Ada sesuatu yang menarik dari Jepang hari ini. Negeri yang dahulu dikenal sebagai kekuatan ekonomi besar, masyarakat dengan etos kerja tinggi, keluarga yang relatif solid, dan ruang hidup yang sangat teratur, kini menghadapi sebuah fenomena yang jauh lebih dalam daripada sekadar penurunan jumlah penduduk.
Jepang sedang mengalami apa yang dapat disebut sebagai “downsizing of life”—kehidupan yang semakin diperkecil.
Bukan hanya jumlah penduduk yang menyusut. Rumah semakin kecil. Pola konsumsi semakin sederhana. Hubungan sosial semakin terbatas. Bahkan lingkaran pertemanan pun semakin mengecil.
Nikkei menggambarkan fenomena ini melalui gagasan tentang Jepang yang memilih sesuatu yang “lebih sedikit, lebih sempit, dan lebih dekat.” Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi cerminan perubahan demografi, ekonomi, dan nilai sosial Jepang.
Jepang sebenarnya sudah lama hidup dalam ruang yang terbatas.
Di Tokyo, rumah mungil bukan sesuatu yang aneh. Apartemen dengan luas terbatas dapat menjadi tempat tinggal satu orang, pasangan, bahkan keluarga kecil. Orang Jepang terbiasa mengatur barang dengan sangat efisien. Setiap sentimeter ruang memiliki fungsi.
Tetapi sekarang, penyusutan itu bergerak lebih jauh.
Ketika jumlah anak semakin sedikit dan jumlah orang tua semakin banyak, rumah besar kehilangan sebagian relevansinya. Keluarga besar semakin jarang. Anak-anak meninggalkan rumah untuk bekerja di kota. Orang tua akhirnya tinggal sendiri.
Maka rumah pun mengikuti perubahan keluarga.
Rumah yang dahulu dirancang untuk empat atau lima orang, kini mungkin hanya dihuni oleh satu atau dua orang.
Ini bukan semata-mata persoalan arsitektur. Ukuran rumah adalah cermin ukuran keluarga.
Dan ukuran keluarga adalah cermin perubahan masyarakat.
Yang lebih menarik adalah bahwa fenomena “mengecil” ini tidak berhenti pada ruang fisik.
Persahabatan juga semakin kecil.
Generasi muda Jepang menghadapi kehidupan yang berbeda dengan generasi orang tua mereka. Tekanan pekerjaan, biaya hidup, perubahan pola perkawinan, rendahnya angka kelahiran, dan kehidupan perkotaan membuat hubungan sosial tidak selalu berkembang seperti dahulu.
Seseorang bisa memiliki banyak kontak di telepon pintar, tetapi hanya memiliki sedikit orang yang benar-benar dekat.
Ironisnya, teknologi memperluas jaringan sosial sekaligus dapat mempersempit kedalaman hubungan.
Kita bisa berkomunikasi dengan seribu orang, tetapi mungkin hanya memiliki dua atau tiga orang yang dapat kita datangi ketika sedang mengalami kesulitan.
Jepang bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan ini. Tetapi Jepang memperlihatkannya lebih awal dan dalam bentuk yang sangat jelas.
Fenomena seperti hikikomori, misalnya, menunjukkan bentuk ekstrem dari penarikan diri dari kehidupan sosial. Persoalannya bukan sekadar seseorang tinggal di dalam rumah, tetapi bagaimana hubungan seseorang dengan masyarakat dapat semakin mengecil.
Namun kita jangan buru-buru melihat semua ini sebagai kemunduran.
Mengecil tidak selalu berarti memburuk.
Rumah kecil dapat berarti lebih efisien. Konsumsi yang lebih sedikit dapat berarti lebih ramah lingkungan. Lingkaran pertemanan yang lebih kecil dapat berarti hubungan yang lebih intim.
Ada nilai Jepang yang sangat terkenal: mottainai—jangan menyia-nyiakan sesuatu.
Dalam konteks baru, mungkin Jepang sedang menemukan bentuk mottainai yang lain: jangan menyia-nyiakan ruang, waktu, energi, uang, bahkan hubungan manusia.
Masalahnya adalah ketika “kesederhanaan” bukan lagi pilihan, melainkan akibat dari keterbatasan.
