Oleh: Ali SyariefApakah Tuhan itu pro-ustaz?
Pertanyaan ini terdengar nakal. Bahkan mungkin bagi sebagian orang dianggap kurang sopan. Tetapi justru pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang perlu sesekali kita ajukan agar agama tidak kehilangan ruhnya hanya karena terlalu banyak manusia yang berbicara atas nama Tuhan.
Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa diri-Nya hanya dapat dikenal melalui ustaz. Tuhan juga tidak pernah memberikan sertifikat kepada seseorang untuk menjadi pemilik agama.
Yang terjadi adalah sesuatu yang sangat manusiawi: wahyu Tuhan kemudian ditafsirkan oleh manusia. Dari tafsir lahirlah mazhab, kitab, fatwa, tradisi, lembaga, otoritas, dan akhirnya struktur sosial keagamaan.
Di sinilah persoalannya bermula.
Al-Qur’an adalah wahyu. Tetapi pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an adalah hasil kerja manusia.
Keduanya tidak selalu sama.
Seorang ulama bisa sangat alim. Seorang ustaz bisa sangat fasih. Seorang kiai bisa memiliki kedalaman spiritual. Kita tentu menghormati mereka. Tetapi mereka tetap manusia.
Mereka bukan Tuhan.
Karena itu, pendapat seorang ustaz tidak otomatis menjadi pendapat Tuhan. Fatwa seorang ulama tidak dengan sendirinya menjadi wahyu. Tafsir seorang manusia tidak boleh ditempatkan pada kedudukan yang sama dengan Al-Qur’an.
Masalahnya, dalam perjalanan sejarah, batas antara wahyu dan tafsir kadang menjadi kabur.
Kita kemudian menyaksikan sesuatu yang ironis: agama yang seharusnya mendekatkan manusia kepada Tuhan justru terkadang membuat manusia takut kepada manusia lain.
Takut dianggap sesat.
Takut dianggap tidak islami.
Takut berbeda pendapat.
Takut bertanya.
Takut membaca Al-Qur’an dengan pemahamannya sendiri.
Seolah-olah Tuhan begitu jauh sehingga manusia harus terlebih dahulu melewati sejumlah pintu yang dijaga oleh para pemegang otoritas agama.
Di titik tertentu, agama bahkan dapat berubah menjadi sebuah “lahan”.
Ada ceramah, ada kajian, ada undangan, ada honor, ada lembaga, ada industri buku, ada media dakwah, ada popularitas, bahkan ada figur agama yang memiliki pengikut layaknya seorang selebritas.
Tentu mencari nafkah melalui profesi keagamaan tidak otomatis salah. Ulama dan ustaz juga manusia yang membutuhkan kehidupan yang layak.
Yang perlu dipersoalkan adalah ketika agama menjadi komoditas dan otoritas agama menjadi sumber kekuasaan.
Ketika sebuah persoalan agama semakin rumit, semakin dibutuhkan pula orang yang dianggap mampu menjelaskannya.
Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sederhana dapat menjadi sangat rumit.
Berbuat baik membutuhkan seribu penjelasan.
Menolong orang miskin harus terlebih dahulu diperdebatkan hukumnya.
Menghormati manusia lain harus dicari dalilnya.
Menjaga kebersihan harus dicari siapa ulama yang mengatakan.
Bahkan untuk mencintai sesama manusia pun terkadang kita merasa perlu mendapatkan legitimasi agama.
Padahal Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk melegalisasi kebaikan.
Kebaikan tetaplah kebaikan, bahkan sebelum seorang ustaz mengatakannya sebagai kebaikan.
Justru salah satu karakter kuat Al-Qur’an adalah ajakannya kepada manusia untuk berpikir.
Berulang kali manusia diajak memperhatikan alam, sejarah, kehidupan, manusia, pergantian siang dan malam, perjalanan bangsa-bangsa, dan berbagai tanda kebesaran Tuhan.
Ada ajakan untuk menggunakan akal.
Ada ajakan untuk membaca.
Ada ajakan untuk mengambil pelajaran.
Artinya, agama tidak dirancang untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang hanya menunggu instruksi dari orang lain.
Manusia diberi akal.
Manusia diberi hati.
Manusia diberi kemampuan untuk memilih.
Dan karena itu manusia juga diberi tanggung jawab.
Jika seluruh tanggung jawab berpikir kita serahkan kepada ustaz, lalu untuk apa Tuhan memberikan akal?
Ustaz boleh membantu kita memahami.
Ulama boleh memberikan perspektif.
