xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Dari Medan Perang ke Meja Kehormatan

waktu baca 5 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 10:47 13 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sebuah medali ketika Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta menyematkan Order of Timor-Leste kepada Dino Patti Djalal di Dili.

Sebab medali itu bukan hanya benda yang melekat di dada seseorang.

Ia seperti sebuah tanda bahwa sejarah, betapapun pahitnya, ternyata tidak selalu harus berakhir dengan kebencian.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Dino Patti Djalal menerima salah satu penghargaan tertinggi Timor-Leste itu sebagai pengakuan atas visi dan kepemimpinannya, dedikasinya pada diplomasi, serta komitmennya yang teguh dalam mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste.

Ia kemudian mengatakan bahwa penghargaan tersebut ia persembahkan bersama para sahabatnya di Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Di situlah saya melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada seremoni.

Ada bangsa-bangsa yang memilih hidup dengan masa lalu. Ada pula bangsa-bangsa yang memilih belajar dari masa lalu.

Timor-Leste dan Indonesia pernah melewati sejarah yang tidak sederhana. Konflik, pendudukan, kekerasan, perlawanan, kehilangan, dan akhirnya referendum 1999 meninggalkan luka yang tidak mungkin dihapus hanya dengan sebuah perjanjian diplomatik.

Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa dua bangsa tidak harus menjadi tawanan dari sejarahnya sendiri.

Dan mungkin di sinilah makna terdalam dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Xanana Gusmão.

Mereka pernah berada di dua sisi sejarah

Xanana Gusmão bukan sekadar seorang perdana menteri.

Ia adalah simbol perjuangan kemerdekaan Timor-Leste dan pernah menjadi pemimpin FALINTIL, gerakan bersenjata yang berhadapan dengan aparat keamanan Indonesia.

Sementara Prabowo Subianto adalah seorang perwira TNI yang karier militernya pernah bersentuhan dengan operasi di Timor Timur.

Karena itu, ketika hari ini keduanya duduk dalam satu ruang, berbicara sebagai pemimpin pemerintahan yang berdaulat, ada sebuah ironi sejarah yang tidak kecil.

Orang-orang yang dahulu berada di sisi berbeda dari konflik kini berbicara mengenai masa depan bersama.

Ini bukan berarti sejarah harus diputihkan.

Bukan berarti luka harus dihapus dari ingatan pula.

Justru sebaliknya.

Rekonsiliasi yang dewasa membutuhkan kemampuan untuk mengingat tanpa terus-menerus hidup dalam dendam.

Itulah barangkali salah satu pelajaran paling mahal dari hubungan Indonesia–Timor-Leste.

Diplomasi bukan sekadar berjabat tangan

Sering kali kita memahami diplomasi secara terlalu sederhana.

Seolah-olah diplomasi hanyalah tentang presiden bertemu presiden, menteri bertemu menteri, menandatangani dokumen, lalu berfoto bersama.

Padahal diplomasi yang paling penting justru bekerja jauh di bawah panggung.

Ia bekerja pada ingatan.

Pada persepsi.

Pada rasa saling percaya.

Keberanian untuk mengatakan kepada generasi berikutnya bahwa musuh kemarin tidak harus menjadi musuh selamanya.

Dino Patti Djalal memahami wilayah itu.

Ia tidak sekadar berbicara mengenai hubungan Indonesia–Timor-Leste sebagai hubungan dua negara. Ia ikut membawa gagasan bahwa rekonsiliasi dapat menjadi sebuah cerita yang perlu diwariskan.

Pada 2024, misalnya, Dino terlibat dalam proyek dokumenter mengenai rekonsiliasi Indonesia–Timor-Leste yang menempatkan Xanana Gusmão, José Ramos-Horta dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam satu narasi sejarah rekonsiliasi.

Dan pada 2025, Ramos-Horta bahkan hadir dalam pemutaran dokumenter karya Dino mengenai proses rekonsiliasi di Aceh—sebuah tanda bahwa gagasan tentang perdamaian telah bergerak melampaui batas Indonesia dan Timor-Leste.

Di sini diplomasi menjadi lebih manusiawi.

Bukan lagi sekadar diplomasi negara.

Melainkan diplomasi ingatan dan kemanusiaan.