Rumah kecil karena memang ingin hidup sederhana tentu berbeda dengan rumah kecil karena seseorang tidak mampu memiliki rumah yang lebih layak.
Pertemanan sedikit karena seseorang memilih hubungan yang berkualitas juga berbeda dengan tidak memiliki teman karena masyarakat semakin terfragmentasi.
Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca fenomena Jepang.
Jepang sebenarnya sedang memperlihatkan kepada negara-negara lain sebuah kemungkinan masa depan.
Populasi menua. Anak semakin sedikit. Keluarga semakin kecil. Kota menjadi semakin mahal. Rumah menjadi semakin kecil. Hubungan sosial berubah. Wilayah pedesaan kehilangan penduduk. Bahkan banyak rumah kosong muncul karena pemiliknya meninggal atau generasi berikutnya tidak lagi tinggal di sana.
Dengan kata lain, krisis demografi akhirnya menjadi krisis ruang dan krisis hubungan manusia.
Sebuah masyarakat tidak hanya membutuhkan cukup banyak manusia untuk menggerakkan ekonomi.
Ia juga membutuhkan cukup banyak manusia untuk mempertahankan komunitas.
Sebuah desa bukan sekadar kumpulan rumah. Desa membutuhkan anak-anak, sekolah, guru, pedagang, dokter, tetangga, tempat berkumpul dan interaksi sosial.
Ketika manusia pergi satu demi satu, yang hilang bukan hanya konsumen dan tenaga kerja.
Yang hilang adalah kehidupan sosialnya.
Di sinilah Jepang menjadi sangat relevan bagi Indonesia.
Indonesia memang masih memiliki bonus demografi dan jumlah penduduk yang besar. Kita bahkan sering membanggakan diri sebagai negara dengan populasi lebih dari 280 juta manusia.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
“Berapa banyak penduduk Indonesia?”
Pertanyaannya adalah:
“Masyarakat seperti apa yang sedang kita bangun?”
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, membangun gedung tinggi, kawasan industri, jalan tol dan kota baru, tetapi lupa membangun sesuatu yang jauh lebih penting: keluarga dan komunitas.
Sebab ekonomi bisa tumbuh sementara masyarakat menyusut dari dalam.
Kita dapat memiliki kota yang semakin besar, tetapi hubungan antarwarganya semakin kecil.
Kita dapat memiliki rumah semakin mewah, tetapi penghuninya semakin kesepian.
Kita dapat memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tidak memiliki seorang pun yang bisa mengetuk pintu rumah ketika kita membutuhkan pertolongan.
Barangkali pelajaran terbesar dari Jepang bukanlah bahwa rumah harus besar atau kecil.
Bukan pula bahwa seseorang harus memiliki banyak teman.
Pelajarannya adalah bahwa kualitas kehidupan tidak dapat diukur hanya dengan ukuran fisik.
Rumah kecil bisa menjadi rumah yang penuh kebahagiaan.
Keluarga kecil bisa menjadi keluarga yang sangat hangat.
Lingkaran pertemanan kecil bisa menghasilkan persahabatan yang sangat dalam.
Sebaliknya, rumah besar bisa terasa kosong. Keluarga besar bisa terpecah. Dan ribuan teman bisa tidak berarti apa-apa ketika seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan.
Karena itu, persoalan Jepang sesungguhnya bukan tentang masyarakat yang menjadi kecil.
Persoalannya adalah:
Apakah kehidupan yang semakin kecil itu masih mampu memberikan manusia rasa memiliki, rasa dicintai, dan rasa dibutuhkan?
Sebab pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan rumah yang besar.
Manusia membutuhkan tempat untuk pulang.
Dan manusia tidak membutuhkan seribu teman.
Manusia membutuhkan beberapa orang yang benar-benar hadir ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Jepang mungkin sedang menjadi masyarakat yang semakin kecil.
Tetapi justru dari masyarakat yang mengecil itulah dunia sedang belajar satu hal besar:
Yang paling berbahaya bukan ketika ruang hidup kita menjadi sempit, melainkan ketika hati dan hubungan antarmanusia ikut menyempit.
Tidak ada komentar