Guru agama boleh mengajarkan ilmu.
Tetapi tidak seorang pun boleh mengambil alih hubungan batin manusia dengan Tuhannya.
Barangkali persoalannya bukan pada ustaznya.
Persoalannya adalah ketika manusia mulai memperlakukan ustaz seolah-olah ia tidak mungkin salah.
Di sinilah kultus otoritas muncul.
Apa pun yang dikatakan dianggap benar.
Apa pun yang dikritik dianggap sebagai serangan terhadap agama.
Apa pun yang berbeda dianggap sebagai penyimpangan.
Padahal sejarah Islam sendiri menunjukkan betapa kaya dan beragamnya tradisi pemikiran Islam.
Para ulama berbeda pendapat.
Para pemikir berdebat.
Para ahli tafsir memiliki pendekatan yang berbeda.
Perbedaan itu tidak otomatis berarti salah satu pihak membenci Tuhan.
Justru perbedaan menunjukkan bahwa manusia sedang berusaha memahami sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Karena itu, mungkin kita perlu mengembalikan posisi ustaz kepada tempat yang semestinya:
Ustaz adalah guru, bukan pemilik agama.
Ulama adalah penafsir, bukan pemilik kebenaran mutlak.
Fatwa adalah pendapat manusia, bukan wahyu baru.
Tuhan tidak membutuhkan birokrasi untuk menerima doa manusia.
Seorang miskin yang menangis di tengah malam tidak harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi seorang ustaz agar doanya sampai kepada Tuhan.
Seorang manusia yang sedang mencari kebenaran tidak harus memiliki gelar keagamaan agar Tuhan mendengar pencariannya.
Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat sangat personal.
Itulah sebabnya doa begitu intim.
Manusia berbicara kepada Tuhan dengan bahasa yang mungkin bahkan tidak dipahami oleh orang lain.
Di situlah agama menjadi indah.
Tetapi keindahan itu dapat hilang ketika manusia terlalu sibuk membuat pagar.
Pagar antara orang alim dan orang awam.
Pagar antara yang dianggap suci dan yang dianggap biasa.
Pagar antara kelompok yang merasa paling benar dan kelompok yang dianggap sesat.
Akhirnya, manusia sibuk mempertahankan pagar, sementara lupa mengapa Tuhan membangun jalan.
Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an bukan berarti membuang ulama.
Bukan berarti setiap orang merasa dirinya paling pintar dan tidak membutuhkan ilmu.
Sebaliknya, kita tetap membutuhkan orang-orang berilmu.
Tetapi ilmu seharusnya membantu manusia menjadi dewasa di hadapan Tuhan, bukan menjadi semakin bergantung kepada manusia.
Ulama yang baik bukanlah ulama yang membuat umat takut kepadanya.
Ulama yang baik adalah yang membuat manusia semakin mengenal Tuhan, semakin mencintai kehidupan, semakin menghargai manusia, semakin jujur, semakin adil, semakin bersih, dan semakin rendah hati.
Kalau setelah belajar agama seseorang justru semakin mudah membenci, menghina, menghakimi, dan merasa dirinya paling suci, barangkali ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Sebab agama mestinya bukan sekadar membuat manusia lebih banyak mengetahui Tuhan, tetapi juga membuat manusia lebih baik sebagai manusia.
Pada akhirnya, Tuhan tidak pro-ustaz.
Tuhan juga tidak pro-kiai.
Tuhan tidak pro-ulama.
Tuhan bukan milik kelompok tertentu.
Tuhan adalah Tuhan.
Dan manusia—betapapun tinggi ilmunya—tetaplah manusia.
Mungkin sudah waktunya kita membedakan dengan jernih antara agama dan tafsir tentang agama, antara wahyu dan pendapat manusia, antara Tuhan dan orang yang berbicara tentang Tuhan.
Sebab ketika manusia terlalu mudah berkata, “Ini kehendak Tuhan,” kita perlu bertanya dengan rendah hati:
Benarkah itu kehendak Tuhan, atau sebenarnya hanya kehendak kita yang sedang kita beri nama Tuhan?
Pertanyaan itu penting.
Sebab mungkin masalah terbesar agama bukan karena Tuhan terlalu jauh.
Mungkin justru karena manusia terlalu banyak berdiri di antara Tuhan dan manusia.
Dan mungkin jalan pulang kepada agama yang sederhana, indah, dan membebaskan adalah dengan menyingkirkan ego manusia itu—agar manusia kembali dapat mendengar suara Tuhannya dengan hati yang lebih jernih.
Tidak ada komentar