xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Ketika Hutan Dibakar, Kita Beramai-ramai Meminta Hujan

waktu baca 4 menit
Selasa, 25 Agu 2026 11:38 14 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Oleh: Ali Syarief

Pagi itu, langit Banjarmasin seperti sedang mengirimkan sebuah pesan.

Kabut asap tipis menyelimuti udara. Kemarau belum juga beranjak. Di berbagai tempat, api masih menjadi ancaman. Dan di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin, ribuan manusia berkumpul, menundukkan kepala, mengangkat tangan ke langit.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Mereka datang untuk salat istisqa.

Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Wakil Gubernur, jajaran Forkopimda, para ulama dan masyarakat ikut larut dalam doa. Salat digelar sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan, di tengah kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan yang terus mengancam.

Bahkan disebutkan, hingga 23 Agustus 2026, telah terjadi 1.818 kejadian karhutla dengan perkiraan luas lahan terbakar mencapai 8.620 hektare.

Pemandangan itu mengharukan.

Tetapi sekaligus menyisakan sebuah pertanyaan yang jauh lebih dalam:

Mengapa kita baru sungguh-sungguh memohon hujan setelah hutan terbakar?

Tidak ada yang salah dengan salat istisqa.

Justru sebaliknya, di situlah manusia mengakui keterbatasannya. Ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan manusia: langit, awan, hujan, dan kehidupan.

Namun agama juga mengajarkan bahwa doa tidak boleh menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab.

Kita boleh meminta hujan kepada Tuhan.

Tetapi pada saat yang sama, kita harus bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah kita lakukan terhadap bumi sebelum kita meminta hujan?

Hutan dibakar.

Hutan dirambah.

Pohon-pohon ditebang.

Lahan dibuka.

Gambut dikeringkan.

Daerah resapan berubah menjadi permukiman dan beton.

Sungai dipersempit dan dicemari.

Lalu ketika bumi mulai panas, ketika udara berubah menjadi asap, ketika tanah kehilangan air, ketika sumur mengering, ketika sawah menunggu hujan—kita menengadah ke langit.

“Ya Allah, turunkanlah hujan.”

Bukankah ada ironi di sana?

Kita merusak rumah air, lalu meminta air datang.

Kita membakar hutan, lalu memohon hujan untuk memadamkan api.

Kita menghancurkan pepohonan yang membantu menjaga siklus air, lalu bertanya mengapa langit begitu lama menahan hujan.

Barangkali inilah saatnya salat istisqa tidak hanya dimaknai sebagai ritual meminta hujan.

Tetapi juga sebagai ritual pertobatan ekologis.

Sebab hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit.

Hujan adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan.

Ada hutan yang menjaga tanah. Ada pepohonan yang menyimpan air. Ada sungai yang mengalirkannya. Ada rawa dan gambut yang menahannya. Ada tanah yang menyerapnya.

Ketika satu demi satu bagian dari sistem itu kita rusak, jangan heran jika kemudian kita berhadapan dengan dua ekstrem yang sama-sama menyakitkan:

ketika hujan turun, banjir; ketika hujan tidak turun, kekeringan dan kebakaran.

Karena itu, doa saja tidak cukup.

Gubernur H. Muhidin sendiri menyerukan agar masyarakat ikut melakukan pencegahan karhutla, sementara petugas dari TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran dan relawan terus berjibaku di lapangan.

Inilah seharusnya makna ikhtiar.

Ada manusia yang memadamkan api.

Ada manusia yang berdoa meminta hujan.

Dan ada manusia yang harus memastikan api tidak kembali dinyalakan.

Ketiganya harus berjalan bersama.

Jangan sampai salat istisqa berubah menjadi semacam “jalan pintas spiritual”: ketika alam rusak, kita berdoa; setelah hujan turun, kita kembali mengeksploitasi alam.

Jika hujan benar-benar turun setelah doa, jangan hanya mengucapkan Alhamdulillah.

Lanjutkan dengan menanam pohon.

Jaga hutan.

Lindungi lahan gambut.

Pulihkan daerah resapan.

Awasi pembakaran lahan.

Tindak mereka yang dengan sengaja merusak lingkungan.

Sebab syukur kepada Tuhan bukan hanya diucapkan dengan lidah. Syukur juga harus diwujudkan dalam cara kita memperlakukan ciptaan-Nya.

Ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada kekeringan.

Yaitu ketika manusia kehilangan rasa bersalah setelah menghancurkan sumber kehidupan.

Dan mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menunggu hujan.

Yaitu mengubah perilaku manusia.

Sebab Tuhan telah memberikan bumi dengan segala hukumnya. Kita diberi akal untuk memahami, tangan untuk merawat, dan hati untuk merasa iba.

Kalau kemudian kita merusaknya, lalu datang ke masjid sambil menangis meminta hujan, mungkin yang perlu pertama-tama dibasahi bukan tanah yang kering.

Tetapi hati manusia yang telah lama kering dari rasa tanggung jawab.

Maka salat istisqa di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang ribuan orang yang meminta hujan.

Ia harus menjadi pertanyaan bagi kita semua:

Setelah hujan turun nanti, apakah kita akan menjaga hutan?

Sebab hujan mungkin bisa memadamkan api hari ini.

Tetapi hanya perubahan perilaku manusia yang bisa mencegah api kembali menyala esok hari.

Dan jangan sampai suatu hari nanti kita kembali berkumpul, kembali menengadah, kembali menangis, kembali meminta hujan—sementara di belakang kita, hutan kembali dibakar.

Kita tidak bisa terus-menerus menghancurkan bumi, lalu meminta Tuhan memperbaiki apa yang kita rusak.

Doa harus naik ke langit.

Tetapi pertobatan harus turun ke bumi.

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna terdalam dari salat istisqa.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg