
Manusia sering kali diukur dengan ukuran yang terlalu sempit: nilai akademik, gelar, pekerjaan, jabatan, atau kemampuan menguasai pengetahuan. Seolah-olah setelah seseorang lulus sekolah, memperoleh gelar, mendapatkan pekerjaan, lalu mencapai usia tertentu, perjalanan belajarnya pun selesai.
Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar angka di rapor atau gelar di belakang nama.
Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, merasakan, berkomunikasi, bergerak, berimajinasi, mencipta, bekerja dengan tangan, memahami lingkungan, dan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang nyata. Karena itulah, perjalanan hidup sesungguhnya dapat dilihat sebagai sebuah proses panjang untuk terus menemukan dan mengeksplorasi kemampuan yang ada di dalam diri.
Itulah yang sedang saya lakukan.
Saya memulainya dari kata.
Saya mengeksplorasi seni melalui penciptaan lirik lagu yang berasal dari puisi. Bagi saya, mengubah puisi menjadi lirik bukan sekadar memindahkan kalimat ke dalam lagu. Puisi memiliki ritme, metafora, emosi, suasana, dan imajinasi. Ketika ia berubah menjadi lirik, semua unsur itu harus menemukan bentuk musikalnya.
Dari kata, saya bergerak menuju sastra. Saya menulis artikel, opini, cerpen, puisi, hingga novel. Menulis, bagi saya, bukan sekadar menyusun kata menjadi kalimat. Menulis adalah cara berpikir.
Seorang penulis harus mengamati kehidupan, memahami persoalan, menemukan hubungan antargagasan, memilih diksi, membangun argumentasi atau cerita, kemudian mengubah semuanya menjadi sesuatu yang dapat dipahami orang lain. Novel bahkan membawa proses itu lebih jauh karena di dalamnya terdapat penelitian, imajinasi, karakter, dialog, konflik, latar sejarah, ruang, dan waktu.
Dengan demikian, menulis novel bukan hanya latihan sastra. Ia juga merupakan latihan memahami manusia.
Dari sastra, saya kemudian memasuki wilayah gagasan dan perancangan program.
Saya tidak ingin gagasan hanya berhenti sebagai percakapan atau angan-angan. Gagasan perlu dirumuskan menjadi sesuatu yang sistematis. Sebuah program harus memiliki persoalan yang hendak dijawab, tujuan, sasaran, metode, tahapan pelaksanaan, dan ukuran keberhasilan.
Di titik ini saya belajar bahwa kreativitas tidak cukup hanya dengan imajinasi. Kreativitas membutuhkan struktur agar gagasan dapat bergerak dari kepala menuju kenyataan.
Eksplorasi kemudian membawa saya ke wilayah politik dan pemikiran kebangsaan, antara lain melalui penulisan kembali Manifesto Parindra.
Politik bagi saya bukan semata-mata perebutan jabatan atau kekuasaan. Politik berhubungan dengan hampir seluruh kehidupan manusia: pendidikan, ekonomi, hukum, kebudayaan, kesehatan, ilmu pengetahuan, lingkungan, teknologi, dan kesejahteraan rakyat.
Menulis sebuah manifesto berarti mencoba mempertemukan berbagai pengetahuan untuk merumuskan gagasan tentang negara dan masyarakat.
Saya kemudian mengeksplorasi dunia pageant.
Saya mencoba membangun konsep pageant yang memiliki tampilan sinematik dan cita rasa internasional, tetapi tetap membawa kebudayaan dan kepribadian Indonesia.
Bagi saya, pageant tidak seharusnya berhenti pada mahkota, busana, dan panggung. Ia dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya, membangun kepemimpinan, mengembangkan ekonomi kreatif, memperkuat diplomasi budaya, sekaligus memperlihatkan karakter sebuah bangsa melalui manusia yang menjadi representasinya.
Dari desain budaya, saya kemudian memasuki seni peran dan teater.
Teater mengajarkan sesuatu yang berbeda dari menulis. Dalam tulisan, kata menjadi medium utama. Di atas panggung, tubuh menjadi bahasa. Suara, ekspresi, gestur, gerakan, emosi, dan penguasaan ruang semuanya menjadi bagian dari komunikasi.
Seorang pemain bukan hanya harus menghafal dialog. Ia harus mampu memahami karakter dan mengendalikan tubuhnya untuk menghidupkan karakter tersebut.
Dengan demikian, perjalanan eksplorasi itu bergerak dari kata menuju suara; dari tulisan menuju gagasan; dari gagasan menuju program; dari pemikiran politik menuju desain budaya; dan akhirnya dari desain menuju tubuh dan panggung.
Namun ternyata perjalanan itu belum selesai.
Sekarang saya ingin kembali kepada sesuatu yang lebih elementer: tangan.
Saya mulai mengeksplorasi kemampuan motorik halus melalui melukis dan menata bunga.
Sekilas, keduanya mungkin tampak sederhana. Tetapi semakin saya menjalaninya, semakin saya menyadari bahwa aktivitas tersebut merupakan pertemuan antara pikiran, mata, tangan, koordinasi gerak, dan rasa estetika.
Ketika melukis, mata mengamati objek. Pikiran membentuk gagasan visual. Tangan menggerakkan kuas. Jari mengatur tekanan dan arah gerakan. Pada saat yang sama, perhatian diarahkan kepada garis, warna, bentuk, ruang, dan komposisi.
Menata bunga pun demikian.
Kita mengamati ukuran, warna, tekstur, bentuk, proporsi, dan ruang. Kita memilih bunga, menentukan posisinya, mengatur keseimbangan, kemudian melihat apakah seluruh komposisi menghasilkan harmoni.
Di sana saya menemukan sesuatu yang menarik: pikiran dapat diterjemahkan menjadi tindakan konkret melalui tubuh dan tangan.
Karena itu, kemampuan motorik tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan kemampuan intelektual. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.
Pikiran menghasilkan gagasan.
Tubuh dan tangan membantu mewujudkannya.
Seseorang dapat memiliki imajinasi yang sangat luas. Tetapi ketika ia belajar menggambar, membuat kerajinan, memainkan alat musik, memasak, menata bunga, atau melakukan pekerjaan tangan lainnya, ia memperoleh pengalaman untuk menerjemahkan gagasan abstrak menjadi tindakan konkret.
Tentu saja, bukan berarti setiap aktivitas tangan secara otomatis membuat seseorang lebih cerdas. Yang penting adalah proses yang menyertainya: mengamati, merencanakan, mencoba, melakukan kesalahan, mengoreksi, dan menciptakan.
Di sinilah saya kemudian melihat hubungan yang menarik dengan pendidikan anak usia dini.
WHO menempatkan masa awal kehidupan sebagai periode penting bagi perkembangan fisik dan kognitif. Pedoman mengenai aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan tidur bagi anak di bawah lima tahun menunjukkan pentingnya aktivitas fisik dalam perkembangan dan kesehatan anak.
Sejumlah kerangka pendidikan prasekolah di negara lain juga memperlihatkan pentingnya memberikan ruang bagi perkembangan anak melalui berbagai pengalaman. Pedoman pendidikan taman kanak-kanak di China, misalnya, mencakup kesehatan, bahasa, sosial, sains, dan seni, dengan permainan sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Kerangka pendidikan prasekolah Rusia pun memiliki program pendidikan federal yang menempatkan pendidikan anak usia dini dalam kerangka perkembangan yang lebih luas.
Saya tidak melihat contoh-contoh tersebut sebagai alasan untuk menyalin sistem pendidikan negara lain secara mentah. Yang lebih penting adalah prinsip yang dapat kita renungkan: pendidikan anak tidak semestinya hanya mengembangkan kepala, tetapi juga tubuh, perasaan, bahasa, kreativitas, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia.
Anak membutuhkan pengetahuan.
Tetapi anak juga membutuhkan gerak.
Anak membutuhkan bahasa.
Tetapi anak juga membutuhkan seni.
Anak membutuhkan kemampuan berpikir.
Tetapi anak juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba.
Anak membutuhkan guru.
Tetapi anak juga membutuhkan ruang untuk menemukan sesuatu melalui pengalaman langsung.
Dengan perspektif itu, pendidikan seharusnya menjadi proses membentuk manusia yang utuh.
Indonesia pun memiliki kebutuhan yang sama. Kita tidak harus menyalin sistem negara lain. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana memberi ruang kepada anak untuk berkembang sesuai tahap perkembangannya: bermain, bergerak, bereksperimen, mencipta, berkomunikasi, dan berpikir.
Pada akhirnya, persoalan pendidikan bukanlah memilih antara otak atau tangan.
Bukan pula memilih antara pengetahuan dan keterampilan.
Yang kita perlukan adalah hubungan di antara semuanya.
Pengetahuan memberikan dasar.
Pikiran mengolahnya.
Perasaan memberikan makna.
Tubuh memberikan pengalaman.
Tangan membantu mewujudkannya.
Dan kreativitas menghubungkan semuanya menjadi sebuah karya.
Karena itu, sekarang saya ingin melanjutkan perjalanan dengan melukis dan menata bunga.
Setelah sekian lama mengeksplorasi kata, saya ingin mengeksplorasi warna.
Setelah mengeksplorasi gagasan, saya ingin mengeksplorasi bentuk.
Setelah mengeksplorasi suara dan panggung, saya ingin mendengarkan bahasa yang lebih sunyi: bahasa tangan.
Saya tidak tahu apakah lukisan pertama saya akan sempurna. Saya juga tidak tahu apakah rangkaian bunga pertama saya akan memiliki komposisi yang ideal.
Tetapi saya tidak sedang mengejar kesempurnaan pada percobaan pertama.
Saya sedang mengeksplorasi diri.
Sebab belajar tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah, memperoleh gelar, bekerja, atau mencapai usia tertentu.
Belajar adalah proses sepanjang hayat.
Selama manusia masih memiliki rasa ingin tahu, selalu ada ruang baru yang dapat ditemukan di dalam dirinya.
Itulah sebabnya saya tidak melihat perjalanan hidup saya sebagai kumpulan aktivitas yang terpisah-pisah: menulis puisi, menciptakan lirik, menulis artikel, cerpen dan novel, merancang program, menyusun manifesto, merancang pageant, bermain teater, melukis, dan menata bunga.
Semuanya berada dalam satu garis besar yang sama:
Mengeksplorasi kemampuan manusia.
Saya ingin pikiran terus berpikir.
Saya ingin hati terus merasakan.
Saya ingin tubuh terus bergerak.
Saya ingin tangan terus mencipta.
Dan saya ingin terus belajar sesuatu yang belum pernah saya lakukan.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya apa yang diketahuinya.
Manusia juga adalah apa yang mampu ia pikirkan, rasakan, kerjakan, ciptakan, dan wariskan kepada kehidupan.
Dan mungkin, justru di situlah makna sesungguhnya dari belajar sepanjang hayat: bukan menjadi seseorang yang merasa telah mengetahui semuanya, melainkan tetap memiliki keberanian untuk berkata,
“Masih ada sesuatu yang belum saya coba.”
Tidak ada komentar