xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Dolly Parton dan Amerika yang Kehilangan Ikon Pemersatu

waktu baca 7 menit
Kamis, 27 Agu 2026 16:42 12 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

FusilatNews – Ada orang yang menjadi terkenal karena musiknya. Ada yang dikenang karena kekayaannya. Ada pula yang menjadi legenda karena mampu mewakili sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Dolly Parton adalah yang terakhir.

Kepergian Dolly Parton pada usia 80 tahun bukan sekadar kehilangan seorang penyanyi country. Amerika kehilangan salah satu figur budaya yang paling unik: seorang perempuan yang lahir dari kemiskinan pedesaan Tennessee, kemudian menjadi superstar dunia, pengusaha, aktris, penulis lagu, filantropis—dan, yang paling menarik, menjadi sosok yang mampu dicintai oleh kelompok-kelompok Amerika yang secara politik dan sosial sering berada di dua kutub yang berlawanan.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Inilah yang membuat Dolly Parton begitu berarti bagi Amerika.

Dari kemiskinan menjadi simbol keberhasilan

Dolly Parton lahir dari keluarga miskin di kawasan pegunungan Tennessee. Ia tumbuh dalam keluarga besar dan sederhana. Kemiskinan bukan sesuatu yang ia sembunyikan setelah menjadi kaya. Justru pengalaman itulah yang kemudian menjadi sumber identitas dan empatinya.

Ia tidak pernah berusaha menghapus masa lalunya demi menyesuaikan diri dengan dunia elite. Sebaliknya, ia membawa masa lalu itu bersamanya.

Ada pelajaran penting di sini: kesuksesan tidak harus membuat seseorang malu terhadap asal-usulnya.

Dolly menjadi sangat kaya, tetapi tidak pernah kehilangan kemampuan untuk berbicara kepada orang biasa. Ia tetap menggunakan humor, logat daerah, gaya berpakaian yang mencolok, dan persona yang sangat khas sebagai bagian dari dirinya.

Ia tidak mencoba menjadi orang lain agar diterima.

Justru karena itulah ia diterima hampir semua orang.

Dolly melampaui musik

Tentu saja, Dolly Parton adalah salah satu penulis lagu dan penyanyi terbesar Amerika. Lagu-lagu seperti Jolene, 9 to 5, Coat of Many Colors, dan I Will Always Love You telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Amerika dan dunia. Kariernya berlangsung lebih dari enam dekade dan menembus musik country, pop, film, televisi hingga teater.

Tetapi jika hanya melihat Dolly sebagai musisi, kita kehilangan bagian terpenting dari ceritanya.

Dolly memahami sesuatu yang sering dilupakan oleh para selebritas: popularitas adalah modal sosial.

Dan modal sosial itu dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Melalui Dollywood dan Dollywood Foundation, ia membangun warisan yang tidak berhenti pada panggung hiburan. Program Imagination Library, misalnya, telah mengirimkan ratusan juta buku gratis kepada anak-anak di berbagai negara. Program itu lahir dari pengalaman keluarganya sendiri—terutama karena ayahnya tidak pernah mendapatkan kesempatan pendidikan yang memadai.

Inilah bentuk filantropi yang menarik: bukan sekadar memberikan uang, tetapi mengubah pengalaman pribadi menjadi kesempatan bagi orang lain.

Selebritas yang tidak membutuhkan permusuhan

Amerika hari ini adalah negeri yang sangat terpolarisasi.

Politik telah menjadi identitas. Perbedaan pilihan politik sering berubah menjadi permusuhan sosial. Orang tidak lagi sekadar berbeda pendapat; mereka sering merasa harus membenci kelompok yang berbeda.

Di tengah situasi seperti itu, Dolly Parton adalah anomali.

Ia bisa disukai oleh orang konservatif pedesaan sekaligus komunitas progresif dan LGBTQ. Ia dihormati oleh kaum religius maupun kelompok yang secara budaya sangat berbeda. Bahkan setelah kematiannya, pujian datang dari berbagai spektrum politik yang biasanya sulit menemukan titik temu. Washington Post menyebutnya sebagai figur yang mampu melampaui politik dalam sebuah Amerika yang semakin terbelah.

Rahasia Dolly mungkin sederhana: ia tidak menjadikan kebencian sebagai produk.

Ia tidak membutuhkan musuh untuk membangun popularitas.

Ia tidak perlu setiap hari mengatakan siapa yang salah agar dirinya terlihat benar.

Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Dolly justru menawarkan sesuatu yang semakin langka dalam politik modern: kebaikan hati yang tidak membutuhkan izin ideologis.

Mengapa orang Amerika dari berbagai kubu mencintainya?

Karena Dolly Parton tidak datang kepada rakyat Amerika sebagai seorang guru moral.

Ia datang sebagai manusia.

Ia tahu rasanya miskin. Ia tahu rasanya bekerja keras. Ia tahu bagaimana rasanya diremehkan. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan di industri yang sangat kompetitif.

Tetapi setelah memperoleh kekayaan dan ketenaran, ia tidak menggunakan keberhasilannya untuk mengatakan, “Saya berhasil karena saya lebih hebat daripada kalian.”

Sebaliknya, pesan yang muncul dari kehidupannya adalah: kalau saya bisa sampai di sini, saya ingin membantu orang lain memperoleh kesempatan.

Itulah sebabnya filantropinya memiliki kekuatan moral yang besar.

