Titik-titik kebakaran hutan atau hotspot di Kalimantan kembali bermunculan dan semakin meluas. Pemandangan seperti ini sesungguhnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Sebab, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah menjadi semacam kalender tahunan: kemarau datang, hotspot meningkat, asap menyebar, masyarakat terganggu, pemerintah turun tangan, konferensi pers digelar—lalu semuanya berlalu.
Tahun berikutnya, cerita yang sama kembali terulang.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan?
Kalau sebuah persoalan terjadi sekali, kita bisa menyebutnya bencana. Kalau terjadi berulang kali selama bertahun-tahun, kita harus mulai menyebutnya sebagai kegagalan sistem.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan fenomena baru. Pemerintah dari berbagai rezim sudah pernah menghadapi persoalan yang sama. Berbagai kementerian dan lembaga sudah dibentuk. Anggaran sudah digelontorkan. Satgas sudah dibuat. Teknologi pemantauan sudah semakin canggih. Bahkan pemerintah memiliki kemampuan mendeteksi titik panas dari satelit hampir secara real time.
Tetapi mengapa api tetap saja muncul setiap tahun?
Di sinilah persoalannya.
Pemerintah mungkin mampu mendeteksi api, tetapi belum tentu mampu mencegah api.
Kita terlalu sering membanggakan kemampuan menemukan hotspot, seolah-olah kemampuan melihat titik merah di peta sudah merupakan keberhasilan. Padahal ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan berapa banyak titik api yang berhasil dideteksi, melainkan berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum terjadi.
Kalau setiap tahun kita hanya sibuk memadamkan api setelah kebakaran meluas, berarti negara bekerja di hilir, sementara sumber persoalannya dibiarkan di hulu.
Lebih menyedihkan lagi, persoalan kebakaran hutan dan lahan sebenarnya bukan hanya persoalan teknis. Ia berkaitan dengan tata kelola lahan, pembukaan kawasan, pengawasan konsesi, penegakan hukum, pengelolaan gambut, praktik pembakaran, serta kepentingan ekonomi yang berkelindan di sekitar sumber daya alam.
Karena itu, persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan mengirim helikopter water bombing atau membuat hujan buatan.
Itu penting, tetapi bukan solusi permanen.
Kita seperti memiliki pemadam kebakaran yang sangat sibuk, tetapi tidak pernah serius mencari tahu mengapa rumah yang sama terus terbakar setiap tahun.
Dan di sinilah kata “omon-omon” menjadi relevan.
Terlalu banyak slogan. Terlalu banyak janji. Terlalu banyak rapat. Terlalu banyak pernyataan bahwa pemerintah “serius menangani karhutla”. Tetapi publik membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: hasil.
Hutan tidak membutuhkan konferensi pers.
Masyarakat tidak membutuhkan jargon.
Yang dibutuhkan adalah hutan yang tidak terbakar, udara yang tidak dipenuhi asap, dan pelaku pembakaran yang benar-benar ditindak.
Setiap rezim boleh berganti. Presiden boleh berganti. Menteri boleh berganti. Nama program boleh berganti. Tetapi kalau cara berpikir dan cara kerjanya tetap sama, hasilnya juga akan sama.
Kita tidak kekurangan regulasi. Kita tidak kekurangan lembaga. Kita juga tidak kekurangan teknologi.
Yang mungkin kita kekurangan adalah kemauan untuk bekerja secara konsisten, keberanian menindak kepentingan yang berada di belakang kerusakan lingkungan, dan kemampuan membangun sistem pencegahan yang benar-benar efektif.
Sebab, kebakaran hutan yang terjadi berulang setiap tahun bukan lagi sekadar masalah alam.
Ia adalah rapor negara.
Dan kalau rapor itu terus-menerus menunjukkan nilai yang sama dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, maka publik berhak bertanya:
Sebenarnya negara ini tidak mampu mengatasinya, tidak mau mengatasinya, atau memang terlalu banyak kepentingan yang membuatnya tidak pernah benar-benar diselesaikan?
Jangan sampai setiap musim kemarau kita kembali menyaksikan hotspot bertambah, asap menebal, lalu pemerintah kembali tampil dengan pernyataan yang terdengar meyakinkan.
Karena pada akhirnya, negara tidak dinilai dari seberapa bagus pemerintah berbicara tentang kebakaran, tetapi dari seberapa sedikit hutan yang terbakar.
Kalau setiap tahun masalahnya sama, solusinya sama, dan hasilnya juga sama, maka mungkin sudah waktunya kita berhenti omon-omon dan mulai bekerja.
Tidak ada komentar