Salah satu daerah yang paling saya kagumi di Indonesia adalah Flores.
Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi karena Flores masih menyimpan sesuatu yang semakin langka di dunia: keaslian. Lautnya jernih, pantainya indah, perbukitannya mempesona, masyarakatnya memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, dan hampir di setiap sudutnya seperti menyimpan cerita yang belum selesai dituliskan.
Namun Flores juga seperti seorang putri cantik yang terlalu lama dipingit.
Ia memiliki kecantikan yang luar biasa, tetapi tidak banyak orang yang bisa melihatnya. Bukan karena ia tidak layak dikunjungi, melainkan karena jalan menuju ke sana mahal, transportasi terbatas, infrastruktur belum memadai, dan konektivitas antardaerah masih menjadi persoalan.
Kini, setelah gempa besar mengguncang Flores dan meninggalkan kerusakan, pemerintah menghadapi pilihan penting: apakah Flores akan sekadar dibangun kembali seperti semula, atau justru dibangun menjadi Flores yang jauh lebih tangguh dan lebih maju?
Menurut saya, jawabannya harus yang kedua.
Bencana selalu membawa penderitaan. Tetapi dalam perspektif pembangunan, bencana juga memberikan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang selama ini memang sudah rapuh.
Karena itu, pemerintah jangan hanya berpikir bagaimana mengganti rumah yang roboh, memperbaiki jalan yang rusak, membangun kembali fasilitas umum, lalu menganggap pekerjaan selesai.
Yang harus dilakukan adalah membangun kembali Flores dengan standar baru.
Rumah-rumah harus dibangun dengan konstruksi yang lebih tahan gempa. Sekolah, rumah sakit, pelabuhan, bandara, jembatan, dan fasilitas publik harus memiliki standar ketahanan bencana yang jauh lebih baik.
Flores berada di wilayah yang secara geologis aktif. Karena itu, pembangunan di sana tidak boleh lagi menggunakan pendekatan build and forget—bangun lalu dilupakan.
Setiap pembangunan harus menjawab pertanyaan sederhana: kalau gempa besar kembali terjadi, apakah bangunan ini masih mampu melindungi manusia di dalamnya?
Masalah Flores sebenarnya bukan hanya gempa.
Jauh sebelum gempa, masyarakat Flores sudah menghadapi persoalan klasik pembangunan: jarak, mahalnya transportasi, konektivitas yang terbatas, dan infrastruktur yang belum sebanding dengan potensi wilayahnya.
Padahal, Flores memiliki modal pariwisata yang luar biasa.
Lautnya. Pantainya. Pulau-pulaunya. Gunungnya. Budayanya. Desa-desanya. Tenun ikatnya. Kuliner dan tradisinya. Dan tentu saja masyarakatnya.
Tetapi potensi itu tidak akan banyak berarti apabila orang membutuhkan biaya terlalu mahal dan waktu terlalu panjang untuk mencapainya.
Karena itu, rekonstruksi pascagempa harus sekaligus menjadi program percepatan konektivitas Flores.
Jalan harus diperbaiki dan diperkuat. Pelabuhan harus ditingkatkan. Bandara harus diperkuat kapasitas dan konektivitasnya. Transportasi antarpulau harus dibuat lebih terintegrasi. Telekomunikasi dan internet harus menjangkau daerah-daerah yang selama ini tertinggal.
Flores tidak boleh lagi terasa seperti pulau yang jauh, bahkan bagi masyarakat Indonesia sendiri.
Ada kecenderungan pemerintah ketika berbicara tentang pariwisata langsung berpikir tentang hotel, resort dan jumlah wisatawan.
Menurut saya, itu terlalu sederhana.
Flores tidak membutuhkan pembangunan pariwisata yang justru menghancurkan karakter alam dan budaya yang menjadi daya tariknya.
