Ada sesuatu yang menarik—bahkan paradoksal—dari guncangan minyak yang ditimbulkan oleh perang Iran.
Secara teori, perang yang mengganggu lalu lintas minyak di kawasan Teluk, terutama melalui Selat Hormuz, seharusnya menghasilkan satu konsekuensi yang hampir pasti: harga minyak melonjak liar.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ia adalah salah satu urat nadi energi dunia. Ketika konflik mengganggu jalur tersebut, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari berpotensi terdampak—setara kira-kira seperlima konsumsi minyak dunia. IMF menyebut gangguan ini sebagai salah satu gangguan terbesar terhadap pasar minyak dalam beberapa dekade.
Namun sesuatu yang tidak lazim terjadi.
Harga minyak memang melonjak pada awal konflik, tetapi kemudian tidak bertahan pada tingkat yang secara teoritis seharusnya terjadi. Pada pertengahan 2026, harga Brent bahkan telah turun kembali ke kisaran sekitar US$80-an per barel.
Pertanyaannya sederhana:
Mengapa dunia tidak mengalami krisis minyak yang jauh lebih parah?
Salah satu jawabannya adalah China.
Dan di sinilah muncul sebuah tesis yang menarik:
China mungkin sedang menjadi “OPEC baru”.
Bukan karena China memproduksi minyak sebanyak Arab Saudi atau negara-negara OPEC+. Bukan pula karena Beijing memiliki kartel minyak seperti OPEC.
Justru sebaliknya.
China memiliki kekuatan karena ia adalah konsumen dan importir minyak terbesar di dunia.
Selama puluhan tahun, OPEC dan sekutunya memiliki kemampuan memengaruhi harga karena mereka menguasai sisi pasokan. Mereka dapat menaikkan atau menurunkan produksi, sehingga jumlah minyak yang tersedia di pasar dunia berubah.
China memperlihatkan bahwa kekuatan yang sama dapat muncul dari sisi yang berlawanan:
bukan dengan mengatur berapa banyak minyak yang keluar dari pasar, tetapi dengan menentukan berapa banyak minyak yang masuk ke dalam permintaan pasar.
Seorang eksekutif perdagangan minyak bahkan menggambarkannya dengan kalimat yang provokatif:
“China is the new OPEC.”
Selama beberapa dekade, mekanisme pasar minyak dunia relatif mudah dipahami.
OPEC dan kemudian OPEC+ mempunyai kekuatan untuk mengurangi atau menambah produksi. Ketika produksi dikurangi sementara permintaan tetap tinggi, harga naik. Sebaliknya, ketika pasokan ditambah atau permintaan melemah, harga cenderung turun.
Kekuatan itu bersumber dari kemampuan mengendalikan marginal barrel—barel tambahan yang menentukan keseimbangan pasar.
Tetapi perang Iran memperlihatkan sesuatu yang baru.
Ketika pasokan global terganggu, China ternyata memiliki kemampuan untuk mematikan sebagian keran permintaannya sendiri.
Jika China tetap mengimpor minyak dalam jumlah normal ketika pasokan global terguncang, tekanan terhadap pasar akan jauh lebih besar. Tetapi ketika China mengurangi pembelian, menggunakan stok yang sudah dimilikinya, dan menyesuaikan aktivitas penyulingannya, sebagian tekanan tersebut menghilang.
Axios, mengutip analis minyak Bloomberg Intelligence, mencatat bahwa jika impor China tetap berada pada tingkat sebelum perang, harga minyak kemungkinan besar akan jauh lebih tinggi. China bahkan disebut sebagai salah satu alasan terbesar mengapa harga minyak tidak melonjak lebih tinggi selama gangguan di Selat Hormuz.
Dengan kata lain:
China tidak perlu memproduksi minyak untuk memengaruhi harga minyak.
Ia cukup mengubah perilakunya sebagai pembeli.
Tentu saja, kemampuan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.
China telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.
Beijing membangun cadangan minyak strategis dalam skala yang sangat besar. Data U.S. Energy Information Administration memperkirakan China memiliki sekitar 1,4 miliar barel cadangan strategis pada akhir 2025, dan jumlah tersebut meningkat lagi pada awal 2026.
China bahkan diperkirakan menambahkan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari ke cadangan strategisnya sepanjang 2025.
Ini bukan sekadar kebijakan penyimpanan komoditas.
Ini adalah kebijakan geopolitik.
Bayangkan sebuah negara yang selama bertahun-tahun membeli minyak ketika harga relatif rendah, menyimpannya dalam cadangan yang besar, kemudian ketika terjadi krisis pasokan global, negara tersebut tidak perlu langsung berebut minyak di pasar internasional.
Ia dapat mengatakan:
“Saya tidak perlu membeli sebanyak biasanya.”
Kalimat itu sangat sederhana.
Tetapi dampaknya terhadap pasar minyak global sangat besar.
Sebab pasar minyak tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak minyak yang tersedia.
Ia juga ditentukan oleh:
siapa yang bersedia membeli minyak tersebut.
Selama abad ke-20, negara-negara penghasil minyak mempunyai posisi yang luar biasa kuat.
Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Rusia, dan negara-negara produsen lainnya memiliki sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia:
minyak.
China memasuki permainan dengan model yang berbeda.
Ia tidak memiliki cadangan minyak sebesar negara-negara Teluk.
Tetapi China memiliki sesuatu yang hampir sama pentingnya:
pasar.
China adalah konsumen energi raksasa. Karena itu, perubahan kecil dalam perilaku konsumsinya dapat memengaruhi harga komoditas dunia.
Inilah sebabnya hubungan antara China dan pasar minyak tidak lagi bisa dipahami sekadar sebagai hubungan antara pembeli dan penjual.
China telah menjadi salah satu aktor yang mampu menentukan keseimbangan pasar.
Jika Beijing membeli lebih banyak, harga mendapat tekanan ke atas.
Jika Beijing menahan pembelian, harga mendapat tekanan ke bawah.
Jika Beijing mengisi cadangan, ia menciptakan permintaan tambahan.
Jika Beijing menggunakan cadangan, ia dapat mengurangi kebutuhan untuk membeli minyak di pasar internasional.
Ini adalah bentuk kekuasaan yang berbeda.
OPEC menguasai supply side. China semakin berpengaruh pada demand side.
Perang Iran menjadi semacam eksperimen raksasa.
Bayangkan jika China tetap membeli minyak seperti biasa.
Pasokan dari kawasan Teluk terganggu.
Selat Hormuz terganggu.
Pengiriman minyak berkurang.
Tetapi pada saat yang sama, importir terbesar dunia tetap masuk ke pasar dan berebut minyak yang tersedia.
Maka kita akan memiliki dua tekanan sekaligus:
Supply shock + demand yang tetap tinggi.
Harga minyak hampir pasti akan mengalami tekanan yang jauh lebih besar.
Tetapi China justru melakukan hal yang berbeda.
Permintaannya melemah dan sebagian kebutuhan dapat ditutup dari stok yang telah dibangun sebelumnya.
IMF menyimpulkan bahwa kombinasi penurunan permintaan, tambahan produksi dari sumber lain, dan penarikan stok membantu meredam lonjakan harga pada fase awal perang. Namun IMF juga memperingatkan bahwa sebagian besar bantalan tersebut telah digunakan, sehingga semakin lama gangguan berlangsung, semakin sempit ruang perlindungan pasar.
Ini penting.
China bukanlah penyelamat pasar minyak secara permanen.
China hanya menunjukkan bahwa permintaan dapat menjadi instrumen geopolitik.
Selama bertahun-tahun kita terbiasa melihat dunia minyak dalam formula sederhana:
OPEC → produksi → harga.
Tetapi formula tersebut semakin tidak lengkap.
Kini kita harus menambahkan:
China → permintaan → harga.
Dan di sinilah terjadi perubahan besar dalam struktur kekuasaan energi dunia.
OPEC+ masih sangat penting. Arab Saudi dan Rusia tetap mempunyai kapasitas produksi yang luar biasa besar. Pada Agustus 2026, misalnya, anggota inti OPEC+ sepakat menaikkan produksi sekitar 188.000 barel per hari untuk September sebagai bagian dari pengembalian pemotongan produksi sebelumnya. Namun dalam kondisi gangguan Selat Hormuz, dampak langsung kenaikan tersebut tetap terbatas.
Artinya, OPEC masih memiliki senjata.
Tetapi senjata itu tidak lagi bekerja dalam ruang kosong.
Ia harus memperhitungkan:
China.
Ini yang membuat kekuatan China menarik.
OPEC harus mengadakan pertemuan.
Harus mengumumkan target produksi.
Harus menyampaikan keputusan.
Pasar kemudian bereaksi.
China tidak perlu melakukan semua itu.
Keputusan sebuah kilang China untuk mengurangi pembelian minyak mentah saja sudah dapat memengaruhi pasar.
Keputusan perusahaan energi China untuk menggunakan stok domestik juga memiliki dampak.
Perubahan strategi ekspor produk minyak China juga ikut mengubah keseimbangan regional.
Dengan demikian, kekuatan China bisa bekerja secara lebih diam-diam.
Tidak ada konferensi pers. Tidak ada deklarasi kuota. Tidak ada pernyataan “kami akan menurunkan produksi sebesar sekian barel”.
Yang ada hanyalah perubahan perilaku pembelian.
Tetapi pasar membaca perubahan itu.
Dan harga bergerak.
Di sinilah kita harus melihat cadangan minyak China bukan semata-mata sebagai persediaan.
Cadangan strategis pada dasarnya adalah asuransi nasional.
Ketika harga murah, negara mengisi.
Ketika terjadi krisis, negara dapat menggunakan.
Namun dalam kasus China, cadangan itu juga memberikan sesuatu yang lebih:
Fleksibilitas geopolitik.
Negara yang tidak memiliki cadangan cukup besar akan panik ketika pasokan terganggu.
Ia harus membeli.
Berapa pun harganya.
Negara yang memiliki cadangan besar mempunyai pilihan.
Ia bisa menunggu.
Dan dalam pasar komoditas, kemampuan untuk menunggu adalah kekuatan.
Ada faktor lain yang sering luput.
China bukan hanya membangun cadangan minyak.
China juga mengubah struktur konsumsi energinya.
Pertumbuhan kendaraan listrik, elektrifikasi transportasi, energi terbarukan, jaringan listrik, dan penggunaan batu bara untuk pembangkitan listrik membuat ketergantungan China terhadap minyak untuk seluruh sistem energinya tidak sama dengan negara-negara maju yang lebih bergantung pada minyak dan gas.
Dengan kata lain, China sedang melakukan dua hal sekaligus:
meningkatkan kemampuan bertahan terhadap gangguan minyak,
dan
Mengurangi pertumbuhan kebutuhan minyaknya.
IEA memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2026 justru turun sekitar 420.000 barel per hari dibandingkan 2025, menjadi sekitar 104 juta barel per hari—jauh lebih rendah daripada proyeksi sebelum perang.
Ini menunjukkan bahwa shock energi tidak selalu menghasilkan kenaikan permintaan.
Dalam situasi tertentu, shock justru mempercepat perubahan perilaku.
Menyebut China sebagai “OPEC baru” memang menarik.
Tetapi secara teknis, analogi itu tidak sempurna.
China tidak menguasai produksi minyak dunia sebagaimana OPEC+.
China juga tidak dapat menentukan harga sesuka hati.
Kemampuan China memengaruhi pasar memiliki batas.
Jika konflik berlangsung terlalu lama dan pasokan global benar-benar terputus dalam skala besar, cadangan pada akhirnya akan menipis.
IMF sudah memberikan peringatan mengenai hal tersebut: sebagian buffer yang membantu pasar melewati fase awal shock telah digunakan. Jika pasokan tidak segera pulih, kemampuan dunia untuk menyerap gangguan akan semakin terbatas.
Jadi, China bukan “OPEC baru” dalam arti harfiah.
Ia lebih tepat disebut:
OPEC dari sisi permintaan.
Atau bahkan:
bank sentral informal bagi permintaan minyak dunia.
Di sinilah terdapat paradoks yang menarik.
China adalah negara yang sangat membutuhkan minyak.
Tetapi justru karena kebutuhan tersebut sangat besar, China memiliki insentif kuat untuk memastikan harga minyak tidak menjadi terlalu tinggi.
China adalah importir minyak terbesar.
Karena itu, ketika harga minyak melonjak, China adalah salah satu pihak yang paling dirugikan.
Maka kepentingan strategis Beijing sebenarnya sederhana:
minyak harus tersedia, tetapi jangan terlalu mahal.
Inilah alasan mengapa China mempunyai kepentingan untuk membangun cadangan, melakukan diversifikasi sumber pasokan, meningkatkan hubungan dengan produsen minyak, memperluas penggunaan energi non-minyak, dan mempercepat elektrifikasi.
Semua kebijakan tersebut pada akhirnya mengarah kepada satu tujuan:
mengurangi kerentanan terhadap harga minyak dunia.
Perubahan ini jauh lebih besar daripada sekadar cerita tentang minyak.
Ia menunjukkan perubahan struktur kekuasaan ekonomi dunia.
Pada abad ke-20, kekuatan energi terutama berada di tangan mereka yang memiliki sumber daya alam.
Pada abad ke-21, kekuatan semakin tersebar kepada mereka yang menguasai:
China memiliki hampir semuanya.
Itulah sebabnya pengaruhnya jauh lebih besar daripada sekadar angka impor minyak.
Perang Iran memperlihatkan bahwa pasar minyak dunia telah memasuki fase baru.
Kita tidak lagi hidup dalam dunia di mana produsen minyak secara sepihak menentukan nasib konsumen.
Kita memasuki dunia di mana konsumen terbesar juga memiliki kemampuan untuk menentukan nasib produsen.
OPEC dapat menutup keran produksi.
China dapat menutup keran permintaan.
Keduanya sama-sama mampu menggerakkan harga.
Tetapi China memiliki satu keunggulan tambahan:
ia dapat menggunakan cadangan yang sudah dibangun sebelum krisis terjadi.
Dan itu mengubah kalkulasi.
Ketika China memilih untuk tidak membeli, minyak yang seharusnya masuk ke China tetap berada di pasar global.
Ketika China menggunakan cadangannya, ia tidak perlu berebut minyak dengan negara lain.
Ketika China mempercepat kendaraan listrik, sebagian kebutuhan minyak transportasi menghilang.
Ketika China membangun energi alternatif, sebagian ketergantungan struktural terhadap minyak berkurang.
Dan ketika China melakukan semua itu dalam skala ekonomi terbesar di dunia, dampaknya tidak lagi bersifat domestik.
Ia menjadi global.
Karena itu, kalimat “China is the new OPEC” sebaiknya tidak dipahami secara harfiah.
China bukan produsen minyak terbesar.
China bukan kartel.
China tidak memiliki kuota produksi seperti OPEC+.
Namun secara konseptual, kalimat tersebut menangkap sesuatu yang sangat penting:
Kekuatan dalam pasar minyak tidak lagi hanya berada di tangan mereka yang menguasai pasokan. Kekuatan juga berada di tangan mereka yang dapat mengatur permintaan.
Dan dalam kategori itu, tidak ada negara yang lebih penting daripada China.
Perang Iran akhirnya memperlihatkan sebuah kenyataan yang mungkin akan menjadi semakin penting dalam dekade mendatang:
negara yang paling menentukan harga minyak dunia belum tentu negara yang memproduksi minyak paling banyak.
Bisa jadi justru negara yang paling mampu mengatakan:
“Hari ini saya membeli.”
atau,
“Hari ini saya tidak perlu membeli.”
Itulah kekuatan baru China.
Dan jika tren ini terus berlanjut, masa depan pasar minyak dunia mungkin tidak lagi hanya ditentukan di Riyadh, Abu Dhabi, Moskow, atau Wina.
Sebagian keputusan terpenting akan ditentukan di Beijing.
Sumber : The Economist, dll
Tidak ada komentar