xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg

Zulhas Sinyal dan Peta Parpol Pendukung KDM di Pilpres 2029

waktu baca 5 menit
Sabtu, 25 Jul 2026 10:51 26 Catra

Oleh: Iwan “Terpal” Setiawan, Pengamat Politik dan Alumni HI UMY

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Pernyataan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan atau Zulhas yang menyebut Kang Dedi Mulyadi (KDM) akan “mengguncang Indonesia 2029” menarik perhatian publik. Ucapan tersebut tidak hanya bisa dimaknai sebagai pujian terhadap sosok kepala daerah yang sedang berada di puncak popularitas, namun juga bisa dibaca sebagai sinyal politik yang patut diwaspadai. Dalam dunia politik, setiap pernyataan tokoh partai besar hampir selalu memiliki dimensi strategis, apalagi jika menyangkut tokoh yang berpotensi menjadi calon presiden.

Zulhas merupakan politisi berpengalaman yang telah melalui berbagai fase perpolitikan nasional. Ia memahami elektabilitas dan popularitas merupakan modal penting dalam pemilu presiden. Ketika seorang ketua partai memberikan apresiasi secara terbuka kepada tokoh yang bukan dari partainya, tentu masyarakat akan bertanya apakah itu hanya sekedar bentuk apresiasi atau justru mulai membuka peluang politik yang lebih besar.

Saat ini, masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih panjang. Berbagai program prioritas masih terus berjalan dan perjalanan pemerintah tentunya akan menentukan bagaimana penilaian masyarakat jelang pemilu 2029. Namun, dalam politik, partai tidak hanya melihat keadaan saat ini. Mereka mulai melakukan perhitungan jauh sebelum masa pemilu dimulai.

Ads Catra_inline artikel.jpgAds Catra_inline artikel.jpg

Partai politik mempunyai naluri membaca arah angin politik. Mereka terus memantau survei, dinamika publik, kemampuan tokoh membangun komunikasi, dan daya tarik seorang pemimpin di media sosial dan di lapangan. Sosok yang mampu mempertahankan popularitas dalam jangka waktu lama akan menjadi perhatian serius elite partai.

Kang Dedi Mulyadi menjadi salah satu sosok yang kini tengah mendapat sorotan besar. Gaya kepemimpinannya yang dekat dengan masyarakat, pendekatan budaya Sunda yang kental, serta aktivitasnya yang intens di media digital membuat namanya dikenal hingga ke luar Jawa Barat. Popularitas tersebut menjadi modal awal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun popularitas saja tidak cukup untuk memenangkan pemilu presiden. Dalam sistem politik Indonesia, dukungan partai politik masih menjadi faktor penentu. Tanpa sarana politik yang kuat, popularitas sulit diterjemahkan menjadi kemenangan pemilu.

Di sinilah pernyataan Zulhas menjadi menarik. PAN selama ini dikenal sebagai partai yang fleksibel dalam membangun koalisi. Sejak era reformasi, PAN beberapa kali bergabung dengan pemerintahan berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi utama partai adalah mempertahankan pengaruh politik sekaligus memastikan tetap mendapat ruang di pemerintahan.

Jika di tahun-tahun mendatang survei menunjukkan Kang Dedi Mulyadi menjadi sosok paling kompetitif, bukan tidak mungkin PAN menjadi salah satu partai pertama yang memberikan dukungan. Partai tentu ingin menjadi pihak yang menang karena kemenangan memberikan ruang lebih besar untuk menjalankan agenda politik dan pembangunan.

Fenomena serupa juga terjadi di Partai Golkar. Sebagai salah satu partai tertua di Indonesia, Golkar memiliki pengalaman panjang dalam beradaptasi dengan perubahan kekuasaan. Sejarah menunjukkan Golkar mampu mempertahankan eksistensinya di berbagai era pemerintahan.

Golkar mempunyai tradisi politik yang sangat rasional. Pertimbangan peluang menang seringkali menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah koalisi. Oleh karena itu, jika muncul sosok yang memiliki tingkat elektabilitas tinggi dan berpeluang besar memenangkan Pilpres, hampir pasti Golkar akan melakukan kajian mendalam terhadap kemungkinan pemberian dukungan.