Yang dibutuhkan adalah pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Wisatawan datang bukan semata-mata untuk tidur di hotel. Mereka datang untuk melihat laut yang bersih, menikmati alam, bertemu masyarakat lokal, melihat kebudayaan, menikmati makanan, berjalan di desa, menyaksikan tradisi, dan merasakan sesuatu yang tidak mereka temukan di tempat lain.
Karena itu, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama.
Jangan sampai Flores hanya menjadi tempat orang luar mendapatkan keuntungan, sementara masyarakat Flores sendiri menjadi penonton.
Homestay, usaha kuliner lokal, kerajinan, tenun, jasa pemandu wisata, transportasi lokal, usaha perahu, hingga produk pertanian harus mendapatkan ruang yang besar dalam ekosistem pariwisata.
Pariwisata Flores harus membuat orang Flores menjadi lebih sejahtera, bukan sekadar membuat jumlah wisatawan bertambah.
Gempa juga seharusnya mengubah cara kita memandang tata ruang.
Jangan membangun permukiman, fasilitas publik, dan kawasan wisata tanpa memperhitungkan risiko gempa, longsor, tsunami, dan bencana lainnya.
Pemetaan kawasan rawan bencana harus menjadi dasar pembangunan.
Masyarakat harus memiliki jalur evakuasi yang jelas. Desa-desa pesisir harus memiliki titik evakuasi. Sekolah harus memiliki pendidikan kebencanaan. Anak-anak harus tahu ke mana harus berlari ketika gempa terjadi.
Teknologi peringatan dini juga harus diperkuat.
Jangan menunggu bencana berikutnya baru kita sibuk bertanya, “Mengapa tidak dipersiapkan sejak awal?”
Ada satu hal yang lebih penting.
Jangan sampai perhatian pemerintah terhadap Flores hanya muncul ketika terjadi bencana.
Setelah berita gempa menghilang dari televisi, media sosial mulai membicarakan isu lain, dan bantuan mulai berkurang, Flores jangan kembali dilupakan.
Justru saat itulah pekerjaan pembangunan yang sesungguhnya dimulai.
Pemerintah pusat harus membuat rencana pemulihan Flores jangka panjang, bukan sekadar paket bantuan darurat.
Rekonstruksi harus memiliki target yang jelas: rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, pelabuhan, bandara, jaringan listrik, air bersih, telekomunikasi, ekonomi masyarakat, hingga pariwisata.
Dan semuanya harus transparan.
Masyarakat harus dapat melihat berapa anggaran yang dialokasikan, untuk apa digunakan, siapa yang mengerjakan, dan sejauh mana hasilnya.
Saya selalu melihat Flores sebagai seorang putri cantik yang terlalu lama dipingit.
Ia sudah memiliki kecantikan. Ia tidak perlu diciptakan menjadi cantik.
Yang diperlukan adalah membuka pintunya.
Membuat jalan menuju rumahnya lebih baik. Membuat transportasinya lebih terjangkau. Membuat infrastrukturnya lebih kuat. Membuat masyarakatnya lebih sejahtera. Dan yang paling penting, menjaga agar kecantikan alamnya tidak rusak oleh pembangunan yang salah arah.
Gempa memang telah merusak sebagian Flores.
Tetapi jangan biarkan gempa menghancurkan masa depannya.
Jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk membangun Flores yang lebih kuat, lebih terkoneksi, lebih sejahtera, lebih ramah wisatawan, tetapi tetap Flores.
Sebab Indonesia tidak kekurangan tempat indah.
Yang sering kita kekurangan adalah kesungguhan untuk merawat dan membuka akses terhadap keindahan itu tanpa menghancurkannya.
Flores sudah memiliki semuanya.
Laut yang indah. Alam yang luar biasa. Budaya yang kaya. Masyarakat yang ramah.
Sekarang giliran pemerintah melakukan bagiannya.
Jangan lagi biarkan putri cantik ini dipingit terlalu lama. Bukakan pintunya kepada Indonesia dan dunia—tetapi jangan pernah merampas kecantikannya.
Tidak ada komentar