xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

81 Tahun Indonesia Merdeka: Tidak Lagi Membuktikan Siapa Kita

waktu baca 5 menit
Jumat, 14 Agu 2026 08:19 17 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Ali Syarief

Ada saatnya sebuah bangsa berhenti bercerita tentang betapa hebatnya dirinya di masa lalu.

Bukan karena sejarah tidak penting. Bukan pula karena kita harus melupakan perjuangan para pendiri bangsa. Justru sebaliknya, sejarah harus ditempatkan pada tempatnya: sebagai fondasi untuk memahami siapa kita, bukan sebagai alat untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita pernah menjadi sesuatu.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka adalah waktu yang cukup panjang untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman:

Setelah 81 tahun, sebenarnya kita sudah menjadi bangsa seperti apa?

Kita sering menjawab pertanyaan itu dengan mengutip sejarah.

Sriwijaya.

Majapahit.

Sumpah Pemuda.

Proklamasi.

Revolusi.

Perjuangan merebut kemerdekaan.

Kita mengingat betapa heroiknya para pendahulu kita. Kita mengulang cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kejayaan masa lalu.

Seolah-olah dengan semakin sering mengutip masa lalu, semakin kuat pula pembuktian bahwa Indonesia adalah bangsa besar.

Tetapi sebuah bangsa tidak selamanya dapat hidup dari nostalgia.

Kebesaran masa lalu tidak otomatis melahirkan kedewasaan masa kini.

Dan mungkin inilah pertanyaan yang lebih penting pada usia 81 tahun:

Apakah Indonesia sudah dewasa?

Sebab merdeka dan dewasa adalah dua hal yang berbeda.

Kemerdekaan adalah keadaan politik.

Kedewasaan adalah kualitas peradaban.

Kita sudah lama merdeka. Tetapi apakah cara kita menggunakan kebebasan itu menunjukkan kedewasaan?

Apakah institusi kita semakin matang?

Apakah hukum semakin dipercaya?

Apakah kekuasaan semakin rendah hati?

Apakah perbedaan semakin dapat kita kelola dengan akal sehat?

Apakah pendidikan membuat manusia semakin kritis sekaligus semakin beradab?

Apakah demokrasi membuat kita semakin dewasa dalam berbeda pendapat?

Ataukah kita justru semakin mudah tersinggung, semakin mudah terbelah, semakin gemar mencari musuh, dan semakin terbiasa membenarkan apa pun yang dilakukan kelompok kita sendiri?

Di sinilah ironi Indonesia hari ini.

Kita memiliki teknologi abad ke-21, tetapi sering menggunakan cara berpikir yang belum selesai dengan abad ke-20.

Kita berbicara tentang negara maju, tetapi masih bergulat dengan persoalan yang seharusnya sudah menjadi pekerjaan rumah masa lalu.

Kita ingin menjadi kekuatan ekonomi besar, tetapi korupsi masih menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Kita ingin berbicara tentang demokrasi, tetapi perbedaan pendapat sering dianggap sebagai permusuhan.

Kita ingin dihormati oleh dunia, tetapi di dalam negeri sendiri kita belum selalu mampu membangun institusi yang membuat warga merasa diperlakukan adil.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, kita kadang terlalu cepat merasa sudah menjadi bangsa besar hanya karena memiliki angka pertumbuhan ekonomi, gedung-gedung tinggi, proyek-proyek raksasa, atau slogan-slogan tentang Indonesia Emas.

Padahal bangsa besar bukan bangsa yang paling keras mengatakan dirinya besar.

Bangsa besar adalah bangsa yang tidak perlu lagi membuktikan kebesarannya setiap hari.

Ia terlihat dari kualitas sekolahnya.

Dari kejujuran aparatnya.

Dari kepastian hukumnya.

Dari bagaimana negara memperlakukan rakyat kecil.

Dari bagaimana yang berbeda diperlakukan.

Bagaimana kekuasaan bersedia dikoreksi.

Dan terutama dari kemampuan masyarakatnya untuk berpikir jernih tanpa harus selalu mencari kambing hitam.

Mungkin setelah 81 tahun, kita perlu mengubah cara melihat kemerdekaan.

Kemerdekaan tidak lagi semata-mata tentang membuktikan siapa diri kita.

Kita tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa kita bangsa besar.

Kita tidak perlu setiap saat mencari pembenaran dari kejayaan Sriwijaya atau Majapahit.

