xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Akankah Guru Dijadikan Tumbal Program MBG?

waktu baca 2 menit
Jumat, 21 Agu 2026 09:20 15 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Akankah guru dijadikan tumbal bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG)?

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta guru-guru berperan sebagai organoleptik terakhir dengan memakan menu MBG terlebih dahulu untuk memutuskan apakah menu tersebut layak dikonsumsi siswa atau tidak. Jika tidak layak, katanya, maka wajib hukumnya untuk tidak diberikan kepada siswa.

Organoleptik adalah pengujian atau penilaian terhadap suatu produk, terutama makanan dan minuman, yang dilakukan dengan menggunakan pancaindra manusia sebagai alat ukur utama.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Artinya, jika menu MBG mengandung racun, maka guru dululah yang akan mengalami keracunan. Artinya lagi, guru hendak dijadikan tumbal. Sebab, sudah banyak kasus keracunan akibat MBG.

Kasus keracunan massal teranyar dalam program MBG terjadi di wilayah Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, medio Agustus 2026. Sebanyak 361 siswa dari beberapa sekolah, termasuk SMAN 1 Berastagi, mengalami gejala mual, muntah, hingga kejang usai menyantap paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Adapun penyebab utamanya, menurut pihak BGN, ada kelalaian fatal dalam pengelolaan bahan baku, di mana ratusan ekor ikan basah dibiarkan di dalam suhu ruangan dalam waktu lama dan tidak dimasukkan ke dalam freezer.

Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), total korban keracunan akibat program MBG sejak awal pelaksanaan pada Januari 2025 hingga Agustus 2026 telah mencapai 40.759 orang yang tersebar di 36 provinsi.

Artinya, sekali lagi, jika guru diminta makan menu MBG terlebih dahulu, mereka memang hendak dijadikan tumbal.

Mestinya BGN menggunakan cara lain untuk menguji menu MBG sebelum diberikan kepada para penerima manfaat. Misalnya dengan test kit atau alat uji cepat di setiap SPPG yang ada. Sampel menu makanan misalnya dikasih bahan kimia tak berbahaya untuk mendeteksi kemungkinan ada racun semacam arsenik atau basi sebelum dikonsumsi.

Jatuh Tertimpa Tangga

Jika nanti guru-guru benar-benar berperan sebagai organoleptik terakhir, maka nasib mereka ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sebab, selama ini anggaran pendidikan yang antara lain berperan meningkatkan kesejahteraan guru dialihkan untuk anggaran MBG.

Sampai akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa anggaran program MBG harus dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan (mandatory spending 20% dari APBN).

MK menyatakan pembiayaan MBG bukan komponen utama pendidikan. Namun, pemisahan pos anggaran ini diberi masa transisi dan wajib diterapkan paling lambat pada APBN 2028.

Alhasil, guru-guru tak perlu dijadikan sebagai organoleptik terakhir. Gunakanlah test kit atau alat uji cepat di setiap SPPG untuk mendeteksi menu MBG layak konsumsi atau tidak. Itulah!



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg