Oleh: Paman BED
Sejarah hampir tidak pernah bergerak hanya karena alasan yang tampak di permukaan. Di balik slogan-slogan suci, simbol-simbol keagamaan, bahkan peperangan yang mengatasnamakan Tuhan, sering kali tersembunyi kepentingan yang jauh lebih duniawi: perebutan kekuasaan, dominasi ekonomi, penguasaan jalur perdagangan, dan perluasan pengaruh politik.
Fenomena semacam ini bukanlah ciri khas zaman modern. Al-Qur’an telah merekam pola yang sama sejak ribuan tahun silam. Tokoh-tokoh seperti Fir’aun dan Abrahah bukan sekadar figur sejarah, melainkan representasi watak kekuasaan yang menjadikan agama, simbol, dan kekuatan negara sebagai instrumen untuk mempertahankan dominasi.
Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada kisah tentang kemenangan atau kekalahan mereka. Yang lebih penting adalah pelajaran bahwa sekuat apa pun strategi manusia, semuanya memiliki batas ketika berhadapan dengan kehendak Allah SWT.
Fir’aun bukan hanya seorang raja Mesir. Dalam perspektif Al-Qur’an, ia melambangkan kekuasaan absolut yang memadukan militer, birokrasi, ekonomi, propaganda, bahkan legitimasi spiritual menjadi satu instrumen penindasan.
Ia tidak sekadar memerintah rakyatnya, tetapi juga mengklaim otoritas tertinggi atas kehidupan mereka.
Allah mengabadikan kesombongannya:
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(QS. An-Nazi’at: 24)
Penindasan terhadap Bani Israil bukan semata-mata konflik agama. Di baliknya terdapat kalkulasi politik yang jelas. Kelompok yang dianggap berpotensi mengancam stabilitas kekuasaan harus dilemahkan dengan segala cara: pembunuhan bayi laki-laki, perbudakan sistematis, hingga eksploitasi tenaga kerja.
Fir’aun tampaknya telah menguasai seluruh instrumen negara. Akan tetapi, ketika Allah menetapkan akhir kisahnya, ia tidak dikalahkan oleh kerajaan lain atau pasukan yang lebih besar. Ia justru ditenggelamkan oleh laut yang sebelumnya ia yakini dapat dikuasainya.
Pesan yang muncul sangat jelas: kekuasaan manusia, betapapun absolutnya, tetap memiliki batas.
Berabad-abad kemudian, pola serupa muncul di Jazirah Arab.
Abrahah al-Ashram, gubernur Yaman di bawah kekuasaan Habasyah, membangun gereja megah Al-Qullays di Sana’a. Secara lahiriah, proyek itu tampak sebagai bentuk pengabdian agama. Namun banyak mufasir klasik dan sejarawan melihat bahwa pembangunan tersebut juga mengandung dimensi politik dan ekonomi yang sangat kuat.
Saat itu, Makkah bukan hanya pusat ibadah bangsa Arab.
Ka’bah telah menjadi simpul peradaban yang mempertemukan berbagai kabilah, pusat perdagangan lintas wilayah, tempat diplomasi, sekaligus sumber legitimasi sosial-politik.
Menguasai pusat ziarah berarti menguasai arus manusia.
Menguasai arus manusia berarti menguasai perdagangan.
Dan menguasai perdagangan berarti memperbesar pengaruh politik.
Karena itulah, ketika bangsa Arab tetap datang ke Ka’bah dan mengabaikan Al-Qullays, proyek besar Abrahah kehilangan daya tarik strategisnya.
Ekspedisi militer menuju Makkah pun menjadi pilihan.
Dalam perspektif sejarah, motif keagamaan mungkin menjadi salah satu faktor. Namun di baliknya tampak kepentingan yang jauh lebih luas: mengalihkan pusat ekonomi dan pengaruh dari Makkah ke Sana’a.
Allah berfirman:
“Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?”
(QS. Al-Fil: 2)
Al-Qur’an menggunakan istilah kaid, bukan sekadar “tipu daya” dalam pengertian sederhana. Dalam bahasa Arab, kaid menunjuk pada strategi yang disusun secara matang, sistematis, dan berlapis untuk mencapai tujuan tertentu.
Jika dikaitkan dengan konteks sejarah, kaid Abrahah tidak hanya berupa pengerahan pasukan bergajah.
Ia mencakup keseluruhan rancangan besar:
Dengan demikian, sasaran sesungguhnya bukan sekadar bangunan Ka’bah.
Yang hendak dihancurkan adalah seluruh ekosistem peradaban yang telah tumbuh di sekelilingnya.
Karena itu, ketika Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan kaid mereka fi taḍlīl (sia-sia), yang digagalkan bukan hanya operasi militernya, melainkan keseluruhan desain strategisnya.
Abrahah gagal menghancurkan Ka’bah.
Gagal memindahkan pusat ziarah.
Gagal menguasai jalur perdagangan.
Gagal memperoleh legitimasi politik.
Yang runtuh bukan sekadar tentaranya, melainkan seluruh ambisi yang menopang ekspedisi tersebut.
Pola yang sama berulang dalam banyak kisah Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Mereka membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Allah adalah sebaik-baik Pembalas makar.”
(QS. Ali ‘Imran: 54)
Para mufasir menjelaskan bahwa ketika kata makar disandarkan kepada Allah, maknanya bukanlah tipu daya sebagaimana dilakukan manusia. Yang dimaksud ialah bahwa Allah menggagalkan rekayasa orang-orang zalim melalui cara-cara yang berada di luar jangkauan perhitungan mereka.
Manusia bebas menyusun strategi.
Namun manusia tidak pernah menjadi penguasa hasil akhirnya.
Di situlah letak perbedaan antara ikhtiar manusia dan kehendak Allah.
Pertanyaan ini sering muncul.
Bukankah pada masa Abrahah, Ka’bah dipenuhi ratusan berhala?
Benar.
Mayoritas masyarakat Arab ketika itu telah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim. Mereka tetap mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Mahatinggi, tetapi menjadikan berhala sebagai perantara ibadah.
Lalu mengapa Allah tetap melindungi Ka’bah?
Karena Allah menjaga rumah-Nya, bukan membenarkan penyimpangan manusia.
Kesucian Ka’bah berasal dari tujuan pembangunannya oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai pusat tauhid. Penyimpangan manusia tidak menghapus kemuliaan tempat tersebut.
Di balik peristiwa itu, Allah juga sedang menyiapkan rencana yang jauh lebih besar.
Menurut tradisi Islam, peristiwa Tahun Gajah terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Seolah-olah Allah terlebih dahulu menunjukkan bahwa rumah suci itu berada dalam penjagaan-Nya sebelum Rasul terakhir hadir untuk memurnikan kembali ajaran tauhid.
Inilah pesan mendasar Surah Al-Fil.
Fir’aun bebas memilih.
Abrahah bebas memilih.
Setiap manusia diberi kebebasan menentukan jalan hidupnya.
Namun kebebasan memilih tidak identik dengan kebebasan menentukan hasil.
Islam mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas pilihannya, sedangkan keputusan akhir tetap berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Karena itu, sejarah bukanlah rangkaian kebetulan.
Ia adalah panggung tempat ikhtiar manusia bertemu dengan ketetapan Allah.
Fir’aun membangun kekuasaan yang tampak tak tergoyahkan.
Abrahah menyusun operasi politik, ekonomi, militer, dan simbol agama secara terpadu.
Semua tampak kokoh dalam hitungan manusia.
Namun semuanya kandas ketika bertabrakan dengan kehendak Allah.
Pertanyaan inilah yang patut direnungkan.
Bukankah hingga kini agama masih kerap dijadikan sumber legitimasi politik?
Bukankah kepentingan ekonomi sering dibungkus dengan bahasa moral dan idealisme?
Bukankah perebutan sumber daya, jalur perdagangan, serta pengaruh geopolitik acap kali dikemas sebagai perjuangan identitas atau ideologi?
Tentu setiap peristiwa memiliki konteks sejarah yang berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan kisah Fir’aun atau Abrahah. Namun pola dasarnya tampak berulang: ketika simbol-simbol suci digunakan untuk menopang kepentingan kekuasaan, manusia cenderung menganggap strateginya akan berhasil.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa sehebat apa pun perencanaan itu, hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Sejarah boleh berganti tokoh.
Nama boleh berubah.
Teknologi boleh semakin canggih.
Namun kecenderungan manusia untuk menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir tetap menjadi ujian yang berulang.
Surah Al-Fil bukan sekadar kisah tentang burung Ababil yang menghancurkan pasukan bergajah.
Ia adalah pelajaran tentang keterbatasan seluruh rekayasa manusia.
Fir’aun gagal mempertahankan kekuasaannya.
Abrahah gagal memindahkan pusat peradaban yang telah Allah tetapkan.
Keduanya menunjukkan bahwa kekuatan politik, ekonomi, militer, bahkan simbol agama, tidak akan mampu mengubah arah sejarah apabila bertentangan dengan kehendak Allah.
Pada akhirnya, sejarah mengajarkan bahwa yang menentukan bukanlah siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang berjalan di atas kebenaran yang diridhai Allah.
Bagi para pemimpin, kisah Fir’aun dan Abrahah mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat untuk memanipulasi agama demi kepentingan politik ataupun ekonomi.
Bagi masyarakat, kisah ini mengajarkan pentingnya membedakan antara ajaran agama yang suci dan kepentingan manusia yang kerap membungkus dirinya dengan simbol-simbol kesalehan.
Dan bagi setiap orang beriman, Surah Al-Fil menghadirkan ketenangan: sehebat apa pun rekayasa manusia, sejarah tetap berada dalam genggaman Allah SWT.
Jangan silau oleh kemegahan kekuasaan.
Jangan gentar oleh besarnya kekuatan yang tampak di hadapan mata.
Sebab sejarah berulang kali menunjukkan bahwa bangunan yang berdiri di atas kesombongan dan kezaliman pada akhirnya akan runtuh oleh hukum Allah sendiri.
Rencana manusia selalu memiliki batas.
Sedangkan rencana Allah tidak pernah gagal.
Versi ini lebih kuat secara akademik karena membedakan secara jelas antara fakta sejarah, penafsiran para mufasir, dan refleksi moral, sehingga argumentasinya lebih kokoh serta tetap proporsional ketika menghubungkan kisah Al-Qur’an dengan dinamika politik dan ekonomi pada masa kini.
Tidak ada komentar