JAKARTA — FusilatNews-– Di tengah berbagai persoalan sosial yang masih menjadi perhatian publik, masyarakat di Jakarta Barat mendapatkan ruang hiburan melalui lomba seni dan kreativitas di Cafe Teras Mangga, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan yang digelar Noor Entertainment Production tersebut menghadirkan 125 peserta dari berbagai usia, mulai dari anak sekolah dasar hingga orang tua. Mereka berkompetisi dalam sejumlah kategori, antara lain menyanyi, tari, dan busana.
Acara yang digelar seusai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu diprakarsai oleh Bunda Noerfaizah B.Sc. alias Bunda Neni. Kegiatan tersebut disebut lahir dari pengalaman penyelenggara dalam mengikuti berbagai perlombaan seni sekaligus keinginan untuk menyediakan hiburan yang dapat diikuti masyarakat umum.
“Ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk tampil, berani, dan menunjukkan bakatnya,” demikian semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut.
Para peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp125.000 dan mendapatkan makanan dari panitia. Peserta kemudian dipanggil satu per satu berdasarkan nomor dada untuk menunjukkan kemampuan mereka di atas panggung.
Dewan juri yang bertugas terdiri atas Boris, Ika Nurlela, Candra, dan Arsun. Penilaian mencakup teknik vokal, penampilan, penguasaan lirik dan musik, serta keberanian peserta saat tampil.
Tidak hanya untuk peserta berpengalaman, lomba juga memberikan kesempatan kepada peserta pemula untuk tampil bersama peserta yang sudah mahir.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Wulan Widy Cahyani, 12 tahun, siswi kelas V SDN Marga Jaya. Wulan, yang lahir di Bogor dan kini tinggal di kawasan Rangkasbitung, Lebak, mengikuti kategori menyanyi.
Menurut keterangan yang disampaikan dalam acara, Wulan sebelumnya telah mengikuti sejumlah perlombaan dan pernah meraih juara dalam kegiatan menyanyi yang digelar dalam rangka peringatan 17 Agustus, Milad TNI, serta kegiatan seni di wilayah Lebak dan Serang.
Bakat Wulan mendapat dukungan dari ibunya, Yeni, yang aktif mendampingi putrinya mengembangkan kemampuan bernyanyi.
Sebelum perlombaan dimulai, suasana acara dibuka dengan pertunjukan angklung yang dimainkan oleh sekitar 35 perempuan lanjut usia. Mengenakan kebaya kuning, mereka membawakan lagu “Terajana” dan “Jali-Jali”.
Pertunjukan tersebut melibatkan Sanggar Suluk Nusantara dan Sanggar Taman Mini yang dipimpin Ibu Wiwoho.
Sanggar tersebut juga menjadi ruang pembelajaran seni bagi masyarakat, mulai dari karawitan, tari, hingga keroncong. Para peserta latihan berasal dari berbagai kelompok usia.
Sementara itu, acara lomba dipandu MC Giivano. Selain para peserta dan keluarga, kegiatan turut dihadiri oleh perwakilan PADMI serta bintang tamu Kak Oki.
Oki juga menyumbangkan lagu sebagai bentuk apresiasi kepada Melinda Fortuna, pemilik Cafe Teras Mangga.
Pelaksanaan kegiatan sempat mengalami sejumlah kendala teknis. Di antaranya, baterai mikrofon yang habis dan kesalahan pemanggilan nomor dada peserta sehingga acara beberapa kali harus disesuaikan oleh panitia.
Kegiatan juga dihentikan sementara pada waktu-waktu salat.
Namun, fasilitas ibadah di lokasi sempat menjadi persoalan. Musala yang tersedia disebut digunakan untuk beristirahat oleh sebagian keluarga peserta sehingga beberapa peserta mengalami kesulitan ketika hendak melaksanakan salat.
Kondisi tersebut bahkan sempat memunculkan ketegangan ketika seorang peserta yang hendak menggunakan tempat tersebut untuk salat mendapat teguran dari seorang perempuan berjilbab.
Di tengah kemeriahan lomba, muncul pula sorotan terhadap salah satu penampilan yang oleh sebagian pihak dinilai terlalu erotis. Kritik juga diarahkan pada penampilan seorang peserta laki-laki bertubuh kekar yang menggunakan atribut menyerupai jilbab.
Mahdi, yang memberikan catatan atas kegiatan tersebut, meminta agar kegiatan seni dan hiburan masyarakat tetap memperhatikan norma kesopanan dan nilai budaya.
Menurut dia, pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan seni masyarakat perlu dilakukan secara proporsional oleh instansi terkait, termasuk pemerintah dan organisasi keagamaan, agar ruang ekspresi seni tetap berkembang tanpa mengabaikan nilai moral dan akhlak.
Cafe Teras Mangga sendiri merupakan usaha milik Melinda Fortuna, mantan pramugari asal NTB. Lokasinya berada di Jalan Perumahan Kebon Jeruk Baru 18 A 03/04, Jakarta Barat.
Menurut keterangan yang disampaikan dalam kegiatan, usaha tersebut tetap bertahan dengan melayani berbagai acara masyarakat, seperti pernikahan, ulang tahun, rapat, dan kegiatan komunitas.
Dengan kapasitas lebih dari 100 orang, lokasi tersebut dilengkapi fasilitas musik, musala, serta area parkir.
Bagi penyelenggara, lomba di Cafe Teras Mangga bukan sekadar kompetisi. Panggung tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat—anak-anak, orang tua, komunitas seni, dan pelaku usaha—untuk memperoleh hiburan sekaligus menunjukkan kemampuan mereka.
Meski demikian, penyelenggaraan acara masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah, terutama dalam pengelolaan teknis, fasilitas ibadah, koordinasi panitia, dan transparansi hasil penilaian.
Hingga acara berakhir, hasil lomba belum diumumkan secara lengkap kepada seluruh peserta. Sejumlah keluarga bahkan memilih meninggalkan lokasi setelah anak mereka selesai tampil.
Dukungan sponsor juga disebut tidak sebanyak sebelumnya. Beberapa merek yang sebelumnya ikut mendukung antara lain Indomie, Sedap, Coffee Tops, dan Wings. Sementara pada kegiatan tersebut masih terdapat bazar Moonlight.
Terlepas dari berbagai kekurangan itu, panggung Cafe Teras Mangga memperlihatkan satu hal: hiburan rakyat masih dibutuhkan masyarakat, terutama ketika ruang publik untuk berkumpul, berekspresi, dan menunjukkan bakat semakin terbatas.
Tidak ada komentar