Kita tidak perlu terus hidup dari romantisme perjuangan para pahlawan.

Tugas kita sekarang jauh lebih sulit:

Menunjukkan bahwa kita mampu menjadi bangsa yang dewasa.

Sebab menjadi dewasa berarti mampu melihat kekurangan diri sendiri tanpa merasa harga diri kita runtuh.

Dewasa berarti berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah tanpa merasa sedang menghina bangsa sendiri.

Dewasa berarti mampu mengkritik pemerintah tanpa dianggap membenci negara.

Dewasa berarti mampu mencintai Indonesia sekaligus kecewa kepada Indonesia.

Bukankah cinta yang matang memang seperti itu?

Ia tidak selalu memuji.

Ia berani mengatakan:

Ini belum baik.

Ini harus diperbaiki.

Kita bisa lebih baik dari ini.

Di usia 81 tahun, mungkin Indonesia justru perlu belajar menikmati dirinya sendiri.

Tetapi ada perbedaan besar antara menikmati diri dan berpuas diri.

Menikmati diri berarti menerima bahwa kita adalah bangsa yang masih dalam perjalanan.

Berpuas diri berarti menganggap perjalanan sudah selesai.

Menikmati diri berarti kita dapat melihat keberhasilan tanpa menjadi sombong.

Berpuas diri berarti keberhasilan kecil dirayakan seolah-olah kita sudah menjadi bangsa yang sempurna.

Dan di sinilah kalimat yang mungkin paling pahit perlu dikatakan:

Indonesia tampaknya semakin pandai menikmati dirinya, tetapi belum semakin dewasa dalam banyak aspek kehidupannya.

Kita menikmati kebebasan, tetapi belum selalu memahami tanggung jawab.

Kita menikmati demokrasi, tetapi belum selalu mampu menerima perbedaan.

Kita menikmati kemajuan teknologi, tetapi belum selalu mengalami kemajuan dalam cara berpikir.

Kita menikmati pembangunan, tetapi belum selalu bertanya siapa yang tertinggal.

Kita menikmati kekuasaan, jabatan dan fasilitas, tetapi belum selalu memahami bahwa kekuasaan pada akhirnya hanyalah amanah yang memiliki batas waktu.

Mungkin inilah paradoks 81 tahun Indonesia.

Kita sudah cukup tua sebagai negara untuk berhenti mencari identitas melalui cerita masa lalu, tetapi belum cukup dewasa untuk sepenuhnya menerima kenyataan tentang diri kita hari ini.

Karena itu, pada 81 tahun kemerdekaan, barangkali kita tidak perlu lagi bertanya:

“Apa yang telah kita buktikan kepada dunia?”

Pertanyaan itu terlalu lama kita gunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang telah kita lakukan terhadap diri kita sendiri?”

Apakah kita menjadi manusia yang lebih baik?

Apakah masyarakat kita menjadi lebih adil?

Apakah hukum menjadi lebih bermartabat?

Apakah pendidikan membuat kita lebih cerdas sekaligus lebih manusiawi?

Apakah kekuasaan membuat kita lebih bertanggung jawab?

Apakah kemerdekaan membuat kita lebih dewasa?

Jika jawabannya belum, tidak perlu malu.

Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang tidak memiliki kekurangan.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mampu melihat kekurangannya tanpa harus menyembunyikannya di balik kebanggaan masa lalu.

Maka mungkin makna kemerdekaan pada usia 81 tahun bukan lagi tentang berteriak lebih keras bahwa kita bangsa besar.

Melainkan tentang bekerja lebih tenang untuk benar-benar menjadi bangsa besar.

Tidak perlu terlalu banyak membuktikan siapa kita.

Nikmatilah Indonesia apa adanya—tetapi jangan pernah berhenti membuatnya menjadi lebih dewasa.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling bermakna bukanlah ketika sebuah bangsa berhasil meyakinkan dunia tentang siapa dirinya.

Melainkan ketika sebuah bangsa sudah cukup mengenal dirinya sendiri sehingga tidak lagi membutuhkan pengakuan dari siapa pun.

Itulah mungkin kemerdekaan yang sesungguhnya:

Bukan lagi hidup untuk membuktikan siapa diri kita, tetapi mampu menikmati siapa diri kita—sambil terus mempunyai keberanian untuk menjadi lebih baik.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg