By Paman BED“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”
“Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Tata Kelola Kehidupan.”
“Kamu bisa bicara dan menasihati seperti itu, karena kamu tidak pernah merasakannya.”
Kalimat itu sering terdengar ketika seseorang sedang menghadapi masalah lalu dinasihati bagaimana seharusnya bersikap, menata hati, dan mengendalikan perbuatan.
Kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. Bahkan secara manusiawi sangat masuk akal. Orang yang sedang berada di luar masalah memang tidak merasakan langsung beratnya beban yang sedang dipikul oleh orang lain. Ia mungkin bisa melihat jalan keluar dengan lebih jernih karena dirinya tidak sedang berada di tengah badai.
Setiap manusia memiliki ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan ekonomi, keluarga, pekerjaan, jabatan, penghinaan, kegagalan, pengkhianatan, bahkan ada yang justru diuji dengan kelimpahan harta dan kekuasaan.
Ujian tidak pernah seragam.
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Karena itu, membandingkan penderitaan seseorang dengan penderitaan orang lain sering kali tidak adil.
Apa yang terlihat ringan bagi seseorang, bisa menjadi ujian yang sangat berat bagi orang lain.
Namun ada sesuatu yang menarik.
Bentuk ujiannya boleh berbeda, tetapi prinsip menghadapi ujian memiliki pedoman yang sama: Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Di situlah letak pentingnya belajar menjadi manusia yang pandai bersyukur.
Bersyukur Bukan Berarti Tidak Boleh Sedih
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Bersyukur bukan berarti seseorang tidak boleh menangis. Bersyukur bukan berarti tidak boleh kecewa. Bersyukur bukan berarti harus selalu tersenyum ketika sedang kehilangan. Bersyukur juga bukan berarti pura-pura kuat di hadapan manusia.
Nabi Ya’qub AS pernah menangis dan sangat bersedih ketika kehilangan Yusuf AS.
Al-Qur’an mengabadikan ucapannya:
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf: 86)
Artinya, Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi batu.
Manusia boleh sedih.
Manusia boleh menangis.
Manusia boleh merasa sakit.
Tetapi jangan sampai kesedihan membuat seseorang kehilangan hubungan dengan Allah.
Inilah perbedaannya.
Sedih adalah perasaan. Kufur terhadap nikmat adalah sikap.
Perasaan tidak selalu bisa kita kendalikan. Tetapi bagaimana kita merespons perasaan itulah yang menjadi bagian dari tanggung jawab kita.
Ketika kesedihan membawa kita semakin dekat kepada Allah, kesedihan itu dapat menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual.
Sebaliknya, ketika kesedihan membuat kita terus-menerus menyalahkan Allah, menyalahkan kehidupan, menyalahkan semua orang, dan melupakan seluruh nikmat yang masih dimiliki, di situlah masalah mulai menjadi lebih besar daripada sekadar persoalan yang sedang dihadapi.
Kalimat yang Sering Kita Lupakan
Allah memberikan satu janji yang sangat jelas:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini sering kita dengar.
Tetapi pertanyaannya: sudahkah kita memahami kedalaman maknanya?
Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah setelah mendapatkan sesuatu yang kita sukai.
Syukur adalah kemampuan untuk mengenali nikmat, mengakui sumbernya, lalu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.
* Mata adalah nikmat.
* Pendengaran adalah nikmat.
* Akal adalah nikmat.
* Kesehatan adalah nikmat.
* Keluarga adalah nikmat.
* Teman yang baik adalah nikmat.
* Kesempatan untuk bekerja adalah nikmat.
* Kesempatan untuk beribadah adalah nikmat.
* Bahkan kesempatan untuk bangun pagi dan masih diberikan umur untuk memperbaiki kesalahan adalah nikmat.
Persoalannya, manusia sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.
Kita baru menghargai kesehatan ketika sakit.
Padahal sebagian besar nikmat itu sedang kita gunakan setiap hari tanpa pernah benar-benar kita sadari.
Mengapa Manusia Lebih Mudah Mengeluh daripada Bersyukur?
Karena manusia cenderung memperhatikan apa yang kurang daripada apa yang sudah dimiliki.
Satu masalah dapat menutupi sepuluh nikmat.
Satu kegagalan dapat membuat seseorang melupakan seratus keberhasilan.
Satu orang yang menyakiti hati dapat membuat kita lupa kepada puluhan orang yang selama ini menyayangi dan membantu kita.
Inilah jebakan pikiran manusia.
Kita menghitung kehilangan dengan sangat teliti, tetapi sering menghitung nikmat dengan sangat malas.
Padahal kalau mau berhenti sejenak dan melakukan inventarisasi kehidupan, mungkin kita akan terkejut.
Berapa banyak nikmat yang masih ada?
* Masih bisa bernapas.
* Masih bisa melihat.
* Masih bisa berjalan.
* Masih bisa berpikir.
* Masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf.
* Masih bisa bersujud.
* Masih bisa membaca Al-Qur’an.
* Masih bisa memperbaiki kesalahan.
* Masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.
Bukankah itu semua luar biasa?
Allah bahkan mengingatkan:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini seharusnya membuat kita malu kepada diri sendiri.
Bagaimana mungkin manusia mengeluh karena beberapa hal yang tidak dimilikinya, sementara nikmat yang dimilikinya bahkan tidak sanggup dihitung?
Syukur Adalah Cara Mengubah Cara Pandang
Orang yang bersyukur bukan orang yang hidupnya tanpa masalah.
Justru bisa jadi masalahnya sama berat dengan orang lain.
Yang membedakan adalah cara memandang masalah tersebut.
Bagi orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan pekerjaan bisa dianggap sebagai akhir kehidupan.
Tetapi bagi orang yang bersyukur, kehilangan pekerjaan dapat dibaca sebagai sebuah fase yang mungkin sedang mengajarkan kesabaran, membuka peluang baru, atau mengingatkan bahwa selama ini dirinya terlalu bergantung kepada pekerjaan dan lupa kepada Pemberi rezeki.
Bagi orang yang mengalami kegagalan, kegagalan bisa menjadi alasan untuk berhenti.
Tetapi bisa pula menjadi bahan evaluasi.
Bagi orang yang kehilangan sesuatu, kehilangan bisa menjadi luka yang terus dibawa sepanjang hidup.
Tetapi bisa pula menjadi pintu untuk memahami bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi milik kita.
Bukankah semua itu pada akhirnya akan kembali kepada Allah?
* Syukur tidak selalu mengubah keadaan. Tetapi syukur dapat mengubah cara kita menghadapi keadaan.
* Dan perubahan cara pandang itu sering kali menjadi awal perubahan kehidupan.
Ujian Tidak Selalu Berbentuk Kesulitan
Ada satu hal yang sering luput.
Kita mengira ujian hanya berupa kesulitan.
Padahal kemudahan juga ujian.
Kemiskinan adalah ujian.
Kekayaan juga ujian.
Tidak memiliki jabatan adalah ujian.
Memiliki jabatan juga ujian.
Tidak memiliki banyak pengikut adalah ujian.
Memiliki banyak pengikut juga ujian.
Sakit adalah ujian.
Sehat juga ujian.
Kegagalan adalah ujian.
Keberhasilan pun ujian.
Karena pertanyaan Allah bukan hanya:
“Apa yang kamu lakukan ketika kehilangan?”
Tetapi juga:
“Apa yang kamu lakukan ketika mendapatkan?”
Orang miskin diuji dengan kesabarannya.
Orang kaya diuji dengan syukurnya.
Orang yang tidak berkuasa diuji dengan keteguhannya.
Orang yang memiliki kekuasaan diuji dengan keadilannya.
Di sinilah syukur menjadi jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan.
Syukur Harus Naik Kelas
Syukur yang paling sederhana adalah syukur dengan lisan: mengucapkan Alhamdulillah.
Tetapi syukur tidak berhenti di lisan.
