xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Negeri yang Kaya, Rakyatnya Miskin

waktu baca 3 menit
Rabu, 19 Agu 2026 10:37 14 Catra


Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Ada sebuah ironi yang sulit dijelaskan kepada anak cucu kita kelak.

Singapura hanya sebuah titik kecil di peta. Tidak punya hutan luas, tidak punya tambang emas, tidak punya minyak yang berlimpah, bahkan hampir tidak punya tanah untuk digarap. Sumber daya alamnya sangat terbatas. Tetapi rakyatnya hidup relatif sejahtera.

China memiliki penduduk yang sangat besar—lebih dari satu miliar manusia. Beban penduduknya luar biasa. Namun negara itu mampu mengubah jumlah manusia menjadi kekuatan ekonomi, industri, teknologi, perdagangan, dan pasar dunia.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Lalu kita menoleh ke Indonesia.

Tanahnya luas. Lautnya luas. Hutan pernah begitu luas. Minyak, gas, batu bara, nikel, emas, tembaga, kelapa sawit, hasil laut, tanah pertanian—nyaris seperti gudang kekayaan yang tidak pernah habis.

Penduduknya lebih dari 280 juta jiwa. Salah satu populasi terbesar di dunia.

Kalau kekayaan alam adalah modal, dan jumlah manusia adalah tenaga sekaligus pasar, mestinya Indonesia sudah menjadi salah satu negeri paling makmur di dunia.

Tetapi anehnya, kita masih sibuk membicarakan kemiskinan.

Singapura tidak punya SDA, tetapi punya tata kelola.
China punya manusia dalam jumlah raksasa, tetapi mampu mengubahnya menjadi kekuatan.
Indonesia punya SDA dan manusia sekaligus—tetapi mengapa hasil akhirnya sering hanya menjadi rebutan?

Inilah satire terbesar republik ini:

Kita tidak kekurangan kekayaan. Kita hanya sering kekurangan cara mengelolanya.

Indonesia kadang seperti seseorang yang memiliki rumah besar, kebun luas, tambang di belakang rumah, laut penuh ikan, tetapi setiap pagi masih meminjam uang untuk membeli sarapan.

Yang kaya adalah tanahnya.

Yang besar adalah populasinya.

Yang sibuk menghitung keuntungan adalah mereka yang berada di sekitar kekayaan itu.

Sementara rakyatnya disuruh bersabar.

Sabar ketika harga naik.

Sabar ketika lapangan kerja sulit.

Sabar ketika pendidikan mahal.

Sabar ketika pelayanan publik buruk.

Dan tentu saja, sabar ketika para elite kembali mengatakan:

“Indonesia negara kaya.”

Barangkali masalah kita memang bukan kekayaan.

Masalah kita adalah siapa yang menikmati kekayaan itu.

Singapura memberi pelajaran bahwa negara kecil tidak harus menjadi negara kecil dalam hal kesejahteraan.

China memberi pelajaran bahwa penduduk besar tidak harus menjadi beban. Manusia dapat menjadi mesin produksi, inovasi, konsumsi, dan kemajuan.

Indonesia seharusnya belajar dari keduanya.

Sebab Indonesia memiliki sesuatu yang bahkan tidak dimiliki Singapura: ruang yang luas dan sumber daya alam yang luar biasa.

Dan kita memiliki sesuatu yang tidak mungkin dibeli dengan uang: ratusan juta manusia.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi memalukan:

Jika modal kita sebesar itu, mengapa sebagian besar rakyat belum menikmati hasilnya secara sebanding?

Mungkin suatu hari sejarah tidak akan bertanya berapa banyak tambang yang kita punya.

Sejarah akan bertanya:

Ke mana kekayaan itu pergi?

Dan lebih penting lagi:

Mengapa negeri yang begitu kaya membutuhkan rakyatnya untuk terus belajar hidup sederhana?

Ironinya, Indonesia mungkin bukan negara miskin.

Kita hanya terlalu sering membuat rakyat miskin di negeri yang kaya.

Itulah satire paling pahit tentang republik ini.

Bukan karena Tuhan pelit memberi kekayaan.

Tetapi karena manusia terlalu pandai membagi kekayaan—tanpa selalu membaginya kepada rakyat.



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg