Ada sebuah ironi besar dalam sejarah manusia: perang sering kali dimulai dengan bahasa yang gagah—kehormatan, kemenangan, kejayaan, pembelaan tanah air—tetapi berakhir dengan bahasa yang sangat sederhana: berhentilah membunuh manusia.
Ketika Hiroshima dijatuhi bom atom pada 6 Agustus 1945, dunia memasuki sebuah babak baru. Bukan sekadar karena sebuah kota Jepang luluh dalam sekejap, melainkan karena manusia untuk pertama kalinya menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan dapat menciptakan kekuatan yang mampu memusnahkan kehidupan dalam skala yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Tiga hari kemudian, Nagasaki menyusul.
Dan di tengah kehancuran itu, Kaisar Hirohito mengambil keputusan yang mengubah sejarah Jepang: perang harus dihentikan.
Yang menarik bukan hanya keputusan menyerahnya Jepang. Yang jauh lebih menarik adalah cara kita memahami keputusan itu.
Dalam tradisi perang, menyerah hampir selalu dipandang sebagai kekalahan. Tentara bertempur untuk menang; negara bertempur untuk mempertahankan kehormatan; pemimpin bertempur agar sejarah mencatat kemenangan.
Tetapi setelah Hiroshima dan Nagasaki, pertanyaannya berubah:
Apakah masih pantas menyebutnya perang ketika yang dihancurkan bukan lagi sekadar kekuatan militer, tetapi manusia, anak-anak, rumah, rumah sakit, dan seluruh kehidupan sebuah kota?
Di sinilah kalimat yang sering dikaitkan dengan pandangan Hirohito menjadi sangat menggugah: ini bukan lagi perang.
Sebab perang, dalam pengertian klasik, memiliki batas tertentu. Ada tentara yang berhadapan dengan tentara. Ada medan perang. Ada sasaran militer. Ada kemungkinan menang dan kalah.
Tetapi bom atom meruntuhkan batas-batas itu.
Ia tidak mengenal seragam.
Ia tidak bertanya siapa tentara dan siapa warga sipil.
Ia tidak memilih orang yang bersalah dan orang yang tidak bersalah.
Ia hanya meledak.
Dan setelah ledakan, manusia terbakar bersama rumahnya, bersama keluarganya, bersama masa depannya.
Karena itu, Hiroshima bukan sekadar sebuah peristiwa militer. Hiroshima adalah krisis moral peradaban.
Kita tentu tidak boleh menyederhanakan sejarah. Keputusan Jepang untuk menyerah pada Agustus 1945 merupakan hasil dari berbagai faktor: kehancuran militer, blokade, serangan udara, masuknya Uni Soviet ke dalam perang melawan Jepang, serta penggunaan bom atom. Para sejarawan masih memperdebatkan bobot masing-masing faktor tersebut.
Namun ada satu hal yang tidak dapat dibantah: bom atom mengubah pengertian manusia tentang perang.
Sebelum Hiroshima, manusia mengenal perang sebagai benturan kekuatan.
Sesudah Hiroshima, manusia mulai menyadari bahwa perang modern dapat berubah menjadi benturan antara kehidupan dan kepunahan.
Dan mungkin karena itulah, setelah menerima kenyataan kehancuran yang terjadi, Hirohito memilih untuk mengakhiri perang meskipun keputusan tersebut berarti menerima kekalahan dan menghadapi penghinaan sejarah.
Ada keberanian tertentu dalam keputusan untuk berhenti.
Kita sering mengira keberanian adalah kemampuan untuk terus maju.
Padahal kadang-kadang keberanian justru adalah kemampuan untuk berkata:
cukup.
Cukup dengan kematian.
Cukup dengan kehancuran.
Cukup dengan anak-anak yang kehilangan orang tua.
Cukup dengan ibu yang mencari anaknya di antara reruntuhan.
Cukup dengan sebuah bangsa yang mengorbankan generasinya demi sebuah kata bernama kemenangan.
Hiroshima mengajarkan sebuah paradoks: kadang-kadang menghentikan perang lebih membutuhkan keberanian daripada meneruskannya.
Dan di situlah sejarah Jepang menjadi relevan bagi dunia hari ini.
Sebab delapan puluh satu tahun kemudian, manusia belum benar-benar belajar.
Kita masih menyebut pembantaian sebagai operasi militer. Kita masih menyebut kehancuran kota sebagai collateral damage. Kita masih menyebut kematian warga sipil sebagai konsekuensi perang.
Bahasa berubah, tetapi kematian tetaplah kematian.
Mungkin persoalan terbesar manusia bukan karena kita tidak mengetahui bagaimana membuat senjata.
Kita justru sudah terlalu pandai membuatnya.
Persoalannya adalah apakah kita masih memiliki kebijaksanaan untuk mengatakan tidak ketika senjata itu hendak digunakan.
Hiroshima seharusnya tidak hanya dikenang sebagai kota yang pernah dibom.
Ia harus dikenang sebagai sebuah peringatan:
Bahwa ketika perang kehilangan batas kemanusiaannya, kemenangan pun kehilangan maknanya.
Sebab pada akhirnya, tidak ada kemenangan yang benar-benar menang apabila sebuah kota harus dibakar untuk mendapatkannya.
Dan mungkin pesan paling dalam dari Hiroshima bukanlah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Melainkan tentang sebuah pertanyaan yang jauh lebih tua dan jauh lebih penting:
Berapa banyak manusia yang harus mati sebelum kita berani mengatakan: perang ini sudah bukan perang lagi—ini adalah kehancuran?
Tidak ada komentar