Dari Xanana sampai Prabowo

Ada sebuah paradoks yang menarik.

Xanana dan Prabowo tidak harus memiliki tafsir yang sama terhadap masa lalu untuk dapat bekerja sama pada masa depan.

Itulah kedewasaan politik.

Kita tidak harus sepakat tentang seluruh masa lalu untuk membangun masa depan bersama.

Dan justru karena sejarah mereka berat, pertemuan keduanya menjadi jauh lebih bermakna dibandingkan dengan pertemuan dua pemimpin yang tidak memiliki sejarah konflik.

Ketika Prabowo bertemu Xanana, yang bertemu sebenarnya bukan hanya dua orang.

Yang bertemu adalah dua sejarah.

Sejarah Indonesia yang pernah mempertahankan Timor Timur sebagai bagian wilayahnya.

Dan sejarah Timor-Leste yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Dulu ada senjata.

Sekarang ada meja diplomasi.

Dulu ada perbatasan yang dipertahankan.

Sekarang ada perbatasan yang dibuka untuk perdagangan, pendidikan, kebudayaan dan kerja sama.

Dan hari ini Timor-Leste bahkan telah menjadi anggota ke-11 ASEAN—sebuah perkembangan yang oleh Dino disebut sebagai bukti kedewasaan diplomasi Indonesia, karena Indonesia justru menjadi salah satu negara yang paling aktif mendukung aksesi Timor-Leste.

Medali itu sesungguhnya bukan tentang Dino

Karena itu, saya kira ada cara lain membaca medali yang diterima Dino Patti Djalal.

Medali itu bukan semata-mata penghargaan kepada seorang diplomat.

Ia adalah penghargaan kepada sebuah gagasan.

Bahwa hubungan antarbangsa tidak selamanya harus dibangun di atas kemenangan dan kekalahan.

Ada saat ketika sejarah harus berhenti menghitung siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Lalu mulai bertanya:

Apa yang dapat kita bangun bersama setelah semuanya selesai?

Mungkin itulah mengapa penghargaan dari Timor-Leste ini terasa lebih penting daripada sekadar sebuah kehormatan pribadi.

Sebab ia datang dari sebuah bangsa yang pernah memiliki sejarah konflik yang sangat berat dengan Indonesia.

Dan diberikan kepada seorang Indonesia karena dianggap ikut memperkuat jembatan di antara keduanya.

Betapa indahnya sejarah ketika ia akhirnya menghasilkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang yang hidup di masa konflik:

seorang Indonesia menerima penghargaan tertinggi dari Timor-Leste, sementara pemimpin Timor-Leste dan pemimpin Indonesia duduk bersama membicarakan masa depan.

Itulah transformasi sejarah.

Bangsa dewasa bukan bangsa yang tidak pernah berkonflik

Bangsa dewasa bukan bangsa yang tidak memiliki masa lalu yang kelam.

Bangsa dewasa adalah bangsa yang mampu mengolah masa lalunya menjadi kebijaksanaan.

Indonesia dan Timor-Leste mungkin tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi.

Tetapi keduanya dapat memilih apa yang akan dilakukan setelahnya.

Dan pilihan itu tampaknya semakin jelas:

Dari konflik menuju rekonsiliasi.

Dari rekonsiliasi menuju kerja sama.

Dari kerja sama menuju persahabatan.

Dan akhirnya, dari persahabatan menuju sebuah kesadaran bahwa masa depan tidak boleh terus-menerus menjadi sandera masa lalu.

Maka, ketika Dino Patti Djalal berdiri di hadapan José Ramos-Horta dan menerima Order of Timor-Leste, saya melihat bukan hanya seorang Indonesia yang sedang menerima medali.

Saya melihat sebuah babak sejarah yang sedang memberikan penghormatan kepada diplomasi sebagai jalan keluar dari permusuhan.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna terdalam diplomasi:

bukan membuat kita lupa siapa musuh kita dahulu, tetapi membuat kita mampu melihat manusia di seberang kita sebagai sahabat hari ini.

Dari medan perang ke meja kehormatan.

Dari luka ke rekonsiliasi.

Dari masa lalu ke masa depan.

Itulah barangkali salah satu bentuk paling tinggi dari kedewasaan sebuah bangsa.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg