Oleh: Iwan “Terpal” Setiawan
Pengamat Politik dan Alumni HI UMY
Politik Indonesia berulang kali menghadirkan fenomena yang sulit dijelaskan hanya melalui perhitungan mesin partai. Di tengah dominasi elite politik, terkadang muncul sosok yang bergerak lebih cepat dibandingkan struktur organisasi, lebih kuat dari strategi kampanye konvensional, dan lebih dekat dengan imajinasi masyarakat. Pada Pilpres 2014, sosok itu adalah Joko Widodo (Jokowi). Jelang Pilpres 2029, sejumlah gejala menunjukkan munculnya fenomena yang mulai dikaitkan banyak kalangan dengan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Tentunya setiap tokoh mempunyai latar belakang, watak dan situasi politik yang berbeda-beda. Namun dalam ilmu politik, ada pola yang sering terulang. Ketika seorang pemimpin mendapat perhatian publik yang luas, memiliki komunikasi yang dianggap dekat dengan masyarakat, dan mendapat dukungan organik dari bawah, maka lahirlah apa yang disebut dengan momentum politik.
Fenomena ini mulai terlihat pada diri Kang Dedi Mulyadi.
Sejak tahun 2013 hingga awal tahun 2014, Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Hampir setiap hari aktivitasnya menjadi headline media nasional. Televisi, surat kabar, media online, dan media sosial terus menampilkan berbagai aktivitas.
Blusukan merupakan simbol kepemimpinan. Kesederhanaan menjadi identitas. Cara bicaranya yang lugas membuat orang merasakan kedekatan emosional.
Lembaga survei konsisten menempatkan Jokowi sebagai sosok dengan elektabilitas tertinggi. Dukungan tidak hanya datang dari partai politik, namun juga tumbuh melalui ribuan relawan yang bekerja secara sukarela. Mereka mencetak kaos, memasang baliho, membuat video, mengelola media sosial, dan melakukan sosialisasi door to door.
Gelombang dukungan inilah yang akhirnya mengantarkan Jokowi menjadi calon presiden dan memenangkan Pilpres 2014.
Kini, lebih dari satu dekade kemudian, sejumlah gejala serupa mulai terlihat pada Kang Dedi Mulyadi.
Sebagai Gubernur Jawa Barat, KDM hampir setiap hari hadir di berita nasional dan daerah. Aktivitasnya di lapangan, gaya komunikasinya yang sederhana, dan berbagai kebijakan yang menyentuh langsung masyarakat menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari.
Menariknya, perhatian masyarakat terhadap KDM tidak hanya dibangun oleh media arus utama.
Media sosial sebenarnya telah menjadi salah satu sumber kekuatan utamanya.
Video-video yang diunggah KDM hampir selalu mendapat jutaan views. Kolom komentar dipenuhi perbincangan yang meriah. Interaksi terjadi secara alami dengan tingkat keterlibatan yang tinggi.
Di era komunikasi digital, kondisi seperti ini memiliki nilai politik yang sangat besar.
Algoritme media sosial cenderung menonjolkan konten yang mendapat respon tinggi dari pengguna. Akibatnya, penyebaran pesan-pesan politik terjadi secara berantai tanpa harus bergantung sepenuhnya pada iklan politik yang mahal.
Fenomena tersebut membuat nama Kang Dedi Mulyadi semakin dikenal di berbagai daerah.
Padahal, berdasarkan informasi yang beredar melalui pemberitaan yang disebut-sebut berasal dari hasil survei lembaga kredibel dan disebutkan dalam bocoran pemberitaan Tempo, dalam simulasi pertanyaan terbuka yang mengadu nama Prabowo Subianto dengan Kang Dedi Mulyadi, elektabilitas KDM disebut-sebut berada di atas Prabowo. Informasi ini belum dipublikasikan secara resmi sehingga perlu dipandang sebagai klaim yang tidak dapat diverifikasi secara independen.
Terlepas benar atau tidaknya hasil survei tersebut, menariknya isu tersebut sendiri menjadi perbincangan di ranah publik.
Di tingkat akar rumput, dukungan terhadap KDM juga menunjukkan karakter yang berbeda.
Di Kota Bogor misalnya, muncul berbagai foto Kang Dedi Mulyadi yang diunggah secara sukarela oleh publik. Tak sedikit angkutan umum atau truk yang memajang foto KDM tanpa ada penjelasan bahwa itu bagian dari kampanye resmi.
