Dibalik rimbunnya pepohonan dan hamparan lahan yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, terdapat konflik tajam yang semakin lama semakin meluas. Perselisihan antara petani hutan dan Fraksi PDIP DPRD Lamongan terkait pengelolaan lahan dan penanaman jagung kini menjadi fokus tajam: apakah wakil rakyat justru menghalangi jalan warga kecil menuju kesejahteraan?
Rasa kecewa yang meluap-luap kini menyeruak dari wilayah Ngimbang hingga Modo. Para petani yang sekian lama bergelut dengan kerasnya hidup merasa suara mereka sengaja dipinggirkan. Mereka akhirnya meminta bantuan Jaringan Masyarakat Lamongan (JAMAL) sebagai satu-satunya cara agar bisa berhadapan langsung dengan wakil rakyat yang duduk di kursi empuk.
“Hutannya milik siapa? Bukankah itu milik rakyat? Apakah masyarakat di sini sejahtera? Masih banyak yang miskin!” seru Tamin, petani asal Ngimbang dengan nada penuh tantangan. Pertanyaannya langsung menyentuh inti permasalahan: “Kalau kita hanya ingin memperjuangkan kehidupan yang lebih layak, pertanyaannya adalah, sebenarnya mereka bekerja untuk siapa? Untuk rakyat atau untuk kepentingan mereka sendiri?”
Bagi warga di pinggir hutan, sikap dewan tersebut terasa sangat ironis – seolah-olah upaya warga memanfaatkan Kawasan Hutan Pengelolaan Khusus untuk melepaskan diri dari belenggu kemiskinan justru dianggap sebagai dosa besar.
Tak hanya diam, Sholihin dari Modo menekankan keberanian masyarakat: “Kami siap membuka semua fakta di hadapan mereka! Agar mereka yang bersembunyi di balik meja rapat tahu persis betapa pahitnya hidup kami di lapangan!”
Namun hingga saat ini, pintu komunikasi seolah tertutup rapat. JAMAL yang mengirimkan surat resmi sejak 7 Juli 2026 masih dihadapkan pada sikap diam yang mencurigakan.
“Belum ada jawaban sama sekali. Padahal ini hak masyarakat untuk didengarkan,” tegas Khoirul Huda dari JAMAL. Meski tak dihiraukan, tekadnya tetap teguh: kasus ini tidak akan dibiarkan mati begitu saja. Kami akan terus memantaunya hingga suara para penggarap hutan terdengar, dan pertanyaan besar ini terjawab di publik.” Jurnalis Hadi Hoy
Tidak ada komentar