Syukur dengan hati berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
Syukur dengan perbuatan berarti menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang diridai Allah.
Memiliki ilmu adalah nikmat. Maka ilmu seharusnya digunakan untuk mencerdaskan, bukan menyombongkan diri.
Memiliki harta adalah nikmat. Maka harta seharusnya digunakan untuk memberi manfaat, bukan hanya mempertontonkan kemewahan.
Memiliki jabatan adalah nikmat sekaligus amanah. Maka jabatan seharusnya digunakan untuk melayani, bukan memperkaya diri.
Memiliki kemampuan berbicara adalah nikmat. Maka kata-kata seharusnya menjadi jalan menghadirkan kebenaran, bukan alat melukai orang lain.
Dengan demikian, syukur sesungguhnya adalah bentuk pertanggungjawaban atas nikmat.
Semakin besar nikmat, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Bersyukur
Rasulullah ﷺ memberikan sebuah pelajaran penting:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesannya sederhana tetapi sangat dalam.
Kalau terus melihat ke atas, kita tidak akan pernah merasa cukup.
Selalu ada orang yang lebih kaya.
Lebih cantik.
Lebih pintar.
Lebih terkenal.
Lebih berkuasa.
Lebih sukses.
Lebih banyak hartanya.
Lebih tinggi jabatannya.
Akibatnya, kehidupan berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
Tetapi ketika sesekali melihat ke bawah, kita mulai menyadari betapa banyak yang sebenarnya telah Allah berikan.
Bukan untuk merendahkan mereka yang berada di bawah kita.
Melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa hidup kita sesungguhnya sudah dipenuhi nikmat.
Ketika Keluhan Menjadi Cara Hidup
Yang berbahaya bukan keluhan sesekali.
Yang berbahaya adalah ketika keluhan menjadi karakter.
Setiap hari yang terlihat hanya kekurangan.
Bangun pagi mengeluh.
Bekerja mengeluh.
Bertemu orang mengeluh.
Keluarga mengeluh.
Pemerintah mengeluh.
Ekonomi mengeluh.
Teman mengeluh.
Kesehatan mengeluh.
Bahkan ketika memperoleh sesuatu pun masih menemukan alasan untuk mengeluh.
Pada titik tertentu, masalah bukan lagi berada di luar diri.
Masalah sudah berpindah ke dalam diri.
Seseorang tidak lagi menderita hanya karena keadaan, tetapi karena cara pikirnya sendiri.
Ia hidup dalam lingkaran penyesalan, kekecewaan, kesedihan dan rasa tidak pernah cukup.
Padahal nikmat terus mengalir.
Allah terus memberi.
Tetapi mata batin tidak lagi mampu melihatnya.
Di sinilah seseorang pada hakikatnya sedang menyiksa dirinya sendiri.
Bukan karena Allah tidak memberikan nikmat, tetapi karena ia kehilangan kemampuan untuk mengenali nikmat.
Syukur Bukan Berarti Pasrah
Ini juga penting.
Syukur bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Orang yang bersyukur tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap berobat ketika sakit.
Tetap mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.
Tetap memperjuangkan keadilan.
Tetap memperbaiki kehidupan.
Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Inilah keseimbangan antara ikhtiar, sabar, tawakal dan syukur.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang keadaan seorang mukmin:
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua perkaranya baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Perhatikan baik-baik.
Ketika mendapatkan nikmat: bersyukur.
Ketika mendapatkan musibah: bersabar.
Dua-duanya menghasilkan kebaikan.
Inilah salah satu rahasia kekuatan spiritual seorang mukmin.
Mungkin Masalah Kita Bukan Kekurangan Nikmat
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan karena kita kekurangan nikmat.
Mungkin kita yang kekurangan kesadaran terhadap nikmat.
Kita sibuk menghitung apa yang hilang, tetapi lupa menghitung apa yang masih ada.
Kita sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki, tetapi lupa mensyukuri apa yang sudah diberikan.
Kita sibuk melihat kehidupan orang lain, lalu merasa kehidupan sendiri tidak sempurna.
