Genangan air mengganggu arus lalu lintas di jalur tersebut. Sejumlah pengendara sepeda motor yang berani melintas harus menghadapi risiko kendaraannya mogok karena mesinnya terendam air.
Dani, salah satu warga yang melintas di jalur tersebut mengaku, sepeda motornya tiba-tiba mati saat melaju menembus banjir. Ia terpaksa memandu sepeda motornya sekitar 200 meter untuk mencari lokasi yang lebih kering.
“Motor saya tiba-tiba berhenti karena air masuk ke mesin. Saya harus membimbingnya ke tempat yang kering,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Sudi, warga setempat. Ia mengatakan, banjir di jalur tersebut sebenarnya sudah sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun menurutnya, kondisi kali ini paling parah.
“Jalan ini sudah empat bulan lebih rutin tergenang banjir, tapi sekarang paling parah. Padahal ini jalur alternatif utama pemudik ke Paciran,” ujarnya.
Selain pengendara, dampak banjir juga dirasakan oleh pelajar yang setiap hari menyeberang jalan. Akbar, salah satu siswa yang menggunakan jalur tersebut untuk berangkat ke sekolah, mengaku aktivitasnya terganggu akibat genangan air.
“Banyak teman-teman yang seragamnya basah karena cipratan kendaraan besar. Kita harus ekstra hati-hati,” ujarnya.
Jalur Sukodadi–Karanggeneng–Paciran dikenal sebagai akses vital bagi pemudik yang ingin menghindari kemacetan di jalur nasional. Kondisi banjir yang terjadi menjelang musim mudik menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat, apalagi jika tidak segera ditangani.
Warga berharap pemerintah daerah dan provinsi segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut, termasuk memperbaiki sistem drainase agar banjir tidak terus terjadi.
Dengan perbaikan yang cepat, masyarakat berharap arus mudik lebaran tahun ini bisa berjalan lancar tanpa terganggu banjir di jalur alternatif. Wartawan: Hadi Hoy
Tidak ada komentar