Pimpinan Daerah (PDM) Muhammadiyah Kota Bogor menggelar kegiatan Darul Arqam sebagai upaya penguatan ideologi, wawasan keislaman dan komitmen kader terhadap Persatuan Muhammadiyah. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (19/7/2026) ini dihadiri oleh pimpinan cabang, pimpinan cabang, organisasi otonom (Ortom), dan kader Muhammadiyah se-Kota Bogor.
Ketua PDM Kota Bogor, Ustaz Maizar Madsury, Lc., M.Pd., mengatakan Darul Arqam merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah membangun kader yang memiliki pemahaman Islam yang kuat dan mampu menjawab tantangan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran kami di Darul Arqam ini merupakan wujud hidayah Allah agar kami terus memperkuat komitmen terhadap Persatuan Muhammadiyah,” ujarnya.
Menurut Maizar, sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak pernah bergeser dari visi besarnya sebagai gerakan dakwah yang menghadirkan solusi terhadap permasalahan masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Ia mengutip firman Allah SWT yang menyebut umat Islam adalah umat terbaik yang menyerukan kebaikan dan mencegah keburukan. Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi landasan perjuangan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad.
“Di usianya yang sudah menginjak 114 tahun, Persatuan ini terus berkomitmen untuk menjadi penerang umat dan negara. Kader, anggota, majelis, lembaga, organisasi otonom, dan cabang merupakan satu kesatuan yang menentukan arah perjuangan Muhammadiyah,” ujarnya.
Maizar juga menjelaskan perkembangan amal usaha Muhammadiyah di Kota Bogor. Menurutnya, PDM Kota Bogor terus mengembangkan berbagai sektor pelayanan masyarakat, mulai dari pendidikan hingga kesehatan.
Saat ini Muhammadiyah Kota Bogor telah mengelola pendidikan mulai dari tingkat TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), SMP hingga SMA Muhammadiyah. Selain itu, PDM juga sedang mempersiapkan pengembangan Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di Kota Bogor.
Di bidang kesehatan, Muhammadiyah Kota Bogor juga terus memperkuat pelayanan kliniknya yang ditargetkan berkembang menjadi rumah sakit.
“Alhamdulillah, Klinik Muhammadiyah telah melayani sekitar 14 ribu pasien. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan hingga berkembang menjadi rumah sakit,” ujarnya.
Maizar menambahkan, Muhammadiyah memiliki tata kelola organisasi yang kuat melalui AD/ART sehingga menjadi contoh dalam pengelolaan organisasi kemasyarakatan di Indonesia.
Ia juga menyinggung hasil Muktamar Muhammadiyah di Surakarta yang melahirkan Risalah Islam Progresif sebagai haluan gerakan Muhammadiyah.
“Islam yang maju berlandaskan pada tauhid yaitu keesaan Allah SWT. Seluruh gerakan Muhammadiyah tumbuh karena motivasi beribadah kepada Allah,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Drs. Sopa, M.Ag., mengajak peserta memahami sejarah tajdid atau reformasi yang dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Dijelaskannya, sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan terlebih dahulu membangun sekolah sebagai sarana utama mencerdaskan umat.
“KH Ahmad Dahlan tidak langsung mendirikan pesantren, tapi memilih mendirikan pesantren. Bahkan ia dicap sebagai ‘kiai kafir’ karena mengadopsi metode pendidikan modern saat itu,” ujarnya.
Menurut Prof Sopa, keberanian KH Ahmad Dahlan memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan merupakan sebuah langkah revolusioner yang kemudian menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah hingga saat ini.
“Beliau mengambil sistem pendidikan modern yang berkembang saat itu, namun tetap menggunakan nilai-nilai Islam sebagai landasannya. Sekolah menjadi media membangun peradaban umat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang sangat memikirkan masa depan Muhammadiyah, bahkan saat ia sedang sakit sebelum meninggal.
Sepeninggal KH Ahmad Dahlan, perjuangan Muhammadiyah dilanjutkan oleh KH Ibrahim agar gerakan dakwah dan pendidikan terus berkembang.
Prof Sopa juga menyoroti pandangan progresif KH Ahmad Dahlan terhadap peran perempuan yang diwujudkan melalui penetapan Aisyiyah sebagai mitra strategis laki-laki dalam dakwah.
Ia menambahkan, pada masa Orde Baru, Muhammadiyah dikenal memiliki banyak sumber daya manusia terpelajar yang berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
“Bahkan Presiden Soeharto menghibahkan tanah kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tanpa konferensi pers. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang baik dalam pengembangan pendidikan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua PDM Kota Bogor periode 2015–2020, Drs. Madropi, M.Pd., menjelaskan Darul Arqam merupakan sistem pengkaderan utama organisasi otonomi Muhammadiyah. Sedangkan bagi unsur pimpinan Muhammadiyah, program pembentukan kadernya dilakukan melalui Baitul Arqam.
Menurutnya, tujuan utama Darul Arqam adalah membentuk Tri Kader Muhammadiyah, yakni kader muslim, kader persatuan, dan kader nasional.
“Melalui Darul Arqam diharapkan lahir kader-kader yang mampu menjadi pionir, pelaksana dan penyempurna Usaha Amal (AUM) Muhammadiyah,” ujarnya.
Madropi menegaskan, keberlangsungan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas pembentukan kader yang dilakukan secara berkesinambungan.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai ideologi Muhammadiyah, namun juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat dan memantapkan sumbangsih Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan pemberdayaan masyarakat di Kota Bogor.
Tidak ada komentar