Pemandangan seperti ini mengingatkan kita pada masa ketika citra Jokowi mulai bermunculan di berbagai sudut kota jauh sebelum pasangan calon presiden ditetapkan.
Fenomena ini menunjukkan rasa memiliki masyarakat terhadap suatu tokoh.
Dalam teori komunikasi politik, dukungan yang tumbuh secara sukarela seringkali mempunyai daya tahan yang lebih kuat dibandingkan mobilisasi yang dibangun melalui instruksi organisasi.
Suatu sore di sebuah jalan raya Kota Bogor, sebuah truk melintas perlahan di tengah padatnya lalu lintas. Di bagian belakang kendaraan terdapat gambar Kang Dedi Mulyadi yang berukuran cukup besar. Tidak ada atribut partai. Tidak ada nomor urut. Tidak ada slogan kampanye.
Sekadar foto yang menarik perhatian pengguna jalan. Beberapa pengemudi menangkapnya menggunakan ponsel mereka.
Di tempat lain, kedai kopi menjadi ruang diskusi yang memperbincangkan berbagai video Kang Dedi Mulyadi yang beredar di media sosial. Ada yang membahas kunjungannya ke desa-desa, ada pula yang membahas cara bicaranya yang dinilai mudah dipahami.
Perbincangan seperti ini menunjukkan bagaimana media digital telah beralih ke ruang kampanye yang berlangsung setiap hari tanpa jadwal resmi.
Dukungan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pertemuan publik.
Percakapan warga merupakan bagian dari proses pembentukan opini publik.
Kekuatan terbesar Kang Dedi Mulyadi saat ini ada di Jawa Barat.
Provinsi dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia ini merupakan arena politik yang krusial dalam setiap pemilihan presiden.
Jika seorang tokoh mampu menguasai basis dukungan di Jabar, maka peluangnya untuk menjadi pemain utama politik nasional akan semakin besar.
Namun menariknya, kepopuleran KDM tidak berhenti di Jawa Barat saja.
Berbagai kunjungan ke luar daerah menunjukkan namanya mulai dikenal di banyak wilayah Indonesia.
Saat berkunjung ke Papua misalnya, masyarakat tampak antusias menyambutnya hingga meminta foto bersama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa paparan media sosial mampu menembus batas geografis.
Orang yang belum pernah bertemu langsung merasa mengenal suatu karakter melalui layar ponsel.
Ini merupakan perubahan besar dalam komunikasi politik Indonesia.
Jika dulu televisi menjadi penentu popularitas, kini media sosial pun tak kalah besar pengaruhnya.
Namun popularitas belum tentu berbanding lurus dengan kemenangan politik.
Sejarah Indonesia juga menunjukkan banyak tokoh yang mempunyai tingkat popularitas tinggi, namun gagal mengubahnya menjadi pemenang pemilu.
Popularitas harus dibarengi dengan organisasi politik yang solid, dukungan partai, jaringan relawan, kemampuan membangun koalisi, dan strategi kampanye yang efektif.
Pilpres merupakan kontestasi nasional yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari mesin partai, logistik politik, kekuatan koalisi, hingga dinamika isu yang berkembang menjelang hari pemungutan suara.
Oleh karena itu, jika Kang Dedi Mulyadi benar-benar digadang-gadang maju ke Pilpres 2029, perjalanan politiknya masih panjang.
Banyak dinamika yang dapat mengubah peta politik nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Namun yang menarik untuk dicermati adalah munculnya pola yang mengingatkan masyarakat akan fenomena Jokowi jelang Pilpres 2014.
Popularitas yang terus meningkat, eksposur media yang tinggi, komunikasi yang erat dengan masyarakat, dan dukungan organik dari akar rumput merupakan kombinasi yang dalam sejarah politik Indonesia menjadi modal penting menuju kemenangan.
Akankah sejarah terulang kembali dalam bentuk yang berbeda?
Jawabannya tentu akan ditentukan oleh perjalanan politik beberapa tahun ke depan. Yang jelas Kang Dedi Mulyadi menjadi salah satu sosok yang banyak diperbincangkan dalam perbincangan politik nasional, dan fenomena tersebut patut mendapat perhatian ketika membaca arah politik Indonesia jelang Pilpres 2029.
Tidak ada komentar