Seorang tokoh intelektual menanggapi tulisan saya yang berjudul “Kapan Kita Bisa Punya Presiden seperti Obama?”
Jawabannya sederhana, tetapi mengandung satire yang lumayan dalam:
“Kita hire Obama saja, Pak. Dua periode. Beri naturalisasi, bisa kan? Apalagi pernah SD di Jakarta.”
Ads Catra_inline artikel.jpg
Saya tertawa.
Sebab, kalau ukuran “bisa atau tidak” adalah Indonesia, maka pertanyaannya justru harus dibalik:
Apa yang tidak bisa di Indonesia?
Maka saya menjawab:
“Apa yang tidak bisa di Indonesia? Jokowi bisa jadi presiden dengan fotokopian ijazahnya. Gibran bahkan tidak punya ijazah SMA bisa jadi wapres.”
Tentu, kalimat itu tidak sedang mengajak kita mengabaikan hukum, apalagi menuduh seseorang melakukan pemalsuan dokumen sebagai fakta yang sudah terbukti. Ini satire—sebuah cara untuk memotret keganjilan politik melalui ironi.
Indonesia memang negeri yang sering membuat kita kehabisan kata “mustahil.”
Di negeri lain, seseorang mungkin harus menempuh jalan panjang untuk memenuhi syarat menjadi pemimpin. Di sini, jalan panjang kadang bisa menjadi pendek. Sangat pendek.
Yang bagi orang biasa merupakan tembok, bagi elite politik kadang berubah menjadi pintu.
Yang bagi rakyat adalah persyaratan, bagi kekuasaan bisa menjadi perdebatan.
Dan yang bagi akal sehat merupakan pertanyaan sederhana, bisa berubah menjadi perkara yang panjangnya seperti disertasi.
Karena itu, ketika seorang teman bercanda, “Hire Obama saja,” saya justru membayangkan sebuah iklan lowongan kerja:
DICARI: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Kualifikasi:
Pernah tinggal di Jakarta — boleh.
Pernah sekolah di Jakarta — nilai plus.
Bisa berbahasa Indonesia — diusahakan.
Punya pengalaman memimpin negara adidaya — lebih baik.
Pernah menjadi Presiden Amerika Serikat — tidak masalah.
Persyaratan administrasi — nanti kita bicarakan.
Dua periode — kalau rakyat suka, lanjutkan.
Naturalisasi — bisa diurus.
Saya tidak tahu apakah Obama akan tertarik.
Tetapi kalau benar-benar bisa, mungkin ia harus mempersiapkan diri menghadapi satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolahnya di Jakarta:
Politik Indonesia.
Di sini, menjadi presiden bukan sekadar soal kemampuan.
Ada dinasti.
Ada koalisi.
Ada elektabilitas.
Ada endorsement.
Ada baliho.
Ada buzzer.
Ada survei.
Ada tafsir konstitusi.
Dan, tentu saja, ada satu kata sakti yang sering membuat semua persoalan menjadi relatif:
kekuasaan.
Maka sebenarnya pertanyaan saya tentang Obama bukanlah benar-benar tentang Barack Obama.
Saya tidak sedang mengusulkan agar Indonesia mengimpor presiden dari Amerika.
Saya sedang bertanya:
Mengapa kita sulit membayangkan lahirnya seorang pemimpin Indonesia yang memiliki kualitas kepemimpinan, kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, dan daya tarik moral seperti Obama?
Bukankah kita memiliki lebih dari 280 juta manusia?
Bukankah negeri ini memiliki ribuan profesor, jutaan sarjana, ulama, teknokrat, diplomat, pengusaha, aktivis, jurnalis, seniman, dan anak-anak muda yang luar biasa?
Masa dari sekian banyak manusia itu, kita tidak mampu menemukan satu orang yang layak menjadi presiden?
Atau jangan-jangan masalahnya bukan kekurangan calon pemimpin.
Masalahnya adalah sistem kita terlalu pandai memilih calon penguasa, tetapi belum tentu pandai memilih pemimpin.
Di situlah satire tadi menjadi serius.
Kalau Obama pernah bersekolah di Jakarta, mungkin memang secara teknis kita bisa bercanda:
“Pak Obama, silakan pulang. Indonesia membutuhkan Anda.”
Tetapi setelah tertawa, kita seharusnya kembali bertanya:
Mengapa kita harus mengimpor Obama, kalau seharusnya kita mampu melahirkan “Obama-Obama” kita sendiri?
Sebab bangsa yang besar semestinya tidak sibuk mencari pemimpin dari luar.
Ia seharusnya mampu menciptakan lingkungan politik yang memungkinkan orang terbaik dari dalam bangsanya sendiri naik ke atas.
Dan kalau itu belum terjadi, mungkin masalahnya bukan karena Indonesia kekurangan manusia hebat.
Mungkin karena terlalu banyak pintu kekuasaan yang hanya bisa dibuka dari dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri.
Jadi, sekali lagi:
Apa yang tidak bisa di Indonesia?
Pertanyaan itu sebenarnya bukan lelucon.
Itulah bagian yang paling menakutkan dari satire ini.
Tidak ada komentar