Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024Jakarta – Ibarat sebuah balon, kini ia telah membesar. Lalu, siapa peniupnya? Ialah Polda Metro Jaya dan Bank Mandiri.
Ya, nama Supriyono alias Botok makin berkibar. Ketokohannya makin membesar. Hal itu terjadi setelah Polda Metro Jaya dan Bank Mandiri “bersekongkol” untuk memblokir rekening Botok yang berisi uang Rp80,9 juta, dana pribadi dan sumbangan untuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang akan menggelar aksi unjuk rasa di Kompleks MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, hari Kamis (27/8/2026) ini.
Botok dan AMPB beserta kelompok massa lain antara lain menuntut agar Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset (RUU PA) yang sudah mangkrak sekian lama di DPR segera disahkan menjadi undang-undang.
Polisi berdalih bukan pemblokiran, melainkan penundaan transaksi rekening Botok, hal mana dibenarkan oleh KUHAP yang baru.
Bank Mandiri pun sudah minta maaf. Dan setelah didesak publik dan Komisi III DPR, akhirnya Bank Mandiri membuka blokir rekening Botok. Akan tetapi, kepercayaan publik terhadap bank plat merah itu sudah terlanjur jatuh ke titik nadir.
Baca juga: https://fusilatnews.com/bank-mandiri-dan-polisi-bank-mulai-murtad-dari-prinsip-perbankan/
Di pihak lain, ketokohan Botok kini membesar. Ibarat kucing, Botok menjelma menjadi macan.
Botok memang patut ditokohkan karena keberaniannya. Serangkaian demonstrasi yang ia motori di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, berhasil melengserkan sang bupati, Sudewo. Politikus Partai Gerindra itu bahkan kemudian ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Botok dalam bahasa Jawa adalah nama makanan tradisional yang terbuat dari ampas atau parutan kelapa yang sudah diperas santannya, dicampur bumbu serta bahan lain, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.
Dulu Botok dibuat dari sisa parutan (ampas) kelapa agar gizinya tidak terbuang. Sekarang Botok sering dicampur dengan berbagai bahan seperti tempe, lamtoro (petai cina), teri, ikan asin, tahu, hingga udang.
Begitu pun Botok yang bernama asli Supriyono. Ia ibarat telah diperas keringatnya demi memperjuangkan aspirasi masyarakat Pati.
Akan tetapi Botok masih dibutuhkan. Bukan hanya oleh masyarakat Pati, melainkan juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Ia sedang memperjuangkan pengesahan RUU PA yang akan menjadi momok bagi koruptor. Negeri ini rusak karena koruptor. Dan Botok kini hendak mengenyahkan para koruptor itu, setelah mengenyahkan Sudewo.
Apakah kali ini perjuangan Botok di Senayan akan berhasil? Botok tak bisa seorang diri. Perlu puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan Botok-Botok lain untuk konsisten berjuang. Bangsa ini membutuhkan sosok-sosok seperti Botok.
Tidak ada komentar