xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Kritik Itu Pedas, Pujian Bisa Lebih Berbahaya

waktu baca 3 menit
Rabu, 19 Agu 2026 08:34 13 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Mengapa kritik yang keras sering dianggap sebagai persoalan?

Seolah-olah mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan adalah sebuah kesalahan. Seolah-olah suara yang meninggi lebih berbahaya daripada senyum yang berlebihan. Padahal, dalam kehidupan publik, kritik yang keras belum tentu merusak; justru pujian yang diberikan tanpa kejujuran bisa jauh lebih berbahaya.

Kritik pada dasarnya adalah bentuk ketidaksetujuan. Ia bisa kasar, tajam, bahkan menyakitkan. Tetapi selama kritik itu lahir dari argumen dan ditujukan untuk menguji kekuasaan, kebijakan, atau gagasan, ia masih memiliki fungsi intelektual: membongkar kelemahan sebelum kelemahan itu menjadi bencana.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Sebaliknya, pujian yang tidak lahir dari ketulusan dapat berubah menjadi alat kekuasaan.

Orang yang terus-menerus berkata, “Bapak luar biasa,” “kebijakan ini hebat,” “semuanya sudah benar,” padahal ia tahu ada yang salah, bukan sedang membantu pemimpin. Ia sedang membantu dirinya sendiri.

Di situlah kritik dan penjilatan berpisah.

Kritik mempertaruhkan hubungan demi kebenaran. Penjilatan mempertaruhkan kebenaran demi hubungan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah: “Mengapa kritiknya begitu keras?”

Pertanyaannya adalah:

“Mengapa kita begitu takut mendengar sesuatu yang tidak ingin kita dengar?”

Dalam masyarakat yang sehat, kritik tidak perlu dibuat sopan sampai kehilangan makna. Kritik boleh keras selama memiliki alasan. Yang harus ditolak bukan kerasnya suara, melainkan kosongnya argumen.

Sebab ada perbedaan besar antara kritik yang keras dan kebencian yang buta.

Kritik mengatakan: “Ini salah, dan inilah alasannya.”

Kebencian mengatakan: “Saya tidak suka, karena itu pasti salah.”

Demikian pula, ada perbedaan antara pujian dan penghormatan.

Penghormatan masih memungkinkan seseorang berkata, “Saya menghormati Anda, tetapi keputusan ini keliru.”

Penjilatan tidak.

Penjilat membutuhkan kekuasaan dalam keadaan selalu benar, karena dari sanalah ia memperoleh keuntungan. Maka ia tidak memberikan cermin kepada penguasa. Ia memberikan kaca pembesar yang hanya menampilkan kehebatan.

Dan di sinilah bahayanya.

Pemimpin yang dikelilingi pengkritik mungkin sering merasa tidak nyaman. Tetapi pemimpin yang dikelilingi penjilat bisa kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan.

Sejarah kekuasaan hampir selalu memiliki penyakit yang sama: semakin besar kekuasaan, semakin banyak orang yang mengatakan apa yang ingin didengar oleh penguasa.

Akhirnya, kritik dianggap sebagai ancaman, sementara pujian dianggap sebagai loyalitas.

Padahal bisa jadi justru sebaliknya.

Orang yang mengkritik kita mungkin sedang menyelamatkan kita dari kesalahan. Sedangkan orang yang terus memuji kita mungkin sedang mendorong kita semakin jauh ke dalam kesalahan.

Karena itu, jangan mengukur kualitas seseorang dari seberapa keras ia memuji kita, tetapi dari keberaniannya mengatakan “tidak” ketika kita memang salah.

Kritik yang keras dapat melukai harga diri.

Tetapi pujian yang palsu dapat menghancurkan kesadaran.

Dan bagi kekuasaan, kehilangan kesadaran jauh lebih berbahaya daripada kehilangan kenyamanan.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg