Jepang adalah negeri yang sangat pandai mengatur kehidupan. Tetapi rupanya, ia belum sepenuhnya pandai menemani manusia menghadapi kesunyian.
Pada 2025, hampir 77 ribu orang di Jepang ditemukan meninggal sendirian di rumahnya. Angkanya mencapai sekitar 76.941 orang. Setahun sebelumnya, pada 2023, jumlahnya sekitar 76 ribu.
Bayangkan angka itu.
Bukan sekadar statistik.
Di balik setiap angka ada sebuah pintu yang tertutup. Ada kamar yang sunyi. Ada telepon yang tidak lagi berdering. Ada seseorang yang mungkin pernah memiliki keluarga, teman, pekerjaan, cita-cita, bahkan seseorang yang pernah mencintainya.
Lalu pada suatu hari, ia meninggal.
Sendirian.
Dan dunia baru menyadarinya beberapa waktu kemudian.
Fenomena ini di Jepang sering dikaitkan dengan istilah kodokushi—kematian dalam kesendirian.
Tetapi sesungguhnya, kodokushi bukan hanya soal bagaimana seseorang mati. Ia adalah cerita tentang bagaimana seseorang menjalani hidup sebelum kematiannya.
Sebab manusia biasanya tidak tiba-tiba menjadi sendirian pada hari kematiannya.
Kesendirian itu sering dibangun sedikit demi sedikit.
Teman-teman pergi. Anak-anak tumbuh dan tinggal jauh. Pasangan meninggal atau berpisah. Tetangga semakin tidak saling mengenal. Kesibukan membuat orang tidak punya waktu berkunjung. Teknologi membuat komunikasi terasa mudah, tetapi sekaligus memungkinkan kita hidup tanpa benar-benar bertemu.
Seseorang masih mempunyai nomor telepon puluhan orang di dalam ponselnya.
Tetapi tidak ada seorang pun yang menelepon.
Ia mungkin mempunyai ratusan teman di media sosial.
Tetapi ketika ia tidak muncul selama beberapa hari, tidak ada yang bertanya:
“Kamu ke mana?”
Di situlah paradoks masyarakat modern muncul.
Kita semakin terhubung, tetapi semakin banyak orang yang merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Ada sesuatu yang tragis dalam gambaran seseorang yang meninggal sendirian di rumah.
Rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling hangat bagi manusia, berubah menjadi tempat terakhir seseorang mengalami dunia.
Tidak ada tangan yang menggenggam.
Tidak ada suara yang berkata, “Tenang.”
Tidak ada anak yang datang.
Tidak ada sahabat yang duduk di samping tempat tidur.
Tidak ada yang menyadari bahwa napas terakhir telah selesai.
Yang tersisa hanyalah keheningan.
Kemudian, beberapa hari atau bahkan lebih lama, seseorang mungkin datang karena curiga: surat menumpuk, telepon tidak dijawab, bau mulai tercium dari balik pintu, atau tetangga akhirnya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pintu dibuka.
Dan kehidupan seseorang ternyata sudah berakhir.
Barangkali yang paling menyedihkan bukan bahwa ia mati sendirian, melainkan bahwa tidak ada yang segera menyadari bahwa ia telah tiada.
Jepang adalah salah satu simbol keberhasilan modernitas.
Kereta datang tepat waktu. Kota bersih. Jalan tertib. Teknologi maju. Pelayanan publik efisien. Orang menghormati ruang pribadi. Sistem sosial bekerja dengan disiplin yang luar biasa.
Tetapi manusia bukan mesin.
Manusia membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kereta cepat, robot, kecerdasan buatan, atau gedung-gedung pencakar langit:
kehadiran manusia lain.
Kita membutuhkan seseorang yang datang tanpa alasan.
Seseorang yang bertanya, “Sudah makan?”
Seseorang yang mengingat ulang tahun kita.
Seseorang yang tahu bahwa hari ini kita sedang tidak baik-baik saja, meskipun kita berkata, “Saya baik-baik saja.”
Mungkin inilah salah satu harga dari individualisme yang terlalu jauh: kebebasan bisa berubah menjadi kesendirian.
Privasi yang begitu dihormati bisa berubah menjadi isolasi.
Kemandirian yang dibanggakan bisa berubah menjadi ketidakpedulian.
Dan rumah yang nyaman bisa berubah menjadi sebuah pulau.
Ada pelajaran penting yang mungkin justru berlaku jauh di luar Jepang.
Kita sering mengira bahwa orang yang kesepian adalah mereka yang hidup sendirian.
Tidak selalu.
Ada orang yang tinggal sendirian tetapi bahagia.
Sebaliknya, ada orang yang tinggal bersama pasangan, anak-anak, bahkan dalam rumah yang ramai—tetapi merasa sangat kesepian.
Kesepian bukan soal berapa banyak manusia berada di sekitar kita.
Kesepian adalah ketika tidak ada seorang pun yang benar-benar hadir untuk kita.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu melakukan sesuatu yang besar.
Sesekali teleponlah teman lama.
Datangi saudara.
Tanyakan kabar tetangga.
Kirim pesan kepada seseorang yang sudah lama tidak kita dengar.
Bukan karena ia sedang membutuhkan sesuatu.
Justru karena ia mungkin tidak sedang membutuhkan apa-apa—kecuali seseorang yang mengingat bahwa ia ada.
Sebab suatu hari nanti, kita semua akan mati.
Itu pasti.
Yang tidak pasti adalah apakah ketika kematian itu datang, kita akan menghadapinya dalam kesunyian atau ditemani oleh seseorang yang berkata:
“Saya di sini.”
Angka 76.941 bukan sekadar angka statistik Jepang.
Ia adalah 76.941 pengingat bahwa sebuah masyarakat tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, teknologi, panjangnya usia harapan hidup, atau kecanggihan infrastrukturnya.
Sebuah masyarakat juga harus bertanya:
Apakah manusia di dalamnya masih saling membutuhkan?
Sebab mungkin ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa cepat keretanya melaju.
Tetapi juga:
seberapa cepat seseorang datang ketika mengetahui tetangganya sedang kesepian.
Dan mungkin ukuran paling sederhana dari sebuah masyarakat yang manusiawi adalah ini:
Ketika seseorang menghilang, masih adakah yang mencarinya?
Jangan sampai seseorang meninggal di balik pintu rumahnya, sementara dunia di luar terus berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Karena pada akhirnya, yang membuat kematian begitu sunyi bukanlah tidak adanya suara.
Melainkan tidak adanya seseorang yang peduli bahwa suara itu telah berhenti.
Tidak ada komentar