Padahal Allah tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan dunia akan sempurna.
Yang Allah janjikan adalah bahwa manusia akan diuji.
Dan dalam setiap ujian, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih: mengeluh atau belajar, menyerah atau bangkit, kufur atau bersyukur.
Karena itu, mulai hari ini mungkin kita perlu melakukan sesuatu yang sederhana.
Sebelum tidur, jangan hanya mengingat masalah yang terjadi hari ini.
Cobalah mengingat nikmat apa yang masih diberikan Allah hari ini.
Berapa kali kita bernapas?
Berapa kali mata kita melihat?
Berapa kali kaki kita melangkah?
Siapa yang masih menyayangi kita?
Siapa yang masih bisa kita bahagiakan?
Kesalahan apa yang masih diberi kesempatan untuk kita perbaiki?
Dan yang paling penting:
Masihkah Allah memberikan kita kesempatan untuk bersujud kepada-Nya?
Jika jawabannya masih, maka sesungguhnya masih banyak alasan untuk bersyukur.
Kesimpulan
Pandai bersyukur bukan berarti tidak pernah merasakan kesedihan.
Pandai bersyukur berarti mampu menemukan makna di balik kesedihan, mampu melihat nikmat di tengah keterbatasan, dan mampu menjaga hati agar tidak berubah menjadi kufur hanya karena kehidupan tidak berjalan sesuai dengan keinginan.
Kita tidak selalu bisa memilih ujian yang datang.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana menghadapinya.
Kita tidak selalu mampu mengendalikan keadaan.
Tetapi kita bisa belajar mengendalikan hati, pikiran, ucapan dan perbuatan.
Karena itu, jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Jangan tunggu sakit untuk menghargai sehat.
Jangan tunggu kesepian untuk menghargai keluarga.
Jangan tunggu kehilangan pekerjaan untuk menghargai kesempatan bekerja.
Jangan tunggu kematian datang untuk menyadari betapa mahalnya kesempatan hidup.
Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah cara hidup.
Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukan:
“Apa yang belum Allah berikan kepada kita?”
Tetapi:
“Sudahkah kita mensyukuri apa yang selama ini Allah titipkan kepada kita?”
Sebab bisa jadi, nikmat terbesar yang sedang kita cari sebenarnya sudah berada di tangan kita—hanya saja hati kita belum cukup peka untuk melihatnya.
Saran
Mari membiasakan diri melakukan muhasabah syukur setiap hari. Tidak perlu rumit. Cukup tanyakan kepada diri sendiri tiga hal:
* Apa nikmat yang Allah berikan hari ini?
* Apa yang sudah dilakukan untuk mensyukurinya?
* Apa yang bisa dilakukan agar nikmat itu menjadi manfaat bagi orang lain?
Jika kebiasaan sederhana ini dilakukan secara konsisten, syukur tidak lagi berhenti sebagai ucapan di bibir.
Ia akan berubah menjadi kesadaran.
Kesadaran akan melahirkan ketenangan.
Ketenangan melahirkan kebijaksanaan.
Dan kebijaksanaan akan membuat kita lebih mampu menghadapi ujian kehidupan dengan hati yang lapang.
Karena orang yang pandai bersyukur bukanlah orang yang tidak memiliki masalah. Ia adalah orang yang tidak membiarkan masalah membuatnya lupa kepada Allah.
Referensi
* Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 286 — Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.
* Al-Qur’an, QS. Ibrahim: 7 — janji Allah tentang tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur.
* Al-Qur’an, QS. An-Nahl: 18 — manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat Allah.
* Al-Qur’an, QS. Yusuf: 86 — Nabi Ya’qub AS mengadukan kesedihan dan kesusahannya hanya kepada Allah.
* Shahih Bukhari dan Shahih Muslim — hadis tentang melihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia agar tidak meremehkan nikmat Allah.
* Shahih Muslim — hadis tentang menakjubkannya keadaan seorang mukmin: ketika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapat kesusahan ia bersabar.
Tidak ada komentar