Ia membantu pendidikan anak-anak. Ia mendukung korban bencana. Ia terlibat dalam riset medis dan berbagai kegiatan kemanusiaan. Bahkan pada masa pandemi COVID-19, sumbangannya ikut mendukung penelitian vaksin.

Kebaikannya bukan sekadar slogan.

Ia menjadi tindakan.

Kapitalisme dengan wajah manusia

Ada satu aspek Dolly Parton yang juga menarik: ia adalah seorang kapitalis yang sangat sukses.

Ia membangun bisnis, mengembangkan merek, menjual musik, membangun Dollywood dan menjadikan namanya sebagai salah satu brand paling kuat dalam industri hiburan Amerika.

Namun, keberhasilan komersialnya tidak membuatnya kehilangan hubungan dengan masyarakat.

Di sinilah Dolly memberikan contoh menarik tentang bagaimana bisnis, popularitas dan filantropi tidak harus saling bertentangan.

Ia tidak memusuhi uang.

Ia menghasilkan uang.

Tetapi ia juga memahami bahwa uang bukan tujuan terakhir.

Kekayaan menjadi jauh lebih bermakna ketika sebagian darinya kembali kepada masyarakat.

Dalam dunia yang semakin sering mengukur keberhasilan hanya berdasarkan jumlah kekayaan, Dolly mengingatkan bahwa ukuran terakhir sebuah kehidupan bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan berapa banyak yang menjadi lebih baik karena kita pernah hidup.

Dolly dan hilangnya kemampuan Amerika untuk bersatu

Mungkin inilah warisan Dolly Parton yang paling relevan bagi Amerika hari ini.

Amerika tidak sedang kekurangan orang kaya. Tidak kekurangan selebritas. Tidak kekurangan politisi. Tidak kekurangan influencer.

Amerika bahkan tidak kekurangan orang pintar.

Yang semakin langka adalah orang yang dapat membuat manusia yang berbeda merasa memiliki sesuatu yang sama.

Dolly bisa.

Seorang konservatif dapat mendengarkan Dolly.

Seorang liberal dapat mendengarkan Dolly.

Orang desa dapat mencintainya.

Orang kota dapat mencintainya.

Orang tua dan anak muda dapat menyanyikan lagu yang sama.

Bahkan komunitas yang secara budaya sangat berbeda dapat menemukan bagian dari diri mereka dalam sosoknya.

Ini bukan prestasi kecil.

Sebab masyarakat yang sehat tidak dibangun dengan membuat semua orang berpikir sama. Masyarakat dibangun ketika orang-orang yang berbeda masih memiliki kemampuan untuk menghormati, menyukai, dan berbagi ruang bersama.

Dolly adalah contoh hidup dari prinsip tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia

Kisah Dolly Parton sebenarnya juga relevan bagi Indonesia.

Kita hidup dalam masyarakat yang semakin mudah terbelah oleh politik, agama, identitas, media sosial dan kepentingan kelompok.

Tokoh publik sering merasa harus memilih kubu.

Selebritas menjadi alat propaganda.

Influencer berlomba mencari kontroversi.

Politisi hidup dari polarisasi.

Media sosial memberikan insentif kepada kemarahan.

Dalam situasi seperti itu, mungkin kita perlu belajar dari Dolly: tidak semua perbedaan harus menjadi perang.

Kita membutuhkan lebih banyak tokoh publik yang tidak menjadikan kebencian sebagai mata pencaharian.

Kita membutuhkan pengusaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga merasa memiliki kewajiban sosial.

Kita membutuhkan orang kaya yang tidak sekadar memamerkan kekayaannya, tetapi mengubah kekayaan menjadi kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung.

Dan kita membutuhkan pemimpin yang memahami bahwa menjadi kuat tidak sama dengan menjadi kasar.

Warisan terbesar bukan lagu

Pada akhirnya, mungkin lagu-lagu Dolly Parton akan tetap dinyanyikan selama puluhan tahun.

Jolene akan tetap dimainkan.

9 to 5 akan tetap dikenang.

I Will Always Love You akan terus memiliki kehidupan baru melalui penyanyi generasi berikutnya.

Tetapi warisan terbesar Dolly mungkin bukan lagu-lagu itu.

Warisan terbesarnya adalah cara ia menjalani kehidupan.

Ia membuktikan bahwa seseorang dapat menjadi sangat kaya tanpa harus kehilangan empati.

Dapat menjadi sangat terkenal tanpa harus kehilangan kerendahan hati.

Dapat menjadi konservatif dalam sebagian nilai pribadi tanpa harus membenci kelompok yang berbeda.

Dapat menjadi perempuan dengan identitas yang sangat kuat tanpa merasa perlu merendahkan perempuan lain.

Dan dapat menjadi simbol Amerika tanpa harus menjadi simbol satu partai.

Itulah sebabnya kematian Dolly Parton terasa lebih besar daripada kematian seorang entertainer.

Amerika kehilangan seorang penyanyi, tetapi juga kehilangan salah satu bahasa bersama yang masih dapat dipahami oleh Amerika yang terpecah.

Di zaman ketika hampir segala sesuatu dipaksa memilih sisi—kanan atau kiri, konservatif atau progresif, kami atau mereka—Dolly Parton menawarkan pilihan yang jauh lebih sederhana:

menjadi manusia yang baik.

Dan mungkin justru itulah yang paling dirindukan Amerika hari ini.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg