GERAKAN CIPAYUNG PLUS SUMUT TUDING PIMPINAN PLN UID SUMUT GUNAKAN EVENT AFF UNTUK HINDARI RAKYAT
MEDAN, 2 JUNI 2026
Ratusan massa dari Aliansi Gerakan Cipayung Plus Sumatera Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor PLN UID Sumatera Utara, Selasa (2/6).
Aksi yang melibatkan GMNI, GMKI, IMM, dan KAMMI SUMUT tersebut berakhir ricuh dengan aksi pembakaran ban dan perobohan pagar kantor PLN. Kemarahan massa dipicu oleh peristiwa total blackout Pulau Sumatera pada 22 Mei 2024 yang melumpuhkan ekonomi warga dan ribuan UMKM. Aliansi menilai pihak manajemen PLN tidak menunjukkan itikad baik dalam memberikan pertanggungjawaban.
TUDINGAN “TAMENG” AFF DAN MANAJEMEN AMATIR
Pimpinan Aliansi menyatakan kekecewaannya karena General Manager (GM) PLN UID Sumut enggan menemui massa. Mereka menuding perhelatan AFF sengaja dijadikan alasan untuk menghindar.
“Kami merasa jijik melihat pimpinan PLN UID Sumut yang seakan-akan menggunakan perhelatan penting seperti AFF hanya sebagai tameng saja untuk berlindung dari
pertanggungjawaban,” tegas perwakilan aliansi dalam konferensi persnya.
Selain masalah pelayanan, aliansi menyoroti rapuhnya interkoneksi tol listrik Sumatera akibat ketiadaan jaringan cadangan yang memadai. Mereka menyebut manajemen PLN saat ini bekerja secara reaktif dan amatir dalam menangani krisis energi di wilayah tersebut.
SOROTI “GURITA KORUPSI” DI TUBUH PLN
Tak hanya soal teknis listrik, massa juga membawa isu korupsi ke permukaan. Terdapat dua
poin korupsi struktural yang disoroti:
5 TUNTUTAN UTAMA
Dalam aksi tersebut, empat pimpinan organisasi (Irham Saddani Rambe, Rahmat Taufiq Pardede, Chrisye Sitorus & Armando Sitompul) menyampaikan lima tuntutan Aksi:
“Jangan biarkan kekayaan alam Sumatera terus dikeruk, sementara rakyatnya dibiarkan merabaraba dalam kegelapan akibat uangnya dirampok oleh para koruptor!” tutup pernyataan sikap
bersama tersebut.
Tidak ada komentar