Sejarah hubungan Kang Dedi Mulyadi dengan Golkar juga menjadi faktor menarik. Sebelum berkiprah di jalur politik lain, KDM merupakan kader Golkar saat memimpin Kabupaten Purwakarta. Jejak-jejak ini menciptakan hubungan emosional yang mungkin masih melekat pada sebagian elite partai.

Namun, hubungan masa lalu tidak serta merta menentukan pilihan politik di masa depan. Yang lebih menentukan adalah kepentingan strategis masing-masing pihak menjelang tahun 2029.

Dalam sistem multipartai di Indonesia, koalisi sangat cair. Persahabatan politik bisa berubah menjadi persaingan, seperti halnya lawan politik bisa menjadi mitra ketika kepentingan bertemu. Oleh karena itu, konfigurasi koalisi lima tahun menjelang pemilu hampir tidak pernah sama dengan koalisi saat pendaftaran pasangan calon presiden.

Partai-partai akan terus memantau perkembangan pemerintahan Prabowo. Jika tingkat kepuasan masyarakat tetap tinggi dan Presiden Prabowo berhasil melahirkan penerus yang mendapat dukungan luas, maka arah koalisi tentu akan mengikuti kenyataan tersebut. Sebaliknya, jika muncul sosok alternatif dengan elektabilitas lebih tinggi, maka dinamika koalisi bisa berubah secara signifikan.

Dalam kondisi seperti itu, Kang Dedi Mulyadi berpotensi menjadi magnet baru. Ia memiliki citra pemimpin daerah yang dekat dengan rakyat, komunikatif, dan mampu memanfaatkan perkembangan media digital untuk membangun hubungan langsung dengan masyarakat.

Keunggulan ini merupakan aset penting dalam politik modern. Pemilih saat ini semakin banyak mengambil keputusan berdasarkan kedekatan emosional dengan tokoh dibandingkan hanya melihat identitas partai. Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang mempunyai daya tarik pribadi seringkali mendapatkan keuntungan elektoral yang besar.

Namun perjalanan menuju Pilpres 2029 masih panjang. Elektabilitas dapat berubah mengikuti dinamika perekonomian, stabilitas politik, keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan program, atau munculnya tokoh-tokoh baru yang menawarkan alternatif kepemimpinan.

Di sisi lain, Presiden Prabowo tentu berkepentingan untuk memastikan pemerintahan berjalan efektif dan mendapat dukungan masyarakat. Tingkat keberhasilan pemerintahan akan mempengaruhi arah politik nasional menjelang pergantian kepemimpinan selanjutnya.

Bagi partai politik, tujuan utamanya adalah mempertahankan posisi strategis di pemerintahan. Oleh karena itu, pertimbangan siapa yang mempunyai peluang terbesar untuk memenangkan pemilu presiden akan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Ideologi tetap penting sebagai identitas partai, namun perhitungan elektoral juga mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan koalisi.

Pernyataan Zulhas bisa menjadi indikator bahwa elite partai mulai membaca peta politik 2029. Meski belum bisa disimpulkan sebagai pernyataan dukungan, namun pernyataan tersebut menunjukkan nama Kang Dedi Mulyadi sudah masuk radar politik nasional.

Pada akhirnya, arah dukungan partai politik akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan elektabilitas, kemampuan membangun koalisi, kualitas kepemimpinan, dan respon masyarakat terhadap berbagai permasalahan nasional. Partai akan memilih langkah-langkah yang diyakini dapat membawa kemenangan sekaligus menjaga kelangsungan pengaruh politiknya.

Pilpres 2029 masih beberapa tahun lagi, namun proses pembentukannya sebenarnya sudah dimulai hari ini. Pernyataan para elite politik, manuver antar partai, dan munculnya tokoh-tokoh baru merupakan bagian dari proses panjang menuju kontestasi nasional berikutnya. Dalam politik Indonesia, tidak ada koalisi permanen. Yang tersisa hanyalah kebutuhan untuk bertahan hidup, berkembang, dan berada di jalur menuju kekuasaan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google Berita



Source link

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Featured

LAINNYA
xAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpgAds Catra_Floating Kanan-kiri.jpg