutan bakau yang menjadi rumah bagi ikan, kepiting, burung, dan udang kini terdesak oleh pembangunan yang mengutamakan keuntungan jangka pendek. Sebagian kawasan bahkan terancam berubah menjadi deretan vila mewah dan properti eksklusif yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang.
Pertanyaannya sederhana: untuk siapa pembangunan itu dilakukan?
Jika hutan mangrove hilang, bukan hanya pohon yang lenyap. Bersamanya akan hilang fungsi ekologis yang sangat vital. Mangrove adalah pelindung alami dari abrasi dan banjir rob. Ia menjadi tempat pembesaran berbagai jenis ikan dan udang yang menopang kehidupan nelayan. Ia juga menjadi penyerap karbon yang efektif dalam menghadapi perubahan iklim.
Ketika mangrove ditebang, kerugian yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga diwariskan kepada anak cucu kita.
Yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa kesadaran menjaga lingkungan justru terkadang datang dari orang-orang yang tinggal jauh dari negeri ini. Mereka memahami nilai sebuah pohon bakau, sementara sebagian dari kita hanya melihat nilai jual tanah yang berdiri di atasnya.
Kisah sahabat saya di Tokyo pagi ini mengingatkan bahwa cinta terhadap lingkungan tidak mengenal batas negara. Seorang Jepang bisa mencintai mangrove Jakarta. Sebaliknya, kita yang lahir dan besar di negeri ini seharusnya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk menjaganya.
Jangan sampai sejarah mencatat bahwa orang asing pernah datang menanam bakau untuk masa depan Indonesia, sementara generasi kita justru sibuk mengubahnya menjadi kawasan mewah yang menguntungkan segelintir orang.
Sebab ketika pohon terakhir ditebang dan habitat terakhir hilang, kita akan menyadari bahwa keuntungan ekonomi sesaat tidak pernah mampu menggantikan kerugian ekologis yang berlangsung sepanjang zaman.
Tidak ada komentar