
Pidato adalah monolog di atas panggung
Ia berjalan dari mulut pembicara menuju telinga yang mendengar
Tepuk tangan datang ketika kata-kata selesai
Lalu panggung kembali menjadi ruang yang sunyi
Barangkali itulah sebabnya banyak orang menyukai panggung
Di sana seseorang dapat berbicara tanpa segera menjawab sanggahan
Ia menyampaikan pencapaian dan orang-orang mendengarkan
Tidak ada perdebatan yang berlangsung di antara kalimat-kalimatnya
Menulis adalah perkara yang berbeda
Ketika sebuah gagasan diletakkan di atas kertas
Ia tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penulisnya
Orang lain bebas membaca dan mempertanyakan isinya
Maka mulailah menulis jika ada yang ingin diperjuangkan
Jangan biarkan pikiran hanya selesai di atas podium
Tuliskan apa yang kau yakini dengan seluruh keberanian
Biarkan masyarakat menguji apakah pikiran itu benar
Tan Malaka menulis Madilog dengan pikiran yang tajam dan gelisah
Soekarno menuangkan gagasan perjuangannya dalam Di Bawah Bendera Revolusi
Hatta menulis Demokrasi Kita ketika arah republik sedang dipertaruhkan
Sutan Sjahrir meninggalkan Perjuangan Kita sebagai suara dari sebuah zaman
Panggung akan kosong setelah acara selesai
Lampu dipadamkan dan kursi-kursi kembali diam
Suara yang tadi memenuhi ruangan ikut hilang bersama waktu
Tetapi tulisan masih dapat dibaca ketika penulisnya telah pergi
Aku memilih pena yang bersedia diperdebatkan
Bukan kata-kata yang hidup hanya dari tepuk tangan
Sebab tulisan dapat menyeberangi umur seorang manusia
Dan satu pikiran yang ditulis dapat menemukan jalan menuju zaman
Bogor 19 Agustus 2026
Novita Sari Yahya
Tidak ada komentar